Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Tradisi Rejeban Warga Dusun Ketep Magelang Tak Mati Ditelan Modernisasi

Puput Puspitasari • Kamis, 9 Januari 2025 | 05:23 WIB
Pementasan seni budaya meriahkan acara Rejeban di Dusun Ketep, Kabupaten Magelang, Rabu Kliwon (8/1/2025).
Pementasan seni budaya meriahkan acara Rejeban di Dusun Ketep, Kabupaten Magelang, Rabu Kliwon (8/1/2025).

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Tradisi Rejeban yang dilakukan masyarakat yang bermukim di lembah-lembah gunung nyatanya masih lestari.

Bisa dibilang, tradisi Rejeban tak mati ditelan modernisasi.

Jawa Pos Radar Magelang mengulik tradisi Rejeban yang dilakukan warga Dusun Ketep, Kabupaten Magelang.

Dusun ini hanya berjarak beberapa meter dari tempat wisata Ketep Pass.

Ketua RT 07 RW 2 Dusun Ketep, Suyatno, merasakan tradisi Rejeban makin ke sini, makin ramai. Modernisasi justru membuat tradisi ini semakin dikenal masyarakat luas.

Kemudahan komunikasi dinilai sangat mendukung dari sisi publikasi atau penyebaran informasi.

“Sekarang ini malah makin ramai, karena kita lebih mudah mengundang para tamu untuk datang, seperti saya ini cukup telepon atau membagikan informasi melalui grub-grub WA (WhatsApp) yang saya ikuti,” ujar Yatno—sapaan akrabnya, Rabu (8/1/2025).

Dirinya mengamati, tamu-tamu jauh yang dulunya tidak menghadiri undangan Rejeban, beberapa tahun belakangan justru selalu menyempatkan datang.

“Rasanya senang, karena bisa bertemu sekalian melepas rindu, merekatkan rasa persaudaraan,” tutur pria 43 tahun itu.

Yatno menyebut, Rejeban sudah menjadi tradisi turun-temurun yang dijaga kelestariannya.

Di Dusun Ketep, acara Rejeban pasti dilaksanakan setiap hari Rabu Kliwon, dalam penanggalan kalender Jawa.

“Dari simbah-simbah yang dulu seperti itu, kalau mengadakan Rejeban pasti di Rabu Kliwon,” akunya.

Ia bercerita, Rejeban merupakan acara merti desa yang dilaksanakan pada bulan Rejeb.

Karena itu, dikenal dengan istilah Rejeban.

Merti desa dimaknai sebagai acara bersih-bersih desa, juga ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas berkah apa yang selama ini mereka rasakan.

Rejeban kemudian menjadi acara besar, bahkan kehebohannya melebihi acara Lebaran atau Idul Fitri.

“Rejeban bisa menjadi hari pesta rakyat,” ucapnya.

Kata Yatno, warga setempat sudah mempersiapkan finansial untuk menyelenggarakan Rejeban yang hanya dilaksanakan sehari semalam.

Mereka bakal mengundang banyak tamu yang jumlahnya tidak terbatas.

“Kami mengundang sebanyak-banyaknya saudara dan teman. Kalau mereka datang semua, kami

Selain itu, ada berbagai penampilan kesenian dipersembahkan untuk menghibur para tamu.

Di Dusun Ketep, pagelaran seni budaya dihelat sejak pukul 13.00.

Warga setempat nanggap kelompok kesenian Wahyu Turonggo Manunggal (WTM) dari Tlogomulyo, Boyolali.

Mereka menampilkan kesenian tari warok dugem, tari topeng tua, tari cendrawasih, tari warok genjik, tari kuda kepang.

Malamnya, pukul 20.30, dilaksanakan pertunjukan ketoprak. Bahkan dari flyer acara yang disebar, tertulis pesan “Ra Moro, Ra Boloo”.

“Semua biaya penyelenggaraan Rejaban ditanggung masyarakat. Ada iuran per-KK, kalau tidak salah Rp 120 ribu untuk membiayai semua kebutuhan pentas seni di acara Rejaban termasuk untuk pengajian Isra Miraj,” terangnya.

Menurut Yatno, biaya tersebut tidak menjadi beban bagi warga.

Mereka secara sukarela membayar iuran, agar bisa menyuguhkan hiburan yang berkesan bagi para tamu-tamu yang datang.

Selain itu, setiap rumah juga mengeluarkan biaya masing-masing untuk menyuguhkan camilan dan makanan prasmanan.

Menu yang dihidangkan tergantung dari masing-masing pemilik rumah.

Yang pasti, kata Yatno, ada lauk dari daging atau ikan.

“Pasti ada dagingnya. Entah itu daging ayam, sapi, kambing, atau ikan lele. Masuk di rumah mana pun, kalau Rejeban pasti ada itu,” terangnya.

Ia mengaku, biaya yang dikeluarkan tiap rumah untuk memberikan suguhan mencapai jutaan.

Titik puasnya adalah rumahnya didatangi banyak tamu, dan para tamu mau mencicipi hidangan yang disajikan.

“Senang mbak kalau banyak yang datang, karena kami benar-benar mempersiapkan untuk makanan dan minum untuk tamu. Walaupun banyak biayanya, kami happy-happy saja,” ujarnya.

Ia berharap, tradisi Rejeban tidak akan punah ditelan zaman.

Namun justru semakin banyak inovasi, agar semakin banyak diminati. 

Tamu Rejeban, Barid, mengaku senang mendapatkan undangan Rejeban dari saudaranya di Dusun Ketep.

Dirinya pun menyempatkan hadir untuk memenuhi undangan tersebut.

Menurutnya, Rejeban di Dusun Ketep selalu ramai setiap tahunnya.

Pentas seni yang disajikan juga selalu berbeda-beda.

“Saya selalu rindu datang Rejeban di Ketep, karena suasananya selalu beda dan keramahan dari warga setempat yang luar biasa,” ungkapnya. (put/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#magelang #Rejeban #ketep