RADARMAGELANG.ID, Magelang - Magelang Tempo Doeloe (MTD) akan kembali hadir di Alun-alun Kota Magelang, 10-12 Mei 2025.
Acara ini menghadirkan pernak-pernik lawasan dan aneka kuliner tradisional, serta beberapa pertunjukan seni yang memukau.
Di perhelatan MTD ke-13 ini, panitia mengangkat tema "Magelang Berdjoeang".
Tema ini mengisahkan peradapan Kota Magelang dari masa ke masa yang penuh perjuangan.
Sekaligus untuk memeringati Hari Jadi ke-1119 Kota Magelang.
Ketua Lapangan MTD, Andritopo Senjoyo bercerita, tema MTD kali ini sarat makna.
Pihaknya terinspirasi dari sebuah momentum bersejarah pada sekitar 1945 dan 1949 yang terjadi di Kota Magelang.
"Di kedua tahun itu pernah terjadi peristiwa heroik yang menjadikan Kota Gethuk sebagai salah satu daerah yang patut diperhitungkan," kata Andri.
Peristiwa penting pertama merupakan rangkaian kejadian pada rentang waktu 31 Oktober 1945 sampai 2 November 1945.
Bulan dan tahun ini merupakan awal kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh Presiden Soekarno, di Jakarta pada 17 Agustus 1945.
"Banyak terjadi peristiwa pascaproklamasi kemerdekaan di Jakarta yang kemudian mengalir ke daerah-daerah, termasuk Kota Magelang," ucapnya.
Kata Andri, para pejuang di Kota Magelang yang mengetahui kemerdekaan ini beberapa hari atau bahkan bulan sejak proklamasi 17 Agustus dan langsung menyambut dengan suka cita.
Pria yang juga menjadi inisiator MTD ini menambahkan, di rentang waktu itu telah terjadi peristiwa berdarah yang kini diabadikan dalam sebuah monumen di Jalan Tidar Magelang.
Berlokasi di monumen itu, lima pejuang Kota Magelang gugur setelah ditembak oleh tentara Jepang yang bermarkas di seberang monumen itu (kini menjadi sekolah SMIP Wiyasa).
"Mereka ditembak setelah mengibarkan bendera merah putih di Puncak Gunung Tidar yang merupakan pengibaran bendera merah putih pertama kali di Kota Magelang," terangnya.
Deretan peristiwa ini yang kemudian memicu peristiwa lainnya di daerah lain, seperti Palagan Ambarawa, Palagan Jogja, termasuk 10 November di Surabaya yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.
Andri mengungkapkan, peristiwa kedua yang tak kalah penting terjadi di Kota Magelang adalah "Magelang Kembali" pada 17 Desember 1949.
Peristiwa ini terjadi pada momentum agresi militer ke-2 yang kala itu pejuang dan masyarakat sipil diserang oleh tentara Jepang di Dapur Umum Kampung Tulung yang menewaskan sejumlah pejuang.
"Peristiwa ini membuat marah pejuang dan meletuslah pertempuran cukup sengit di Alun-alun Kota Magelang. Ada yang menarik di sini, karena ada tentara Jepang yang membelot dan membela tentara kita, namanya Mitsuyuki Tanaka yang kemudian mengganti nama jadi Sutoro. Dia naik ke atas Water Torn dan menembaki tentara Jepang yang ada di bawahnya hingga musuh kalah," paparnya.
Ia berharap, MTD tidak hanya menjadi acara hiburan masyarakat.
Namun juga menguatkan cinta produk lokal, mengenal sejarah Kota Magelang, dan untuk bernostalgia.
Setidaknya, ada 18 mata acara yang akan mengisi tiga hari pelaksanaan acara.
Seperti jelajah, pertunjukan seni budaya, bincang sejarah, hingga fragmen perjuangan.
"Yang baru kita sajikan jelajah kota dengan angkutan lama. Berbagai angkutan lama akan berkeliling kota," tambahnya.
Yang ikonik dalam acara ini, pihaknya akan memamerkan mobil Jeep milik Jenderal Ahmad Yani. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto