RADARMAGELANG.ID, Magelang—Wahudi berlayar dari aliran realis menuju abstraksionisme.
Sebuah keputusan tegas diambilnya, sekaligus untuk menjawab tantangan sang maestro—almarhum Haji Widayat.
Meski begitu, ia belum menyebutnya bermuara.
Wahudi masih bereksplorasi mematangkannya.
“Saya tetap dengan gaya ini, tapi tetap ada pengembangannya. Sepertinya, saya merasa baru di awal, walaupun sudah lama menyelaminya,” kata Wahudi kepada Jawa Pos Radar Magelang, Jumat (9/8/2024).
Jatuh cinta pada seni lukis abstrak bermula dari mendiang Haji Widayat.
Ia dicekoki karya seni kontemporer dari para seniman Eropa, seperti Picasso, Joan Miro, serta karya pelukis-pelukis modern Indonesia di era-1994.
Kala itu, Widayat kemudian menantang Wahudi untuk bermain abstrak. Meskipun sang maestro tahu, dirinya seorang seniman desa.
Melukis hanya berbekal kemampuan otodidak, yang diawalinya tahun 1990.
“Saya sempat diam agak lama, dan kemudian saya jawab. Suatu saat, saya akan menerima dan menjawab tantangan bapak,” tuturnya menirukan ucapannya sendiri kepada Widayat waktu itu.
Wahudi banyak terinspirasi dari sosok Haji Widayat.
Pelukis dekoratif ternama di Indonesia itu punya kemampuan yang sampai saat ini membuatnya kagum.
Yakni, soal teknik pewarnaan.
Semua percampuran warna yang dihasilkan oleh Widayat begitu magis.
“Bapak (Haji Widayat) itu kalau mencampur warna seperti ngawur, tapi jadi bagus. Saya heran sekali itu. Dan ternyata, pencampuran warna di abstrak juga mirip-mirip seperti itu,” imbuhnya.
Meski dengan kesederhanaannya berkarya, Wahudi bangga, Haji Widayat mengoleksi empat lukisannya.
Kini disimpan di Museum Haji Widayat (MHW).
“Ada lukisan potret ibu dan bapak Widayat, potret bapak (Widayat), orang berjualan di pasar, dan lukisan anak yang sedang bermain layangan,” sebutnya.
Seniman kelahiran Borobudur ini memulai karya abstrak pada tahun 2016 lalu.
Sebelum sampai di titik ini, ia melewati banyak waktu.
Termasuk ketika mengenal Deddy Irianto, pemilik Langgeng Gallery. Ia berproses melukis broken mirror dan melukis on the spot.
Di Langgeng Gallery, banyak buku Eropa, negara Barat, China kontemporer yang ia baca.
Dari situlah, ia mengenal karya abstrak Willem De Kooning, Piet Mondrian, dan lainnya.
“Ini bagian dari perjalanan saya untuk memperkuat kemampuan abstrak saya,” ujarnya.
Karya abstrak termutakhirnya pun terpanjang di dinding Mosvia Cofee, Gedung Polres Magelang Kota.
Di kafe inilah, Wahudi menggelar pameran tunggal berjudul Perjalanan Wahudi: Jejak Tanpa Batas dari Satu Titik ke Titik Kreatifitas Selanjutnya.
Ia menata tiga karya abstrak berjudul Abstract Alien Series secara berjejeran. Karya ini dibuatnya tanpa sentuhan kuas.
Dalam karyanya itu, ia ingin mengajak penikmat untuk membayangkan adanya kemungkinan kehidupan di luar bumi, termasuk mengenal makhluk asing.
Bagi Wahudi, setiap bagian terkecil kehidupan di alam semesta ini juga menunjukkan keabstrakan.
Seperti sel bakteri yang diperbesar, batu-batuan, bahkan tubuh manusia sekalipun.
“Bisa dibilang, karya abstrak ini adalah titik pencapaian kekaryaan saya,” ungkapnya dengan yakin.
Perjalanan hidup Wahudi dalam berseni punya arti dan kepuasan tersendiri.
Dari berbagai gaya lukis yang pernah dicoba, ia rasakan ada benang merahnya. Terutama dari realis ke abstrak.
“Ketika saya melukis realis, saya mengidolakan karya-karya abstrak. Dan ketika saya di abstrak, saya melihat karya realis untuk memberikan dimensi ruang abstrak,” tuturnya.
Pada pameran kali ini, Wahudi memajang 40 karya dengan berbagai gaya lukisan. Mulai dari watercolor, realis, broken mirror, lukisan on the spot, seri lukisan on the street, abstrak. Juga lukisan yang mengangkat spiritual Jawa dan Timur Tengah.
Karya menarik lain dari pameran Wahudi kali ini adalah lukisan Helmet Series: Optimistic.
Lukisan realis yang dibuat tahun 2008 ini menggambarkan sosok pria tua dengan guratan di wajah, menatap harapan dengan sorot mata yang begitu tajam.
“Ini tukang ojek yang sedang menunggu penumpang,” ucapnya.
Ada pula karya berjudul Adigang Adigung Adiguno.
Karya ini dibuat dengan media abu dari Gunung Merapi ketika erupsi di tahun 2010. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto