RADARMAGELANG.ID, Magelang–Dalam setahun, sedikitnya 40 mahasiswa dan tenaga pendidikan Universitas Tidar (Untidar) Magelang menjalani konseling di Unit Layanan Bimbingan Konseling (ULBK).
Jumlah itu tidak menutup kemungkinan bisa lebih banyak.
Mengingat tekanan yang dihadapi remaja saat ini cukup berat.
Rektor Untidar Magelang Prof Sugiyarto menyampaikan, adanya ULBK ini pastinya sangat membantu para mahasiswa untuk melakukan konsultasi terkait masalah yang ada pada dirinya.
Ia mengaku, adanya unit ini merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan dalam memberikan fasilitas kepada mahasiswa, terutama adanya kasus-kasus anak generasi sekarang yang cukup bermasalah dengan masalah mental.
“Sehingga muncul banyaknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa, ini menjadi perhatian penuh kami,” ucapnya.
Sugiyarto mengaku, semakin padat dan tingginya tuntutan membuat tingkat stres akan meningkat.
Apalagi di generasi sekarang, ketika dibebani tugas-tugas yang berat, banyak yang mengeluh dan mengaku stres.
“Selain itu, dampak dari interpretasi dengan program MBKM, juga banyak yang menjadi keluhan para mahasiswa,” jelasnya.
Sementara itu, Psikolog UGM Diana Setiyawati mengatakan, salah satu faktor utama yang bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang, khususnya anak-anak dan remaja sekarang adalah faktor keluarga.
Jika di dalam lingkungan keluarga sudah didasari dengan pondasi yang kuat, seperti adanya cinta kasih, saling support dan saling percaya.
“Keluarga harus memenuhi kebutuhan psikologis anggota keluarganya, termasuk memberikan cinta, kepercayaan, dan penghargaan. Ketika hal ini tidak terpenuhi, anak-anak akan mencari rasa cinta dan pengakuan di luar rumah, yang sering kali salah arah,” terangnya.
Ia juga mengatakan, saat ini literasi masyarakat soal kesehatan mental juga sudah mulai meningkat dan berangsur membaik.
Sehingga sudah banyak masyarakat, khususnya para remaja yang duduk di bangku kuliah mengetahui tanda-tandanya.
“Dan trennya juga bisa diprediksi bakal meningkat. Baik sebatas cemas hingga depresi, dan depresi ini menempati urutan paling banyak,” jelasnya.
“Memang, ada orang-orang yang lebih rentan dari orang lain. Sehingga muncul adanya kasus mahasiswa bunuh diri, itu karena dulu ketika kecil mendapatkan pendidikan yang sangat keras. Sehingga ketika hal ini tidak tercapai, bisa mentrigger rasa cemas berlebih,” tambahnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto