RADARMAGELANG.ID, Magelang--Magelang kota bersejarah.
Usianya pun tak lagi muda. Di tahun 2025, Kota Magelang menapaki usia ke-1119.
Ini bukan waktu yang singkat. Pun demikian dengan segudang rentetan peristiwa yang terjadi Kota Magelang.
Hingga akhirnya kota kecil ini berhasil menuju perubahan dan menunjukkan kemajuan.
Tapi, bekas-bekas “cerita lama” itu masih bisa disaksikan.
Melalui keberadaan bangunan-bangunan peninggalan kolonial.
Salah satunya bangunan watertoren atau menara air yang menjadi ikon Alun-alun Kota Magelang.
Bentuk dari watertoren raksasa itu menyerupai kompor minyak.
Pemkot Magelang mengecat watertoren ini dengan warna biru kombinasi putih, sehingga kontras dengan rerumputan yang menghijau.
Sampai saat ini, watertoren tersebut masih berfungsi baik, meski termasuk dalam bangunan kuno yang dibangun tahun 1916-1920 oleh Genie Officier atau Zeni—sebutan bagi tentara Belanda.
Menariknya, watertoren ini memiliki luas 395,99 meter persegi dengan ketinggian 26,14 meter. Diameter bak airnya mencapai 22,46 meter.
Watertoren ini memiliki konstruksi yang sangat kokoh dengan 32 pilar penyangga di bagian tengahnya.
Dan di kaki-kaki menara terdapat 16 ruangan yang dahulu digunakan untuk pelayanan, administrasi, juga laboratorium.
Dengan ukurannya yang besar, watertoren ini dapat menampung 1.750 meter kubik air.
Keunikan bangunan ini adalah simetris dari segala sisi.
Sehingga jika dilihat dari sisi manapun, bentuknya akan sama.
Pegiat komunitas Kota Toea Magelang (KTM), Bagus Priyana bercerita, Genie membangun watertoren karena terjadi bencana wabah penyakit, seperti disentri, kolera.
Wabah ini muncul setelah saluran air dari tangsi militer (kini Rindam IV Diponegoro) runtuh pada tahun 1915.
Saluran air tersebut disebut Kali Kotak Poncol. Rubuhnya saluran air itu berakibat tercampurnya air selokan dan air bersih.
Dan menyebabkan sumber-sumber air bersih macet.
“Kala itu, suplai air menjadi terhambat dan menyebabkan munculnya wabah penyakit,” terangnya, Rabu (9/4/2025).
Hendrik Freek Tilema, pemerhati kesehatan dari Semarang kemudian memberi masukan kepada pihak Gemeente Magelang untuk membuat saluran air bersih atau drinkwaterleiding, serta memperbaiki sanitasi umum.
Karena itu, pemerintah kota dan tangsi militer membangun sarana penyaluran air bersih dengan mendirikan watertoren atau menara air.
Alun-alun dipilih menjadi lokasi pendirian watertoren, karena secara geografis lokasi ini tertinggi di Kota Magelang dan memudahkan pendistribusian air bersih ke beberapa wilayah.
Sumber air watertoren ini diambil dari mata air Kalegen dan Wulung di Bandongan, Kabupaten Magelang.
Airnya disalurkan melalui pipa-pipa berukuran jumbo sepanjang 8 kilometer merek Century buatan pabrik pipa NV Solten Fabriek di Utrecht Belanda.
"Untuk mengamankan sumber air, Belanda memasang bangunan beton permanen di atas dan di sekeliling menara agar tidak tercemar kotoran. Beton penutup itu memiliki ketebalan 40 centimeter," terangnya.
Menurut Bagus, belum diketahui secara pasti watertoren ini beroperasional.
Namun beberapa sumber menyebutkan dimulai 2 Mei 1920.
Kata Bagus, watertoren menjadi bangunan yang tak terpisahkan dengan alun-alun, dan pernak-pernik yang ada di sekitarnya.
Di masa pemerintahan Inggris (abad ke-18), Kota Magelang sebagai pusat pemerintahan setingkat kabupaten.
Mas Ngabehi Danukromo diangkat sebagai bupati Magelang pertama oleh Inggris pada 30 November 1813.
Bupati ini yang merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun alun-alun, tempat tinggal bupati, dan sebuah bangunan musala, namun diberi nama Masjid Jami’.
Masjid ini berada di alun-alun barat dan kini bernama Masjid Agung Kauman Magelang.
Dalam perkembangan selanjutnya dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada 1818.
Setelah pemerintah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, kedudukan Magelang semakin kuat. Pemerintah Belanda menjadikan Magelang sebagai pusat lalu lintas perekonomian dan Kota Militer.
Belanda terus melengkapi sarana dan prasarana perkotaan, berupa menara air minum, perusahaan listrik mulai beroperasi tahun 1927, dan jalan - jalan arteri diperkeras, juga diaspal.
Selain itu, di sekitar alun-alun utara dibangun Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) atau bernama asli Protestansche Kerk dibangun tahun 1903.
"Gereja ini dimanfaatkan untuk tempat ibadah orang Eropa yang beragama Kristen Protestan,” jelasnya.
KTM juga memiliki arsip dokumen foto alun-alun timur (Jalan A Yani) tahun 1880. Difoto itu, alun-alun sisi timur dihiasi pohon-pohon yang rindang, belum ada rel kereta api, namun sudah ada Kelenteng Liong Hok Bio.
Lalu ada gedung Polres Magelang Kota—dulu bernama Mosvia (Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) atau sekolah pamong praja (pegawai pemerintah).
Foto lawas itu diambil tahun 1910-an.
Bangunan Mosvia berada di Alun-alun Selatan.
Melihat begitu banyaknya bangunan heritage atau cagar budaya peninggalan kolonial di Kota Magelang, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono berkomitmen menjaga kelestariannya.
Nantinya, bangunan-bangunan peninggalan kolonial itu akan diinventarisasi dan direvitalisasi.
“Kita revitalisasi untuk wisata Kota Magelang,” katanya.
Damar mengajak masyarakat untuk ikut menjaga bangunan-bangunan bersejarah itu, karena bangunan cagar budaya merupakan warisan yang membuat Kota Magelang semakin kaya akan cerita-cerita di masa lampau. (puput puspitasari/aro)
Editor : H. Arif Riyanto