RADARMAGELANG.ID, Magelang–Kesenian tradisional sangat beragam, salah satunya kesenian jathilan yang hingga sekarang masih eksis dan banyak penggemarnya.
Kesenian jathilan tak luput dari hal-hal spiritual perpaduan antara seni tari dan magis.
Tak heran jika para pemain jathilan mengalami kerasukan atau yang sering disebut dengan kesurupan.
Kesurupan diyakini sebagai kondisi kerasukan atau kemasukan roh, hantu, setan, atau dewa dengan perubahan kesadaran.
Kesurupan inilah yang menjadi salah satu daya tarik penonton saat menyaksikan kesenian jathilan.
Kabupaten Magelang memiliki beragam jenis kesenian jathilan, dengan ratusan komunitas kesenian yang terbentuk.
Salah satunya Komunitas Satria Singa Mandala (SSM) yang berasal dari Dusun Ngalian, Desa Baleagung, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.
Komunitas ini baru berdiri pada tahun 2023 lalu, namun sudah cukup terkenal di wilayahnya.
Karena menampilkan berbagai jenis kesenian, di antaranya, kesenian warok putra, warok putri, dan topeng ireng.
Biasanya para pemain SSM kesurupan sosok pocong.
Hal inilah yang menjadi daya tarik para penonton.
Hingga penonton yang hadir dalam setiap pementasan mencapai ratusan orang bahkan lebih.
Pada Minggu, 15 September 2024 lalu, SSM ikut serta dalam memeriahkan Pasar Pagi Desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.
Kegiatan ini ditonton ratusan warga.
Pada pementasan tersebut, para pemain juga kerasukan pocong yang membuat heboh para penonton, terutama bagi orang yang baru pertama kali menyaksikan pentas jathilan SSM.
Orang yang kerasukan bukan hanya pemain laki-laki, tetapi juga pemain wanita yang dominan.
Penonton pun ada yang ikut kerasukan.
Keunikan dari kesurupan pocong ini adalah ketika orang tersebut meminta agar dirinya dibungkus dengan kain jarik seperti layaknya mayat.
Tak hanya itu, ia juga meminta agar dirinya diangkat oleh 7 orang untuk mengelilingi panggung pementasan 3x layaknya jenazah.
Para penonton dan warga di lokasi harus membaca sholawat.
Terkadang orang yang kesurupan itu memberikan nasihat kepada para penonton agar selalu ingat kepada Sang Pencipta alam semesta.
Inilah yang membuat para penonton merinding hingga menangis ketakutan.
Karena hal ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwasanya semua manusia besoknya pasti akan mengalami yang namanya kematian.
Komunitas kesenian SSM biasanya melakukan ziarah kepada leluhur H-1 sebelum pentas.
“Sebelum menampilkan pentas kesenian jathilan, biasanya kami (para sesepuh/tokoh penting) melakukan ziarah di malam hari kepada para leluhur Dusun Ngalian, khususnya Mbah Kyai Ares dan Nyi Ares. Dengan meminta doa restu kepada Allah SWT agar dilancarkan saat pementasan berlangsung,” kata Ketua Satria Singa Mandala Adi Purnomo kepada Jawa Pos Radar Magelang.(mg19/aro)
Editor : H. Arif Riyanto