Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Kaus Candi Borobudur Yogyakarta, Bisa Merugikan Wisata di Kabupaten Magelang, Begini Penjelasan Ketua DTW Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Kamis, 16 Januari 2025 | 00:48 WIB
Candi Borobudur di Kabupaten Magelang yang viral karena ada kaus bertuliskan Borobudur Yogyakarta yang dijual pedagang.
Candi Borobudur di Kabupaten Magelang yang viral karena ada kaus bertuliskan Borobudur Yogyakarta yang dijual pedagang.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Menyikapi kaus yang bertuliskan Candi Borobudur Yogyakarta, Ketua Forum Daya Tarik Wisata (DTW) Magelang, Edward Alfian mengatakan bisa merugikan wisata di Kabupaten Magelang. Karena kaus merupakan salah satu media promosi.

“Karena, mindset wisatawan Borobudur berada di Jogjakarta. Otomatis ketika orang akan berkunjung ke Borobudur, karena mindset-nya Jogjakarta, mereka akan mencari destinasi wisata lainnya ke Jogjakarta,” jelasnya di kantor TIC, Kabupaten Magelang, Rabu (15/1/2025).

Artinya, dari sisi destinasi para wisatawan atau turis mancanegara akan mencari destinasi lain itu di Jogjakarta. Dari sisi kuliner maupun penginapan mereka akan mencari di Jogjakarta, bukan di Magelang.

Pihaknya tidak akan melakukan langkah-langkah frontal. Namun akan mengimplementasikan dengan kegiatan yang bisa mencerminkan bahwasnya Candi Borobudur berada di Magelang, Jawa Tengah.

Salah satunya dengan menggenjot potensi wisata di daerah lain, seperti di Telomoyo, Negeri Kahyangan, Nepal Van Java, Ketep Pass, Negeri Sayur Sukomakmur, dan masih banyak lagi.

Sehingga, wisatawan paham kalau Magelang mempunyai potensi daya tarik wisata yang mendukung Candi Borobudur. Serta, mendorong sejumlah paket wisata di Magelang, salah satunya memaksimalkan VW itu sendiri.

Apalagi, secara kebutuhan wisata di Magelang masih belum bisa melengkapi. Contohnya, wisata di malam hari, saat ini masih didominasi di Jogjakarta. “Artinya kami pelaku wisata di Magelang ditanya prihatin, pasti prihatin. Cuma, kemudian dari kejadian suvenir ini, harus menjadi PR dan bahan intropeksi teman-teman dan stakeholder terkait,” jelasnya.

Dikatakan, suvenir ini merupakan langkah strategi yang dilakukan pelaku wisata di Jogjakarta sejak dulu.

"Jadi, teman-teman Jogja mencoba mengambil peluang tersebut,” imbuhnya.

Ia berharap, dengan adanya kejadian viral ini, pelaku wisata di Magelang bisa segera berbenah dan gencar melakukan promosi di daya tarik atau wisata yang berada di daerahnya masing-masing.

“Salah satunya dengan menyediakan paket-paket wisata untuk mengenalkan wisatawan maupun turis, untuk lebih mengenal wisata lain di Magelang,” pungkasnya.

Sementara itu, produsen kaus, Sudarminto, 41, warga Tingal, Kecamatan Borobudur mengatakan, kaus tersebut pertama muncul tahun 1997. Dibuat oleh produsen Jogja

"Wisata itu kan dulu paketan. Borobudur masuk paket wisata Jogja. Kemarin-kemarin sebelum seperti ini," kata Sudarminto yang akrab disapa Minto.

Minto mengatakan, study tour atau rombongan wisata dengan tulisan tour Jogja,  salah satu destinasi yang dikunjungi Candi Borobudur di Kabupaten Magelang.

“Padahal Borobudur ada di Magelang, tapi paket wisatanya ikut Jogja. Karena Magelang nggak ada destinasi lain. Jadi terkenalnya Borobudur itu di Jogja,” ujar Minto.

Pihaknya sering membuat Borobudur Magelang. Hanya saja respons di pasaran tidak laku. Sekalipun sudah dengan kualitas cetakan yang lebih bagus.

“Terus sering, kaus itu diganti Magelang sudah sering. Tapi nggak laku kok. Saya ubah Magelang nggak cuma sekali. Gambar juga tak buat lebih bagus, Borobudur Magelang, kurang laku,” katanya. (rfk/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#borobudur yogyakarta #edward alfian #candi borobudur #Ketua Forum Daya Tarik Wisata DTW Magelang #kaus #wisata magelang