RADARMAGELANG.ID, Magelang - Museum Diponegoro berlokasi di Jl. Pangeran Diponegoro, Kota Magelang.
Museum ini berdiri di gedung bersejarah yang dahulu menjadi saksi penangkapan sang pahlawan pada 28 Maret 1830.
Pada hari tersebut, Jenderal de Kock memaksa Pangeran Diponegoro untuk mengadakan perundingan dan mengakhiri perang.
Namun, Pangeran Diponegoro dengan tegas menolak. Sayangnya, Belanda yang sudah merencanakan penyergapan dengan matang, berhasil menangkapnya.
Ruangan utama museum ini menjadi tempat bersejarah tempat perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Belanda.
Di ruangan tersebut terdapat 4 kursi dan 1 meja yang dahulu digunakan dalam perundingan itu.
Menariknya, terdapat guratan pada kursi yang dipercaya sebagai jejak kuku Pangeran Diponegoro, yang kala itu merasa sangat marah dan kecewa atas taktik licik Belanda.
"Ruangan ini adalah tempat penangkapan dan perundingan Pangeran Diponegoro," kata Sunaryo, pemandu museum, sambil menunjukkan kursi bersejarah tersebut.
Selain kursi dan meja, museum ini menyimpan berbagai benda peninggalan Pangeran Diponegoro yang penuh nilai sejarah.
Antara lain jubah yang ia kenakan, bale-bale untuk salat, cangkir, poci, kendi air yang selalu dibawa saat berperang, serta kitab Taqrib asli miliknya.
Salah satu benda yang paling menarik perhatian adalah kendi milik Pangeran Diponegoro.
"Kendi ini sangat istimewa, karena bisa menyediakan air minum bagi lebih dari 100 prajurit," jelas Sunaryo.
Museum ini dibuka tahun 1969 dan kini menjadi tempat wisata sejarah. Setiap bulan, museum ini dikunjungi 200 hingga 300 orang.
Bahkan pada hari libur angka ini bisa meningkat hingga lebih dari 500 pengunjung.
Pada momen tertentu pengunjung mencapai 1.850 orang dalam sehari.
Dalam rangka Hari Pahlawan, Museum Diponegoro biasanya mengadakan acara haul Pangeran Diponegoro yang dihadiri oleh tokoh ulama dan pejabat Kota Magelang.
Meski tanggal acara haul tidak selalu bertepatan dengan 10 November, harapan untuk memperingati jasa-jasa Pangeran Diponegoro tetap terasa kuat.
"Harapan saya, masyarakat semakin yakin dan menghormati bahwa di sini ada petilasan seorang panglima besar.
Saya berharap semuanya bisa berkunjung ke sini untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro," ujar Sunaryo.
Museum Diponegoro terbuka untuk umum pada hari kerja, Senin hingga Jumat, mulai pukul 07.00 hingga 15.30.
Dengan surat resmi, museum ini bisa buka di luar jam operasional, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menapak tilas dan menghormati perjuangan Pangeran Diponegoro. (rosalia salma azzahra/laili febrianti/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo