RADARMAGELANG.ID, Magelang –Angkutan kota (angkot) di Kota Magelang bak hidup segan mati tak mau.
Sejak maraknya kepemilikan kendaraan pribadi dan ojek online (ojol), sopir transportasi umum ini mengeluh sepi penumpang.
Pendapatan mereka terus menurun dan mengalami kesulitan ekonomi.
Dalam sehari, para sopir angkot mengaku hanya bisa membawa pulang uang tak lebih dari Rp 50.000.
Salah satunya Mudiono, 58, yang sudah lebih dari 10 tahun mencari nafkah sebagai sopir angkot.
Ia mengeluhkan penumpang yang kian hari semakin sepi.
Mudiono pun merasa terjepit dengan kewajibannya membayar uang setoran dan uang nafkah yang harus dibawa pulang.
"Saya kan narik jalur 8. Itu setoran per hari Rp 40.000, kadang gak nutup. Mana kebutuhan sekarang juga mahal," keluhnya saat ditemui Jawa Pos Radar Magelang di Pasar Kebonpolo, Senin (24/6/2024).
Menurutnya, sepinya penumpang bukan hanya karena masyarakat yang sudah memiliki kendaraan masing-masing.
Namun juga karena adanya ojek online yang dianggap lebih praktis dan mudah melakukan antar-jemput penumpang.
Daripada harus menunggu angkutan umum di pangkalan.
Namun, sayangnya kemudahan tersebut membuat nasib para sopir angkot tak sejahtera.
Sopir angkot lainnya, Dwi, 40, juga merasakan hal sama.
Ia kini hanya bisa mengandalkan penumpang pelajar.
Namun, saat musim libur tiba, penumpangnya tidak ada.
"Karena jalur saya ini kan banyak ngelewatin sekolah, jadi penumpang banyaknya ya anak sekolah. Kalo pas libur begini, wah sepi sekali," katanya.
Ia pun berharap agar Pemkot Magelang bisa membuat suatu program yang dapat menghidupkan kembali minat masyarakat menaiki angkutan umum.
Sehingga para sopir angkot dapat bertahan hidup.
Sehingga tak menambah angka pengangguran di Kota Magelang.
"Ingin sekali menyampaikan. Misalnya, ada program dari pemkot. Seperti Taman Kyai Langgeng (TKL) dulu yang setiap minggu ada acara. Kayak tontonan, itu lumayan untuk meningkatkan penumpang," ujarnya. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto