RADARMAGELANG.ID, Magelang– Tim pengabdian Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Tidar melaksanakan praktik pembelajaran yang menggabungkan konsep Sains, Technology, Engineering, dan Matematika (STEM) dengan kepedulian terhadap aksesibilitas difabel di SMP Negeri 2 Bandongan, Kabupaten Magelang.
Kegiatan ini melibatkan peserta didik kelas IX dalam praktik pembuatan alat peraga bidang miring untuk mengetahui karakteristik ramp yang tepat bagi difabel.
Ketua Tim Pengabdian Nina Agustyaningrum, S.Pd.Si., M.Pd., menjelaskan, kegiatan ini merupakan upaya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek akademis kognitif, tetapi juga membangun kepekaan sosial para peserta didik.
“Melalui aktivitas ini, peserta didik tidak hanya belajar teori tentang bidang miring, tetapi juga mempraktikkan bagaimana menentukan sudut kemiringan dan material yang ideal untuk ramp bagi difabel,” jelas Nina kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Selain Nina, kegiatan ini juga didukung oleh dosen Pendidikan Matematika Arifta Nurjanah, S.Pd., M.Pd. dan Moh. Rikza Muqtada, S.Pd., M.Pd., yang berperan dalam merancang skenario pembelajaran berbasis proyek serta mendampingi siswa dalam analisis matematis hasil percobaan.
Kegiatan turut melibatkan Agista Sintia Dewi Adila, M.Pd., dosen Pendidikan IPA, yang memberikan penguatan pada aspek sains khususnya konsep gaya dan bidang miring.
Tim juga melibatkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, yaitu Muhammad Irvan Ardianto dan Farikha Aulia Rahma, yang berperan aktif mendampingi kelompok siswa selama praktik.
“Mereka membantu menyiapkan alat peraga, mencatat data, hingga memfasilitasi diskusi kelompok,” katanya.
Dijelaskan Nina, pembelajaran STEM yang dilaksanakan berupa pembuatan proyek ramp yang diadaptasi dari pedoman aktivitas STEM yang diterbitkan SEAMEO Regional Centre for QITEP in Mathematics (SEAQiM).
Dalam proyek ini, jelas dia, siswa secara berkelompok membuat desain ramp serta mengidentifikasi hubungan kemiringan ramp dengan beban yang diperlukan untuk menggerakkan mobil mainan sepanjang ramp.
“Siswa menerapkan konsep gradien dan pesawat sederhana dalam aktivitas ini,” terangnya.
Nina menambahkan, alat peraga dibuat dari karton yang dibentuk menjadi bidang miring.
Truk mainan diikat dengan tali, dengan ujung tali diberi gelas kertas berisi kelereng sebagai pemberat.
Percobaan dilakukan dalam empat variasi.
Pertama, tanpa variasi, menggunakan permukaan karton polos.
Kedua, dengan selotip, menempelkan selotip di permukaan karton untuk memberikan tekstur yang berbeda.
Ketiga, dengan pulpen, meletakkan pulpen di ujung karton untuk mengurangi gaya gesek.
Keempat, dengan selotip dan pulpen, menempelkan selotip di permukaan karton untuk memberikan tekstur yang berbeda dan meletakkan pulpen di ujung karton untuk mengurangi gaya gesek.
Dalam praktik ini, kata Nina, peserta didik melakukan pengukuran dengan menghitung jumlah kelereng yang diperlukan untuk menarik truk mainan pada setiap sudut kemiringan dan perlakuan permukaan yang berbeda.
“Mereka mengamati hubungan antara sudut kemiringan, jenis permukaan, dan gaya yang diperlukan untuk menarik truk. Dalam konteks nyata dapat dianalogikan dengan usaha yang diperlukan difabel untuk menaiki ramp dengan berbagai kondisi permukaan,” bebernya.
Selain itu, kata Nina, peserta didik menghitung jumlah kelereng yang diperlukan untuk menarik truk mainan pada setiap sudut kemiringan dan permukaan berbeda.
Dari sini, lanjutnya, para siswa mengamati hubungan antara sudut kemiringan, jenis permukaan, dan gaya yang diperlukan.
“Hasil percobaan ini kemudian dianalogikan dengan usaha difabel saat menaiki ramp dengan berbagai kondisi permukaan,” terangnya.
Menurut Nina, kegiatan praktik ini menerapkan pendekatan STEM yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu.
Peserta didik mempelajari konsep fisika (Science) tentang bidang miring dan gaya gesek, menerapkan aspek Technology melalui penggunaan alat peraga sederhana, mengasah keterampilan Engineering dengan merancang eksperimen, serta melatih kemampuan Mathematics dalam menghitung nilai gradien.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep akademis, tetapi juga belajar mengembangkan empati terhadap difabel. Mereka diajak menyadari bahwa desain lingkungan fisik harus mempertimbangkan kebutuhan semua orang, termasuk penyandang difabel,” katanya.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pembelajaran bermakna dapat tercapai melalui integrasi konsep akademis dengan isu sosial yang relevan, sehingga mampu melahirkan generasi cerdas sekaligus peduli lingkungan dan sesama. (aro/web)
Editor : H. Arif Riyanto