RADARMAGELANG.ID, Magelang – Universitas Tidar (Untidar) akan membangun masjid dan laboratorium rekayasa di Gedung Kuliah Terpadu (KTU). Masjid baru ini dinamai masjid 17.
Masjid dibangun di bagian terdepan Untidar Kampus Sidotopo.
Rektor Untidar Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si menuturkan, angka 17 dimaknai sebagai pengharapan karakter nasionalis religius bagi seluruh civitas akademika, khususnya bagi mahasiswa.
“Nama 17 adalah simbol nasionalis, 17 Agustus sebagai simbol hari kemerdekaan kita. Dalam nuansa religius, mengingatkan pada kewajiban shalat 17 rakaat tiap hari. Di samping makna 17 lainnya, kalau dalam bahasa Jawa ya ‘pitulas’ atau ‘pitulung lan kawelasan’ (pertolongan dan belas kasih),” tuturnya.
Pemilihan lokasi masjid Kampus Sidotopo adalah penerapan kebiasaan tradisi Jawa, bahwa masjid dekat dengan keraton.
Mengingat di Kampus Sidotopo nanti juga akan dibangun gedung rektorat.
Pihaknya berharap masjid dapat diakses siapapun.
Masyarakat dapat mengambil manfaat dari keberadaan masjid tersebut.
“Jadi kami bukan sebagai lembaga yang tertutup, tetapi terbuka untuk siapapun juga. Baik dengan sarana komunikasi agamis, sarana komunikasi nasionalis, budaya, ekonomi, olahraga, seni,” jelas rektor.
Selain masjid 17, Untidar juga membangun laboratorium rekayasa yang merupakan kelanjutan dari laboratorium terpadu 1.
Laboratorium dimenej secara terpadu di bawah UPA lab terpadu, UPA lab agroteknologi, taman agroteknologi.
“Sehingga prodi apapun nanti kalau bisa praktikum terpusat di lab terpadu 1 maupun 2 yang disebut dengan lab rekayasa ini. Jadi komunikasi lintas bidang bisa terjadi di tempat itu juga,” tambahnya.
Rektor berharap, Kampus Sidotopo menjadi kampus integratif yang menjunjung integritas.
Untidar semakin menunjukkan dinamika lintas agama, lintas bidang, kebersamaan, keterbukaan yang tercermin dari alumni Untidar nantinya. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo