RADARMAGELANG.ID, Magelang — Dalam rangka memeriahkan peringatan World Tourism Day sekaligus berkolaborasi dengan perayaan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS), Dinas Pariwisata Kota Magelang bersama panitia menggelar program wisata gratis bertajuk "Ayo ke Magelang, Dolan Ro Jajan" pada Minggu (28/09/2025) pukul 08.00–11.00 WIB.
Kuota peserta terbatas hanya untuk 40 orang dengan rentang usia 17–50 tahun. Pendaftaran dilakukan melalui tautan pada flyer, sementara registrasi ulang wajib dilakukan di Sanden Sport Center sebelum keberangkatan.
Pada pelaksanaannya, panitia menyiapkan dua armada bus.
Bus pertama diisi rombongan sekitar 35 orang yang terdiri dari kepala sekolah serta anggota PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia).
Rute perjalanan mereka meliputi Kampung Tidar Utara dan kawasan ProKlim (Program Kampung Iklim).
Sementara itu, bus kedua diikuti 28 peserta umum yang mendaftar melalui jalur wisata gratis, dengan rute menuju Museum BPK RI dan markas Pemadam Kebakaran Kota Magelang.
Salah satu pemandu wisata, Bambang Supriyanto, mewakili dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menjelaskan, kegiatan ini bukan pertama kali diadakan.
Dalam beberapa bulan terakhir, program serupa sudah berjalan sekitar enam kali, bahkan pernah melibatkan siswa SD hingga harus menyiapkan tiga bus.
"Tujuan pemerintah Kota Magelang adalah menumbuhkan kesadaran wisata sejak dini, baik wisata edukasi maupun wisata sejarah. Harapannya, anak-anak bisa menceritakan kembali pengalaman mereka kepada orang tua sehingga gaungnya semakin meluas," ujarnya.
Rangkaian kunjungan yang disiapkan, kata Bambang, tidak sekadar rekreasi tetapi juga sarana edukasi.
Dari mengenalkan situs bersejarah, fungsi lembaga publik, hingga menanamkan nilai kebangsaan.
Sekaligus memperkuat branding museum dan situs warisan budaya lokal, termasuk memperkenalkan koleksi serta peran institusi seperti Museum BPK RI kepada masyarakat luas.
Meski selalu mendapat sambutan positif, penyelenggara mengakui masih ada tantangan, khususnya terkait pendanaan transportasi.
Menurut Bambang, pernah muncul wacana agar peserta diminta kontribusi kecil, sekitar Rp10.000, untuk menutup biaya bahan bakar jika program ini dilaksanakan secara berkelanjutan.
Dukungan dari komunitas lokal, pelaku wisata, hingga pemilik fasilitas juga dinilai penting agar program terus berjalan.
Selain memberi pengalaman edukatif, kegiatan ini diharapkan dapat berdampak pada ekonomi lokal.
Dengan menonjolkan kuliner, oleh-oleh, serta produk kerajinan, wisata keliling ini sekaligus membuka akses pasar bagi UMKM setempat.
Bambang menegaskan, keterlibatan anak muda dan komunitas merupakan modal utama untuk menggerakkan pariwisata kota secara berkelanjutan. (mg6/mg3/aro)
Editor : H. Arif Riyanto