RADARMAGELANG.ID, Magelang – Hal berbeda terjadi di perempatan Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, Senin (10/6/2024) pagi.
Tampak seorang seniman sedang melakukan aksi happening art menari mengitari perempatan Pasar Rejowinangun, serta melukis on the spot di tempat tersebut.
Seniman tersebut I Made Arya Dwita Dedok asal Bali.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Magelang, Dedok --sapaan akrabnya-- melakukan aksi happening art persis di zebra cross sambil menyebarkan bunga mawar.
Aksi tersebut dilakukan mengitari perempatan Pasar Rejowinangun sebanyak satu kali
Setelah itu, ia melanjutkan dengan melukis on the spot di kanvas ukuran 200x150 cm.
“Kegiatan ini dalam rangka mempersembahkan sesuatu yang bisa saya lakukan, melalui kesenian dengan mengambil tempat di perempatan. Kalau di Bali itu, namanya Catus Pata,” terang Dedok kepada wartawan.
Ia menerangkan, Catus Pata itu mengelilingi perempatan untuk menyatukan energi-energi positif kepada lingkungannya.
Dan mempersembahkan sesuatu melalui doa, dengan harapan semua masyarakat Kota Magelang aman, tentram, dan loh jinawi.
Dedok berharap, setiap tahunnya bisa menyelenggarakan acara seperti ini.
“Karena di sini saya sebagai seniman, satu-satunya yang bisa saya persembahkan untuk negara ini dan saat ini saya juga tinggal di Magelang. Jadi, nilai- nilai positif yang bisa saya berikan untuk masyarakat ya tentang kebudayaan dan sebuah rasa toleransi,” bebernya.
Agar masyarakat juga tahu dan bisa berterima kasih kepada bumi pertiwi ini.
“Yang selama ini mungkin kita lupa, kalau kita tinggal di bumi pertiwi yang loh jinawi subur ini. Tapi terkadang kita lebih suka melihat indahnya emas negeri orang, daripada emasnya negeri sendiri. Saya ingin masyarakat ini bisa lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya, daripada memikirkan hal-hal yang jauh di sana,” imbuhnya.
Dedok menjelaskan, makna lukisan catus pata menggambarkan lingkungan ini ada pasar, Pecinan, dan Tugu Adipura.
“Ini menandakan lokasi yang kita pakai sekarang mungkin tahun depan sudut yang mana. Karena tiga tahun lalu kita sudut titik nol sekarang sudut perempatan pasar,” ujar seniman yang Senin (10/6/2024) tepat berusia 53 tahun.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang (DKKM) Muhammad Nafi mengatakan, pihaknya sangat mendukung agar bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.
“Disamping acara ulang tahun pribadi Mas Dedok, ini juga merupakan sebuah aksi ruwat bumi atau catus pata dalam Bahasa Bali,” ucapnya.
Kalau di Bali, kata Nafi, perempatan (jalan) itu sangat dihormati dan menjadi sentral keramaian.
“Semoga kita nanti bisa menghormati tata ruang yang ada, sehingga bisa menjadi jalinan yang saling memanusiakan,” ujarnya.
Sementara itu, hadir juga tokoh masyarakat Slamet Santoso yang menyatakan, kegiatan ini merupakan sesuatu yang membuat Kota Magelang menjadi lebih semarak.
“Memang semua kota, apalagi kota-kota seni dunia seperti Paris, London, dan Eropa itu yang bisa menghidupkan masyarakat seni. Ini merupakan awal dari Mas Dedok yang istrinya asli Magelang, bisa membawa Magelang lebih dikenal lagi. Bagus sekali, ide kreatifnya sangat luar biasa,” katanya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto