RADARMAGELANG.ID, Magelang – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terbukti telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat dari berbagai lapisan. Tak hanya saat seseorang jatuh sakit, kehadiran JKN juga memberikan ketenangan dan perlindungan kesehatan jangka panjang, terutama bagi masyarakat rentan. Salah satu wujud nyata manfaat tersebut dirasakan oleh Fitri Nur A’isah, seorang mahasiswa semester empat di Universitas Tidar, Magelang.
Fitri mengenang pertama kali dirinya mendapatkan kartu JKN, yakni saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tanpa disangka, pihak kelurahan menginformasikan bahwa keluarganya terdaftar sebagai peserta JKN melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI).
“Saya pertama kali mendapat JKN ini di usia 12 tahun. Saat itu saya masih SD, tiba-tiba dapat kabar dari kelurahan untuk mengambil Kartu Indonesia Sehat. Waktu itu semua anggota keluarga saya mendapatkannya,” ungkap Fitri, Senin (4/8/2025).
Program ini begitu berarti bagi keluarganya. Sebab sebelumnya, mereka sempat berencana mendaftar sebagai peserta mandiri karena menyadari pentingnya memiliki perlindungan kesehatan. Namun rezeki datang lebih dulu lewat program bantuan dari pemerintah.
“Tadinya keluarga saya berniat membuat sendiri dengan cara mandiri jika belum dapat dari pemerintah. Karena memang saya pasti butuh suatu saat nanti, dan masa depan kan tidak ada yang tahu. Jadi untuk berjaga-jaga,” tuturnya.
Selama menjadi peserta JKN, Fitri telah beberapa kali memanfaatkan pelayanan kesehatan di Fasilitas Layanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), seperti Puskesmas Bandongan. Ia menceritakan salah satu pengalamannya saat melakukan pemeriksaan darah yang diarahkan ke laboratorium di puskesmas tersebut.
“Pelayanan medisnya bagus, tidak dibedakan dan dilayani sesuai prosedur pemeriksaan yang berlaku,” jelasnya.
Pernah juga saat itu, Fitri datang bersama temannya yang juga peserta JKN, namun dari segmen mandiri kelas 2. Ia mengira akan ada perbedaan dalam pelayanan, namun kenyataannya seluruh proses dilaksanakan secara adil dan setara.
“Saya kira akan diperlakukan beda, tapi ternyata kami diperlakukan sama saja. Saat pelayanan oleh dokter, kami dilayani dengan baik sesuai SOP. Begitu juga saat proses administrasi, semuanya berjalan sesuai alur,” imbuhnya.
Fitri mengaku bersyukur karena selama ini tidak pernah terbebani soal biaya iuran. Sebagai peserta PBI, iurannya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah.
“Karena kepesertaan JKN saya adalah PBI, saya tidak pernah membayar iuran. Alhamdulillah sudah dicover pemerintah semua,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa JKN bukan hanya memberikan akses layanan kesehatan, tetapi juga membawa rasa aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk sebagai mahasiswa yang sedang sibuk menempuh pendidikan dan mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Lebih lanjut, Fitri menyampaikan pesan dan harapannya bagi keberlangsungan program JKN ke depan. Menurutnya, program ini sangat penting dan sebaiknya dapat dijangkau lebih luas oleh seluruh masyarakat tanpa hambatan finansial.
“Semoga program JKN ini ke depan bisa lebih merata dan seluruh masyarakat bisa mendapatkan layanan gratis tanpa harus membayar iuran bulanan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memiliki jaminan kesehatan,” harapnya.
Selain manfaat dalam pelayanan langsung, Fitri juga mengapresiasi langkah digitalisasi layanan yang dilakukan BPJS Kesehatan. Ia dan keluarganya aktif menggunakan aplikasi Mobile JKN yang menurutnya sangat membantu. Ia berharap digitalisasi layanan ini terus dikembangkan agar semakin banyak masyarakat di pelosok desa juga bisa merasakan manfaatnya
“Saya pribadi menggunakan aplikasi Mobile JKN, begitu juga keluarga saya. Aplikasi ini sangat praktis karena bisa melihat informasi kepesertaan, riwayat layanan, bahkan antrean secara online. Kalau bisa, jangkauan digitalnya diperluas dan sosialisasi aplikasinya ditingkatkan. Supaya masyarakat di desa juga tidak kesulitan mengakses layanan BPJS Kesehatan,” tutupnya. (put)
Editor : H. Arif Riyanto