RADARMAGELANG.ID, Magelang – Meski belum berdampak secara langsung, kebijakan efisiensi anggaran dinilai bisa berdampak terhadap berbagai sektor, salah satunya sektor transportasi.
Kepala Perusahaan Otobus (PO) Handoyo Magelang Priyono mengatakan, dampak dari efisiensi ini pastinya akan ada.
Tapi untuk saat ini, dampak dari adanya efisiensi anggaran bagi para pengusaha bus seperti di PO Handoyo belum terasa.
Namun, hal ini juga menjadi perhatian seluruh jajaran pimpinan PO Handoyo.
Pria yang akrab dipanggil Pak Cilik ini mengakui, dampak secara tidak langsung dari kebijakan efisiensi sudah terasa saat ini.
Seperti dalam pengurusan perpanjangan izin trayek, yang harus diurus setiap satu tahun sekali.
Baca Juga: PO Santoso, Perusahaan Otobus di Magelang yang Dirintis oleh Seorang Dokter
Pada pengurusan izin ini, lanjut Priyono, yang biasanya jika izin trayek keluar akan diantar langsung melalui paket dari kementerian.
Namun sekarang harus diambil sendiri.
“Pastinya akan membebani cost kami. Apalagi jika pengurusan izin trayek itu hanya satu armada,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Ia mengaku, dengan adanya efisiensi ini, pastinya yang akan mengalami dampak secara langsung adalah masyarakat.
Daya beli mereka pastinya akan berkurang.
Dan ini juga secara tidak langsung akan mempengaruhi angkutan umum.
Sekarang saja, tambah Priyono, dari sisi angkutan darat masih belum stabil terkait masalah penumpang.
Padahal target dari pihaknya, di 2024 kemarin bisa meningkat, tapi masih sama saja.
“Contohnya pada waktu libur Natal dan Tahun Baru yang kita targetkan bisa mendongkrak angka pengguna bus PO Handoyo, namun malah tidak sesuai dengan harapan kita. Kita sudah menyiapkan armada kalau ada lonjakan, akan tetapi armada yang kita siapkan malah nggak berangkat,” katanya.
Baca Juga: PO Harapan Jaya, Perusahaan Otobus Berlogo Kuda Oranye dari Tulungagung Jawa Timur
Menurutnya, mungkin dari sudut pandang pemerintah pusat efisiensi itu bagus.
Namun yang perlu menjadi perhatian, dampak yang ditimbulkan itu juga harus dipikirkan.
“Meskipun di sejumlah sektor sudah ada yang merasa terdampak. Tapi dampak dari efisiensi ini apakah negatif atau positif akan terasa setelah triwulan tahun ini,” ucapnya.
Apalagi, tantangan terdekat bagi pengusaha bus yakni menjelang lebaran Idul Fitri.
Sehingga sampai saat ini pihaknya masih belum ada gambaran terkait libur lebaran nanti seperti apa.
Ia menyampaikan, target angkutan darat sendiri yang diharapkan adalah masalah pembangunan.
Baca Juga: Bus Mania, Berikut Daftar Trayek Baru PO Juragan99 Trans
Khususnya, terkait pembangunan padat karya maupun proyek lainnya.
“Dan jika proyek berhenti semua, secara tidak langsung akan berdampak ke kami. Apalagi target dari kami itu adalah para pekerja pembangunan itu sendiri, apalagi jika proyek tersebut borongan dan membutuhkan tenaga yang banyak,” jelasnya.
“Pekerja proyek setengah bulan sekali pulang. Dan ini menjadi salah-satu target kami, selain para pedagang di kota-kota besar,” imbuhnya.
Jika efisiensi ini mulai berdampak pada perusahaan, Priyono sudah menyiapkan antisipasinya.
Salah satunya melakukan giliran masuk para karyawan.
“Kita akan berusaha untuk tidak melakukan PHK. Kondisi ini, mungkin kita akan mengambil contoh seperti pada saat pandemi Covid-19 lalu,” ujarnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto