Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Soerojo Magelang: Pascapandemi, Masyarakat Alami Gagap Sosial, Ini Menimbulkan Masalah Baru

Puput Puspitasari • Jumat, 27 September 2024 | 04:15 WIB
Direktur Utama RS Soerojo dr Rukmono Siswishanto, SpOG (K), MKes, MPH.
Direktur Utama RS Soerojo dr Rukmono Siswishanto, SpOG (K), MKes, MPH.

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Gempuran konten yang tidak mendidik di media sosial rupanya menjadi salah satu pemicu krisis mental di kalangan masyarakat, khususnya anak muda.

Situasi itu diperparah dengan pandemi Covid-19, yang telah membuat seseorang lebih lama berdiam diri di rumah, ketimbang bersosial atau bermasyarakat.

Mereka pun menjadi lebih sering menggunakan gawai untuk mencari hiburan.

Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Soerojo dr Ratna Dewi Pangestuti MSc, SpKJ, mengungkapkan, pandemi Covid memang meninggalkan masalah tersendiri.

Pascapandemi, masyarakat Indonesia mengalami gagap sosial.

Pasalnya, masyarakat telah mengisolasi diri selama dua tahun di rumah.

Mereka kemudian kaget karena harus kembali belajar bersosialisasi.

Sementara selama dua tahun, kehidupan mereka ditemani internet yang menjadi kebutuhan penting untuk mendukung aktivitas mereka.

“Kondisi ini memang membuat semua tatanan (kehidupan) menjadi banyak berubah,” ujar Ratna beberapa waktu lalu kepada Jawa Pos Radar Magelang usai acara temu pelanggan bertema RS Soerojo Siap Bertransformasi Mewujudkan Indonesia Emas 2045, di Auditorium Gedung Edusmart Soerojo Hospital.

Menurutnya, gagap sosial menimbulkan banyak masalah baru.

Banyak warga mengalami depresi dan cemas.

“Tidak hanya dewasa, depresi dan cemas itu dialami oleh anak-anak sampai orang dewasa,” imbuhnya.

Kondisi depresi itu bahan memicu beberapa masalah lain, seperti perundungan, penggunaan narkoba, merokok, alkohol, pelecehan, juga terjadi penyimpangan seksual.

Selain itu, perubahan maupun tuntutan gaya hidup dan tingginya tekanan pekerjaan membuat usia demensia (kepikunan) menjadi lebih maju.

“Usia demensia sekarang lebih maju, usia 55 tahun sudah ada yang kena demensia, karena depresi yang berkelanjutan itu bisa menyebabkan predemensia,” terangnya.

Masalah-masalah ini bisa diatasi dengan penguatan hubungan keluarga.

Namun juga harus berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater.

“Kita ada program outreach dan menggandeng banyak komunitas untuk mengatasi masalah kejiwaan dengan pendekatan keluarga,” terangnya.

Sementara terhadap pasien gangguan jiwa berat, pihaknya memberikan tindakan khusus, berupa injeksi long-acting.

“Injeksi long-acting ini dilakukan sebulan sekali, obatnya itu menjadi depo di lemak, dan dia (obat) rilis setiap hari dari sedikit demi sedikit, sehingga mengurangi tidak harus minum obat setiap hari,” ujarnya.

Pelayanan ini juga memudahkan pihaknya dalam mengelola pasien, terutama yang mengalami kendala untuk dibawa ke rumah sakit.

Sementara itu, Direktur Utama RS Soerojo dr Rukmono Siswishanto, SpOG (K), MKes, MPH, menyebut gagap sosial juga dipicu perbedaan komunikasi antargenerasi.

“Generasi tua ingin mewariskan nilai-nilai, tapi yang muda memiliki gaya berbeda. Komunikasi ini yang harus kita jembatani,” kata Rukomo. (put/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#indonesia emas #cemas #pandemi covid 19 #depresi