MAGELANG.ID, Magelang—Peringatan Hari Buruh Internasional di Kota Magelang tak diwarnai dengan aksi demo.
Malahan, tiga unsur tripartit, yakni serikat pekerja, pengusaha, dan pemerintah (Tripartit) terlihat kompak turun ke jalan untuk membagikan sembako kepada belasan tukang becak, Jumat (30/5/2025).
Ketua Panitia Acara Rindu Heppy Abriastanto, perwakilan dari Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia Kota Magelang mengatakan, serikat pekerja di Kota Magelang bersepakat memeringati Hari Buruh dengan beberapa agenda yang manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat, dan para buruh.
Sebelumnya, pihaknya telah mengadakan senam bersama dan dialog interaktif bersama Pemkot Magelang dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).
Sebagai rangkaian acara terakhir, pihaknya menggelar bakti sosial di Kampung Kedungsari dan Jalan Tentara Pelajar.
“Kita ingin masyarakat tahu, bahwa di Kota Magelang hubungan antara buruh dengan pengusaha dan pemerintah baik-baik saja, tidak ada konflik,” ujarnya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Magelang Wawan Setiadi membenarkan, jika hubungan tripartit di Kota Magelang selama ini cukup harmonis.
Buruh dan pengusaha sama-sama menjaga iklim ekonomi di Kota Magelang tetap kondusif.
“Jadi, pengusaha memastikan usahanya tetap jalan. Yang buruh, bisa bekerja dan mendapatkan upah, sehingga punya daya beli, dan menghidupi keluarga, sementara pemerintah memfasilitasi regulasi dan membantu menangani permasalahan yang ada,” jelasnya.
Kalaupun ada konflik, semuanya bisa terselesaikan tanpa menimbulkan gejolak yang berkepanjangan.
“Masalah masih ada, tapi bisa terselesaikan,” tegasnya.
Dari tahun 2024, bahkan hanya tercatat dua kasus yang dilaporkan, yakni terkait dengan pemenuhan hak buruh, pasca diberhentikan kerja.
Semua kasus itu selesai dengan perjanjian bersama.
Artinya, kedua belah pihak, atau buruh dan pengusaha sama-sama menyepakati hasilnya.
Sementara itu, Ketua Apindo Kota Magelang Eddy Sutrisno menilai rangkaian peringatan Hari Buruh di Kota Magelang sangat inovatif.
Ia mengapresiasi para buruh yang memilih mengadakan kegiatan sosial, ketimbang turun ke jalan untuk demo.
“Hebatnya lagi, buruh itu tidak minta bantuan (ke pengusaha), tapi mereka malah membantu masyarakat yang nggak punya. Ini sesuatu yang luar biasa ada di Kota Magelang,” pujinya.
Kegiatan ini menegaskan bahwa Kota Magelang mampu menghadapi berbagai situasi apapun dengan tenang, dan tetap kompak.
Hal ini bahkan jarang dimiliki oleh daerah lain.
“Di daerah lain ada yang menghadapi badai PHK, di Kota Magelang tidak ada. Lalu, premanisme, di Kota Magelang juga sangat sedikit,” terangnya.
Eddy berpandangan, sudah saatnya buruh dan pengusaha kompak dalam memertahankan perusahaan di tengah ekonomi sulit.
“Lebih baik, kita menyatukan energi saja, untuk menghadapi situasi saat ini,” ucapnya.
Kolaborasi diyakini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitasi usaha.
Pemilik RS Lestari Raharja ini menambahkan, kekompakan ini akan mencegah timbulnya masalah pelik di Kota Magelang.
“Kalau tidak kompak, yang ada hanyalah kerugian. Semua rugi. Tidak ada sejarahnya, aksi boikot itu menguntungkan, yang ada rugi,” tegasnya.
Karena itu, pihaknya mengajak semua pihak untuk bersama-sama memikirkan strategi untuk menghadapi tantangan global.
Tukang becak Sardi, 60, sumringah menerima bantuan sembako dari para buruh atau serikat pekerja Kota Magelang.
Ia terharu, meski di tengah kondisi ekonomi yang sulit, masih ada yang memerhatikan nasib tukang becak. Apalagi, tukang becak memiliki penghasilan yang sedikit, dan jumlahnya tak pasti.
Bahkan kadang tak berhasil membawa pulang penghasilan.
“Senang mbak, senang sekali. Alhamdulillah bisa buat makan keluarga,” ucapnya.
Ia juga berharap, agar situasi di Kota Magelang selalu kondusif.
Sehingga tidak memperburuk kondisi ekonomi yang terjadi saat ini. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto