RADARMAGELANG.ID—Di balik gang kecil di Jalan Pajajaran, Kemirirejo, Magelang Tengah, Pasar Tukangan Magelang berdiri sebagai salah satu pasar tradisional yang penuh cerita dan daya tarik tersendiri.
Terletak di gang sempit sekitar RSUD Tidar, pasar ini tetap hidup dengan hiruk-pikuk pembeli dan pedagang yang menawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Suara tawar-menawar yang riuh, aroma segar buah dan sayuran, serta warna-warni jajanan tradisional menciptakan suasana yang memikat di tengah kesederhanaannya.
Pasar Tukangan mulai beroperasi sekitar tahun 1986.
Sebelumnya, para pedagang berjualan di kawasan Pecinan, namun mereka dipindahkan karena wilayah tersebut akan dibangun rumah-rumah baru dan pelebaran jalan.
Relokasi ini mengarahkan pedagang ke gang kecil yang kini dikenal sebagai Pasar Tukangan.
Meskipun sederhana, lokasi baru ini tetap menjadi pusat ekonomi yang ramai dan bertahan hingga kini.
“Awalnya, para pedagang berjualan di kawasan Pecinan, tapi kemudian dipindahkan karena daerah itu dibangun rumah-rumah dan jalannya diperlebar. Awalnya memang berat, tapi sekarang sudah terbiasa,” ujar Ibu Rohaniyah, salah satu pedagang yang sudah lama berjualan di Pasar Tukangan.
Dahulu, jumlah pedagang di pasar ini mencapai lebih dari 100 orang.
Namun, kini jumlahnya menyusut menjadi sekitar 70 pedagang, terutama setelah pandemi COVID-19 yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk pasar tradisional.
Meski demikian, semangat pedagang tetap kuat untuk mempertahankan pasar ini.
Pasar Tukangan menyediakan hampir semua kebutuhan sehari-hari, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, sembako, hingga daging.
Uniknya, pasar ini juga menjual daging babi, yang jarang ditemukan di pasar tradisional lain di Magelang.
Selain itu, jajanan pasar tradisional menjadi salah satu daya tarik utama.
Setiap hari Sabtu, pengunjung dapat menemukan berbagai jajanan khas, seperti jenang blendung, tiwul, gatot, lopis, biji jali-jali, gendar, jenang jewawut, jenang kacang hijau kupas, jenang candil, dan coro bikan.
Jajanan ini disukai karena cita rasanya yang autentik dan mengingatkan pada masa lalu.
Pasar Tukangan memiliki suasana yang bersih dan tidak bau, sehingga pengunjung merasa nyaman.
Meskipun terletak di lorong sempit sepanjang 100–150 meter, para pedagang berjejer rapat dari ujung ke ujung.
Barang-barang yang dijual di pasar ini dikenal berkualitas tinggi, sesuai dengan kebutuhan pembeli yang sebagian besar merupakan warga keturunan Tionghoa di sekitar Pecinan.
Pembeli yang datang biasanya adalah warga Pecinan.
Bahkan, beberapa pembeli merupakan pegawai kantor yang menyempatkan diri berbelanja sebelum bekerja.
Barang dagangan yang berkualitas dan beragam menjadi alasan pasar ini tetap ramai meskipun tempatnya terbatas.
Banyak pedagang yang berasal dari daerah sekitar Kabupaten Magelang, seperti Bandongan dan Mungkid.
Musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang di Pasar Tukangan.
Karena pasar ini hanya dilindungi terpal di atasnya, pedagang harus siap menghadapi kebocoran atau kondisi becek.
Selain itu, meskipun pasar ini beroperasi di wilayah kota, perhatian khusus dari pemerintah belum dirasakan oleh para pedagang.
Pasar ini lebih dianggap sebagai bagian dari kampung, sehingga pengelolaannya lebih banyak dilakukan secara swadaya.
Para pedagang dikenakan retribusi sebesar Rp 3.000 per hari, yang terbilang cukup terjangkau.
Kendati demikian, mereka tetap berharap ada dukungan lebih dari pemerintah untuk pengembangan pasar.
Banyak orang luar Magelang yang mungkin tidak menyangka bahwa di balik gang kecil ini terdapat pasar yang begitu hidup.
Gapura masuk pasar ini tidak berbeda dengan gapura gang lainnya, namun suasana di dalamnya menyimpan cerita dan kenangan.
Kehidupan di pasar ini menggambarkan dinamika sosial dan ekonomi yang harmonis antara pedagang dan pembeli.
Pasar Tukangan buka mulai pukul 06.00 pagi hingga 12.00 siang.
Suasana paling ramai terjadi antara pukul 07.00 hingga 09.00.
Pasar ini juga menjadi tempat bagi warga sekitar untuk memanfaatkan peluang ekonomi dengan ikut berjualan di sekitar rumah mereka.
“Saya jualan di sini karena rumahnya memang di sini, jadi saya manfaatkan juga kan, soalnya pas pasar juga,” ujar Yulianti, salah satu warga asli yang ikut berdagang.
Pasar Tukangan Magelang bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga cerminan budaya dan kehidupan masyarakat lokal.
Keberadaannya yang tetap bertahan hingga kini menunjukkan betapa pentingnya pasar tradisional dalam menjaga identitas suatu daerah.
Dengan segala tantangan yang ada, pasar ini terus menjadi ruang hidup bagi pedagang dan pembeli, serta bagian dari cerita panjang Magelang yang tak lekang oleh waktu. (rifda nabila/aro)
Editor : H. Arif Riyanto