RADARMAGELANG.ID, Magelang – Pelaksanaan Pekan Raya Magelang (PRM) 2024 terus disorot.
Kali ini, Ketua DPRD Kota Magelang Budi Prayitno meminta dinas terkait tak perlu melibatkan event organizer (EO) dalam pelaksanaannya.
Acara tersebut cukup ditangani sendiri.
“Nggak usah pakai EO, langsung ditangani dinas sesuai tupoksinya,” ujar Udik—sapaan akrabnya, Senin (5/8/2024).
Dikatakannya, PRM merupakan agenda tahunan.
Sudah semestinya pihak dinas yang memprakarsai acara tersebut mengetahui kelemahan dan keunggulan acara tersebut.
“Diskusikan dengan dewan. Itu kan kegiatan rutin tahunan, harusnya paham apa-apa permasalahannya, dan apa jalan keluarnya agar acaranya sukses,” katanya.
Dari pada menggandeng EO, ia mendorong dinas untuk melibatkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan pegiat usaha kecil menengah untuk menggarap acara tersebut.
Apalagi, tujuan diadakannya PRM adalah untuk meningkatkan daya saing UMKM dengan produk-produk unggulannya.
“Intinya, tidak usah pakai EO-EO-nan. Buat konsep, ada kepanitiaan, bagi tugas, eksekusi,” ujarnya.
Ada juga yang lebih mendesak. Yakni terkait perputaran ekonomi. Apakah acara tersebut benar-benar membuat daya beli masyarakat meningkat, inflasi daerah, dan lainnya.
Sebelumnya, Udik menyayangkan event PRM tahun ini justru menonjolkan mainan khas pasar malam, seperti bianglala.
Apalagi mainan seperti itu ditempatkan di alun-alun.
Padahal yang ia tahu, secara konsep, PRM ditujukan untuk mengangkat potensi UMKM lokal. "Pihak penyelenggara, terutama EO telah mencoreng citra alun-alun sebagai ruang publik selama ini," sentilnya.
Yang ia bayangkan, PRM akan menjadi pusat pengenalan produk UMKM lokal ke masyarakat luas dengan konsep yang modern dan elegan.
Sekaligus menjadi kesempatan UMKM untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Kenyataannya, hampir sepertiga alun-alun dipakai untuk wahana permainan pasar malam dan banyak stan berbayar. Bahkan tidak ada korelasinya dengan PRM.
"Namanya saja Pasar Raya Magelang, tapi mohon maaf, itu tidak terlihat modern dan justru membuat citra alun-alun turun kelas," kritiknya. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto