Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Hetty 40 Tahun Berjualan PKL Gudeg Ayu di Parkiran Informa Magelang, Empat Anaknya Bergelar Sarjana, si Bungsu Kuliah S2 di Edinburgh Skotlandia

Puput Puspitasari • Selasa, 7 Januari 2025 | 03:37 WIB
Hetty tengah melayani pembelinya yang memasan gudeg dengan lauk telur dan dada ayam.
Hetty tengah melayani pembelinya yang memasan gudeg dengan lauk telur dan dada ayam.

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Gudeg Ayu Bu Hetty menjadi salah satu kuliner yang terkenal di Kota Magelang.

Meski lapaknya terlihat sangat sederhana, hanya ada satu gerobak dan meja kursi tanpa atap, namun pelanggannya sudah mencapai ratusan.

Usut punya usut, Hetty sudah 40 tahun berjualan gudeg.

Ia bercerita, usaha ini dijalankan hanya bermodal nekat.

Ia tidak mau, anak turunnya memiliki nasib sama seperti dirinya.

Makan kesulitan, apalagi untuk membeli barang-barang fashion untuk menunjang penampilan.

“Waktu itu saya kepepet. Pokoknya anak-anak saya harus bisa makan enak, bisa sekolah tinggi, bisa beli baju,” ujar Hetty ditemui Jawa Pos Radar Magelang di lapaknya yang berada di area parkir Informa Tidar Magelang, Senin (6/1/2025).

Hetty kemudian memulai usahanya pada 1985.

Ia bercerita, tempat yang dipakai berjualan saat ini, dulunya merupakan pasar pagi.

Pelanggan pertamanya dari pedagang dan masyarakat yang hendak berbelanja kebutuhan dapur.

Setelah pedagang pasar pagi pindah ke Pasar Gotong Royong, Hetty memilih bertahan berjualan di lokasi ini.

Pelanggannya bukan berkurang, justru makin bertambah.

Karena setelah pasar pagi pindah, lokasi ini dipakai untuk taman parkir dan bermain anak.

Ia juga mendapat pelanggan dari keluarga pasien yang berobat di RSUD Tidar Magelang.

Hetty tidak menyangka usahanya nyantol di hati masyarakat.

Ratusan pelanggan datang tiap hari, silih berganti.

“Saya jualan nggak mikir apa-apa, yang penting dijalani,” terangnya.

Dari usahanya berjualan gudeg ini, Hetty mampu membiayai pendidikan untuk keempat anaknya.

Semuanya meraih gelar sarjana. Dan anak terakhirnya, merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), lalu diterima bekerja di pertambangan.

Anak bungsunya itu pun kemudian memilih melanjutkan pendidikan S2 di Edinburgh, Skotlandia.

“Sepatu saya ini dibelikan anak laki-laki saya, dibelikan dua. Satu biru, satu hijau,” ujarnya sambil menunjuk sepatu dan tersenyum.

Hetty bersyukur, usahanya ini tidak hanya membuat keluarganya mentas secara ekonomi.

Tapi juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Saat ini, Hetty memiliki tujuh karyawan yang setiap harinya membantu memasak dan berjualan.

“Kita mulai jualan pukul 05.00 sampai habis. Tapi nggak sampai Zuhur sudah habis dan pulang,” ungkapnya.

Satu porsi nasi gudeg dibanderol dengan harga bervariasi.

Yang menentukan harga paket gudeg adalah lauk pendampingnya.

Paling murah gudeg lauk krecek dan telur Rp 10.000.

Paling mahal paket lauk dada dan telur Rp 35 ribu.

Dirinya mengaku, jika gudegnya dikenal dengan harga murah.

Siapapun bisa membeli, sesuai dengan kantong masing-masing konsumen.

Karena itu, pelanggannya mulai dari masyarakat kelas bawah, sampai kalangan elit pun ada.

“Jenderal-jenderal juga sering ke sini,” tuturnya.

Gudeg milik Hetty juga sudah menjadi buruan wisatawan luar kota, terutama saat hari libur dan hari raya keagamaan.

Pembelinya banyak dari Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya.

“Saya nggak tahu gudeg saya itu khasnya seperti apa. Yang bisa menilai adalah konsumen,” imbuhnya.

Iqbal, pelanggan setia Hetty mengaku, jika Gudeg Ayu Bu Hetty memiliki cita rasa yang khas.

Manis dan gurihnya pas. Harganya pun terbilang ramah di kantong untuk sebuah makanan yang legendaris.

“Gudeg yang lainnya biasanya lebih ke manis, kalau punya Bu Hetty masih ada rasa gurihnya. Harganya juga murah. Makan bertiga, cuma habis Rp 50.000-an sudah sama minum,” tuturnya.

Iqbal juga sempat jajan saat momen liburan sekolah kemarin.

Ia harus rela mengantre sekitar 15 menit untuk bisa menyantap satu porsi nasi gudeg.

“Saya paling suka gudeg yang dikasih manggar. Saya rela antre lama, karena memang rame sekali,” pungkasnya. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#pkl #informa #Universitas Gadjah Mada (UGM) #ugm #gudeg #kuliner magelang