RADARMAGELANG.ID, Magelang – Akademi Tirta Wiyata (Akatirta) di Kota Magelang punya nahkoda baru setelah Rohmad Hadiwijoyo dilantik menjadi Direktur Akatirta oleh Ketua Yayasan Pendidikan Tirta Dharma (YPTD) PAMSI Muslih Abdurrahman, Selasa (20/1/2025).
Pelantikan ini berlangsung hikmat.
Direktur Akatirta Rohmad Hadiwijoyo ingin membawa Akatirta lebih mendunia.
Pihaknya akan konsisten menyediakan sumber daya manusia yang handal, berwawasan lingkungan.
“Kita ingin mendukung kemajuan perusahaan air minum di mana saja dengan memanfaatkan air, tanpa harus merusak lingkungan,” ujar Rohmad—sapaan akrabnya--kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Sebagai akademi yang berorientasi pada pemecahan masalah air minum dan sanitasi, pihaknya tidak akan lelah menyadarkan masyarakat betapa alam semesta ini harus dijaga kelestariannya.
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui, namun jika tidak dirawat, dapat mendatangkan bencana, seperti kekeringan.
“Ada anggapan bahwa air sebagai bentuk berkah, sehingga tidak perlu dikelola. Pandangan seperti ini keliru. Karena air adalah aset yang luar biasa untuk mendukung kepentingan publik,” ujarnya.
Mahasiswa Akatirta pun siap berperan dalam mitigasi perubahan iklim dengan keterampilan yang mumpuni dan penerapan teknologi energi terbarukan.
Serta berkomitmen mewujudkan air yang layak.
Menurut Rohmad, air memiliki peran sentral terhadap kehidupan di bumi.
Sementara jika air tercemar, maka tidak hanya dapat merusak lingkungan, tapi juga mengancam kesehatan manusia.
Disebutkannya, air yang tercemar bisa menyebabkan seorang anak mengalami stunting.
Mengonsumsi air dengan kualitas buruk dapat menginfeksi tubuh dan mengganggu penyerapan nutrisi, sehingga terjadi malnutrisi.
“Ini tantangan kita untuk bagaimana mensosialisasikan sumber daya air sangat bermanfaat untuk kehidupan kita semua,” terangnya.
Rohmad optimistis, Akatirta akan mampu mencetak lulusan teknik lingkungan yang berdaya saing tinggi dan memenuhi kebutuhan pasar.
Peluang karir lulusan teknik lingkungan juga sangat dibutuhkan oleh perusahaan air minum, karena dari 65 ribu pegawai yang bergerak di bidang air minum, baru sekitar 20 ribu yang bersertifikasi.
“Ini menjadi peluang bagi setiap mahasiswa dan lulusan Akatirta untuk terserap di pasar kerja,” tandasnya.
Ke depan, Akatirta akan bermetamorfosa menjadi politeknik di tahun 2028 mendatang.
Saat ini, pihaknya bersiap diri, termasuk rencana menambah program studi (prodi) yang bisa dipilih mahasiswa.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Tirta Dharma (YPTD) PAMSI Ir. H. Muslih menjelaskan, lulusan Akatirta selalu dibutuhkan oleh perusahaan air minum di Indonesia.
Hal ini sejalan dengan keinginan Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) yang membentuk YPTD PAMSI pada 1999.
Selanjutnya YPTD PAMSI mendirikan Akatirta pada tahun 2000 untuk mencetak tenaga teknik lingkungan yang berkompeten.
“PERPAMSI memiliki harapan besar untuk kemajuan perusahaan air minum di seluruh Indonesia, sehingga harus punya wadah untuk mendidik, menempatkan tenaga profesionalnya yang nantinya akan mengisi perusahaan air minum di seluruh Indonesia,” jabarnya.
Sejak awal didirikan dan sampai saat ini, Akatirta masih menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia dengan konsentrasi di bidang air minum.
“Dari Kota Magelang, kita akan menyebar mahasiswa ke seluruh PDAM di Indonesia,” ucapnya.
YPTD PAMSI juga terus menjalin kerja sama dengan berbagai negara dalam rangka peningkatan kapasitas lulusan Akatirta.
Salah satu bidang yang dikerjasamakan adalah beasiswa pendidikan.
“Akan ada kesempatan beasiswa bagi lima mahasiswa Akatirta untuk belajar teknik lingkungan ke Busan, Korea Selatan, selama satu tahun. Bahkan di sana akan digaji, disiapkan tempat tinggal,” pungkasnya. (put/bis)
Editor : H. Arif Riyanto