RADARMAGELANG.ID, Magelang – Jembatan Ngembik kini berganti nama menjadi Jembatan Kali Progo Sucipto Suwigo.
Penggantian nama ini untuk mengabadikan nama Sucipto, warga yang sebelumnya membangun jembatan gantung Ngembik dengan uang pribadi.
Setelah Sucipto wafat, jembatan ini dikelola oleh sang anak.
Diberitakan Jawa Pos Radar Magelang sebelumnya, almarhum Sucipto ingin mengakhiri kesulitan warga ketika ingin menyeberang Kali Progo. Sebelum dibangun jembatan, warga sekitar menyeberangi sungai dengan perahu gethek.
Sucipto (alm) lalu berinisiatif membangun jembatan gantung yang membentang 100 meter di atas Kali Progo.
Jembatan yang dibuatnya hanya dipancang besi kecil. Sehingga bisa bergoyang ketika dilewati dan terhempas angin.
Namun demikian, keberadaan Jembatan Ngembik yang dibuat Sucipto sangat membantu mobilitas masyarakat sekitar.
Meski cukup berbahaya, warga setempat tetap menggunakan Jembatan Ngembik untuk menyeberang.
Bukan tanpa alasan, Jembatan Ngembik membuat jarak antara Kabupaten Magelang dan Kota Magelang semakin dekat.
Jembatan Ngembik menghubungkan Desa Rejosari, Kabupaten Magelang, dan Kampung Ngembik Lor, Kota Magelang.
Kini, jembatan tersebut menjadi jembatan permanen dengan bangunan yang sangat kokoh.
Jembatan ini juga dikenal sebagai jembatan “Indiana Jones”, karena bentuknya mirip dengan jembatan di salah satu sekuel film Indiana Jones (1984).
Mardiyah, warga yang merasakan manfaat atas pembangunan jembatan ini bercerita, ia pernah nyaris tenggelam saat menyeberangi Kali Progo dengan gethek.
Lalu ia juga pernah celaka ketika melewati jembatan gantung yang rawan.
Tak ada pilihan, ia tetap melewatinya agar lebih dekat dengan tempat kerja di Kramat Selatan.
“Rasanya senang. Setelah jembatan ini jadi, kami bisa melewati setiap hari dengan nyaman. Nggak takut-takut lagi,” ujarnya warga Dusun Guntur, Desa Rejosari itu.
Irkomah, warga Dusun Keben, Desa Rejosari, mengaku senang Jembatan Ngembik akhirnya benar-benar dibangun.
Ia bahkan nekat melewati jembatan ketika malam hari, sekali pun kondisinya hujan.
“Tetap lewat, walau agak gelap,” ujar perempuan paro baya itu.
Ia harus melewati jembatan itu, karena diburu waktu.
Para pedagang sayur sudah menunggunya di Pasar Rejowinangun.
Lalu ia mengemas aneka sayuran sampai pukul 02.00, setelah itu berjualan sampai pukul 06.00.
“Kalau nggak lewat situ, saya harus muter, lebih jauh dan lebih lama. Keburu ditunggu yang nyetorin sayuran,” terangnya.
Jika memutar, ia harus melewati Jembatan Plikon.
Lalu naik ke arah Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.
Ia membutuhkan waktu 15-20 menitan, tergantung kepadatan lalu lintas.
“Kalau nyebrang Jembatan Ngembik, langsung sampai kota. Saya bisa tiba ke pasar lebih cepat, dan kalau ada sayur yang kurang, saya masih ada waktu untuk mencari di Pasar Gotong Royong,” imbuhnya.
Jembatan Kali Progo Sucipto Suwigo ini dibangun oleh pemerintah sejak 2023, dan selesai dalam kurun waktu 10 bulan.
Terkait pendanaan jembatan ini, pemerintah pusat memberikan bantuan rangka jembatan bentang 100 meter dan lebar 7 meter di atas Kali Progo.
Pemprov Jateng telah mengalokasikan Rp 44,6 miliar untuk memasang rangka dan melaksanakan pembangunan jembatan.
Sementara Pemkot Magelang dan Pemkab Magelang telah menyediakan lahan untuk perluasan akses jalan menuju jembatan sepanjang 3,08 kilometer di zona Kramat Selatan dan Rejosari.
Terpisah, Kepala DPUPR Kota Magelang MS Kurniawan menyebutkan, guna mendukung pembukaan akses jalan menuju jembatan, pihaknya membebaskan sekitar 43 bidang tanah dengan nilai Rp 16 Miliar.
“Kita juga masih merencanakan untuk pelebaran dan pembangunan Jembatan Kali Bening yang masih sempit,” jelasnya.
Jembatan Kali Bening tersebut lokasinya berada di Jalan Rambutan.
Atau tidak jauh dari Jembatan Kali Progo Sucipto Suwigo.
Berdasarkan rencana, pihaknya akan melebarkan jalan di Jalan Rambutan sampai Kupatan selebar 8 meter.
Terkait anggaran pelebaran jalan dan pembangunan jembatan akan diusulkan pada 2026. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto