RADARMAGELANG.ID, Magelang - Seniman pantomim asal Magelang, Imran Pratama dan Andre Bimo Wicaksono kerap tampil duet di berbagai acara.
Aksi mereka menjadi kolaborasi apik yang tak menjenuhkan untuk ditonton sampai selesai.
Imran Pratama yang akrab disapa Imz itu merupakan pendiri komunitas Mapan Mime (Magelang Pantomime) pada 22 Maret 2016 lalu. Ia termasuk pemuda yang memopulerkan pantomim di Magelang Raya.
Ketertarikan Imz pada seni pantomim datang bukan tanpa alasan. Ia melihat sisi uniknya. Pantomim merupakan seni pertunjukan teater yang menggunakan gerak tubuh, mimik wajah, dan ekspresi nonverbal.
Menurut Imz, pantomim adalah salah satu jenis seni yang cocok untuk dirinya, yang tak terlalu percaya diri cuap-cuap di atas panggung. Tapi tetap ingin berkesenian.
"Ya walaupun ada suka dukanya jadi pemain pantomim. Kadang dikira badut, kadang ada yang takut sama wajah kita, dan kadang dituntut harus lucu. Padahal penampilan kita (pantomim) nggak harus lucu loh, hehehe," ujarnya sambil mesam-mesem.
Ia menilai, seni pantomim tidak ribet dari sisi persiapan sebelum tampil. Properti yang dipakai hanya terbatas. Bahkan kadang tak perlu membawanya.
Lalu, kostum yang dikenakan bernuansa monokrom. Begitu pula dengan riasan wajah yang tidak membutuhkan waktu berlama-lama di depan kaca. "Cuma butuh waktu 5 sampai 15 menit paling lama untuk make up," akunya.
Riasan wajah lucu dengan dominasi pulasan warna putih itu didapatkan dari pengaplikasian cat tubuh atau wajah yang ditumpuk bedak bayi.
Selanjutnya, Imz membuat riasan warna hitam di area mata dan alis. Imz juga menambahkan perona bibir berwarna merah menyala agar wajahnya lebih berdimensi dan segar, meski dilihat dari kejauhan.
Pria 37 tahun ini berharap seni pantomim semakin diterima masyarakat. Karena seni pantomim sangat fleksibel untuk mengisi hiburan dalam acara apapun.
Dengan semakin banyak tampil di area publik, Imz ingin memasyarakatkan bahwa pantomim bukan lah badut. "Jelas kita beda.
Dari segi riasan wajah dan kostumnya beda. Mereka (badut), penampilannya lebih heboh menggunakan kostum warna-warni dan properti yang banyak," tambahnya.
Selain itu, ia ingin para orang tua tidak menjadikan pemain pantomim sebagai bahan untuk menakut-nakuti anak.
Andre Bimo Wicaksono sependapat dengan seniornya itu. Bahkan menurutnya, seni pantomim juga bisa ditampilkan dalam acara-acara aksi sosial kemanusiaan.
Persis seperti pengalamannya dulu. Kali pertama tampil pantomim di aksi penggalangan dana bantuan "Pray for Donggala (2018)" yang dilaksanakan di salah satu hotel berbintang di Kota Magelang.
"Itu salah satu alasan saya tertarik terjun ke pantomim," akunya. Ketertarikan pada seni pantomim juga berawal dari melihat Imz tampil di Alun-alun Kota Magelang.
Karena sering nonton penampilan Imz, Andre tertarik bergabung di komunitas Mapan Mime.
Menurut Andre, seni pantomim memiliki banyak tantangan. Yakni harus memertahankan fokus penonton dan cepat dalam berimajinasi, agar aksi panggungnya terasa hidup.
Meski sudah sering tampil bersama Imz, Andre masih giat berlatih untuk mengasah keterampilannya.
Ia latihan setiap Jumat di Gedung Lokabudaya, Alun-alun Selatan Kota Magelang bersama seniman pantomim lainnya.
Latihan ini juga untuk merancang konsep dan alur cerita yang akan dipersembahkan untuk penonton.
Karena dalam setiap acara, seniman pantomim menghadapi karakteristik penonton yang berbeda-beda.
Seperti usia penonton yang campur, begitu pula dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda.
"Karena targetnya, kita ingin penonton terhibur. Melihat mereka bisa fokus dan tertawa, itu luar biasa. Senangnya bukan main," akunya. (put/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo