Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Kue Moho, Kudapan Khas Imlek dari Dawung Banjarnegoro Mertoyudan Kabupaten Magelang yang Sarat Makna

Magang Radar Magelang • Jumat, 24 Januari 2025 | 22:16 WIB
Kue Moho Kudapan khas Imlek yang memiliki makna
Kue Moho Kudapan khas Imlek yang memiliki makna

RADARMAGELANG.ID, Magelang - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, kue moho, kudapan khas masyarakat Tionghoa, semakin diminati.

Di Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, seorang perajin kue moho bernama Darmanta, 40, sibuk memenuhi pesanan yang meningkat signifikan pada momen spesial ini.

Darmanta adalah generasi kedua dalam keluarganya yang memproduksi kue moho.

“Sejak tahun 1990, saya belajar dari ayah yang dulu bekerja di tempat pembuatan kue. Kini, saya memproduksi sendiri,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya.

Darmanta, penerus kue moho setelah bapaknya
Darmanta, penerus kue moho setelah bapaknya

Pada hari biasa, Darmanta hanya memproduksi sekitar dua karung adonan kue moho yang sebagian besar dikirim ke daerah Parakan, Temanggung, dan Muntilan.

Namun, menjelang Imlek, pesanan meningkat tajam, terutama dari Jogja. “Pesanan bisa mencapai 100 hingga 200 biji, bahkan lebih,” katanya.

Kue moho terbuat dari bahan utama tape yang diaduk dengan tepung hingga adonannya menyatu sempurna.

Setelah itu, adonan didiamkan selama 4-5 jam agar mengembang, lalu diberi gula.

Proses pengukusan dilakukan selama sekitar 3 menit dengan menggunakan kayu bakar.

“Kami masih mempertahankan cara tradisional, meski kadang kesulitan mendapatkan kayu bakar,” ungkapnya. Hasil produksi kemudian didistribusikan ke pasar-pasar pada malam harinya.

Darmanta mengandalkan bantuan lima orang pegawai yang merupakan anggota keluarganya sendiri. Mereka memulai produksi dari pukul 04.00 pagi hingga sekitar pukul 20.30 malam.

Kue moho yang mekar di bagian atas memiliki makna mendalam. “Menurut masyarakat Tionghoa, mekarnya kue melambangkan rezeki yang terus berkembang,” jelas Darmanta.

Dari segi rasa, kue moho yang diproduksi Darmanta hanya tersedia dalam dua warna, yaitu putih dan merah muda, karena varian warna lain kurang diminati.

Kue moho buatan Darmanta tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya bertahan selama dua hari. Harganya pun sangat terjangkau, yakni Rp500 hingga Rp1.000 per biji.

Meski permintaan tinggi, Darmanta mengaku ada sejumlah hambatan dalam produksi.

“Proses mengaduk adonan itu lama dan melelahkan, ditambah lagi pengukusan dengan kayu bakar yang sering terkendala jika stok kayu sulit didapat,” katanya. Namun, semangatnya untuk menjaga tradisi tetap menyala.

Darmanta berharap produksi kue moho yang dilakukan secara turun-temurun ini bisa terus berkembang dan tetap menjadi bagian dari tradisi Imlek di Indonesia.

“Semoga rezeki kami juga terus mekar, seperti kue moho ini,” pungkasnya. (mg3/lis)

 

 

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#Imlek #magelang #Tionghoa #kue moho #moho #Dusun Dawung