RADARMAGELANG.ID, Magelang – Acara Magelang Sweet Saturday yang dihelat Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) dapat pujian.
Konsep acara yang mengawinkan acara hiburan dengan kuliner memberikan dampak positif terhadap keramaian kota dan membantu ekonomi masyarakat.
Ketua DPRD Kota Magelang Evin Septa Haryanto Kamil melihat langsung acara Magelang Sweet Saturday spesial Imlek yang mengambil lokasi panggung di eks Bioskop Kresna.
Tepatnya di seberang kanan Kelenteng Liong Hok Bio.
“Saya kira, acara ini punya dampak yang luas, termasuk untuk menghidupkan kembali pusat-pusat keramaian yang ada di Kota Magelang, salah satunya di Pecinan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Ia menyempatkan berbincang-bincang dengan para pengisi tenant kuliner.
Ia menangkap aspirasi.
Kata Evin, mereka menginginkan acara ini dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan kualitasnya.
Ia juga menjumpai beberapa mahasiswa yang berkuliah di Kota Magelang nyambi jualan kopi maupun makanan kekinian.
“Kuliner di acara Magelang Sweet Saturday di coba berada di (trotoar) Pecinan. Sekitar Pecinan jadi tampak lebih ramai. Ada yang sekadar jalan-jalan, lihat-lihat, dan banyak juga yang jajan,” terangnya.
Pihaknya akan mendukung kegiatan ini dilanjutkan.
Dengan catatan ada inovasi dan acaranya disempurnakan.
Sementara itu, Wali Kota Magelang dr Muchamad Nur Aziz berharap acara Magelang Sweet Saturday akan dilanjutkan oleh wali kota yang baru.
Pasalnya, acara ini ditujukan untuk menambah keramaian Kota Magelang, terutama saat weekend.
Acara ini juga tidak kaku, karena meski yang menyelenggarakan pemerintah, namun bisa berkolaborasi dengan pihak manapun.
Terkait pendanaan, juga tema yang akan dipakai.
“Kegiatan ini memang harus diteruskan,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Jika pekan lalu Magelang Sweet Saturday hadir dengan tema perayaan Imlek dan bekerja sama dengan warga Tionghoa dan TITD Liong Hok Bio, ke depan diharapkan bisa menggandeng suku-suku yang lain.
“Semoga bisa merangkai dengan suku-suku lain yang ada di Kota Magelang, seperti Batak, Madura, Padang,” imbuhnya.
Dokter Aziz ingin, Kota Magelang benar-benar bisa menjadi ‘rumah bersama’ bagi seluruh umat dan suku.
Semua bisa hidup harmonis dalam perbedaan.
“Ini menggambarkan bahwa Kota Magelang menjadi rumah besar, sehingga kota ini akan menjadi kota yang nyaman dikunjungi suku-suku yang ada di Indonesia,” ungkapnya.
Harapan juga turut disampaikan David Hermanjaya, pengusaha mentereng dari Kota Magelang yang sekaligus menjadi pembina yayasan TITD Liong Hok Bio Magelang.
Ia mengapresiasi pemerintah memberikan ruang untuk warga Tionghoa terlibat dalam acara Magelang Sweet Saturday yang menampilkan tradisi dan budaya masyarakat Tionghoa.
Acara tersebut menjadi momen yang tidak terlupakan bagi warga Tionghoa dalam momen perayaan Imlek 2025.
Menurut David Hermanjaya, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, tapi sarat makna dan budaya, religi.
Pergantian tahun baru Imlek ditetapkan sebagai tanggal libur nasional juga menjadi kegembiraan bagi masyarakat Tionghoa.
Sekaligus pengakuan terhadap keberadaan masyarakat Tionghoa di Indonesia.
“Penetapan Imlek sebagai hari libur, menjadi momen kebersamaan hidup dan keberagaman budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia. Maka, keharmonisan dan kebersamaan ini harus terus tercipta, ibarat aneka macam bunga di dalam vans,” pungkasnya.
Acara Magelang Sweet Saturday pekan lalu juga dihadiri Wali Kota Magelang terpilih, Damar Prasetyono.
Ia juga nampak berjalan-jalan menyusuri kawasan Pecinan. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto