Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Disperpusip Kota Magelang Kembangkan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, IPLM Tertinggi Kedua Se-Jateng

Puput Puspitasari • Rabu, 17 Januari 2024 | 03:15 WIB
Ruang Perpustakaan Umum Kota Magelang yang nyaman membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi pemustaka.
Ruang Perpustakaan Umum Kota Magelang yang nyaman membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi pemustaka.

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Magelang kembangkan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS).

Di mana pelayanan perpustakaan berorientasi pada kesejahteraan sosial.

Tidak sekadar menjadi tempat untuk membaca dan meminjam buku saja.

Kepala Disperpusip Kota Magelang Nurwiyono menjelaskan, pihaknya telah mengadakan berbagai pelatihan untuk peningkatan keterampilan pemustaka.

Di antaranya, pelatihan berbicara di depan publik,  budidaya maggot, membuat bucket, dan lainnya.

Bahkan alumni pelatihan itu ada yang sudah mentas menjadi wirausaha baru jasa pembuat bucket.

"Prinsipnya adalah aplikatif bisnis. Dan di sini (perpustakaan, Red) menjadi tempat untuk konsultasi, ketika mereka gagal atau mengalami kendala dalam menjalankan usaha," ujarnya, kemarin.

Perpustakaan sangat dimungkinkan untuk menambah pelayanan itu.

Karena pihaknya memiliki banyak referensi buku bisnis dan hal-hal yang berkaitan dengan keuangan.

Selain itu, pihaknya juga menggandeng dinas terkait. 

Ke depan, ia juga akan berkolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag).

Ia ingin menciptakan layanan konsultasi pranikah.

Kemudian menambah buku-buku bacaan seputar pernikahan, dan pengasuhan anak.

Pihaknya ingin perempuan atau calon ibu atau calon ayah bisa konsultasi dan memiliki bacaan yang bagus tentang bagaimana cara mengasuh anak.

Hal ini sangat memengaruhi kualitas generasi mendatang.

Bahkan ia menambah koleksi buku yang berkaitan dengan membangun karakter anak.

Karena ia ingin anak-anak remaja memiliki buku bacaan yang dapat memotivasi diri mereka menjadi generasi unggul.

Karena tidak dipungkiri, banyak kasus remaja yang mengalami putus asa. 

"Kita sudah komunikasi dengan Perpusnas, kalau kita ingin membangun layanan konseling. Tapi masih terkendala (lahan, Red)," ucapnya. 

Setidaknya, pelayanan Perpustakaan Umum Daerah Kota Magelang memenuhi enam dasar literasi. Yakni, literasi baca dan tulis, literasi numerasi, sians, digital, finansial, dan literasi budaya.

"Karena itu kita ingin menjaring komunitas-komunitas yang lebih luas," ungkapnya. 

Ia berharap, inovasi-inovasi pelayanan itu bisa membuat literasi membumi.

Yang berimbas pada meningkatnya indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM).

Meskipun saat ini, IPLM Kota Magelang menempati peringkat tertinggi kedua se-Jawa Tengah dengan nilai 93,11.

Atau berada di bawah Kota Salatiga dengan IPLM 94,48.

Upaya lain yang ditempuh adalah penguatan perpustakaan se-Kota Magelang.

Baru-baru ini, empat perpustakaan di Kota Magelang berhasil mendapatkan bantuan dari Perpusnas.

Berupa empat komputer dan 1.500 buku bacaan.

Yakni, Perpustakaan Kelurahan  Kramat Selatan, Rejowinangun Selatan, Panjang, Kemirirejo. Sedangkan jumlah perpustakaan se-Kota Magelang ada 316, baik di sekolah, di kelurahan, pojok baca, dan lain-lain.

Dari jumlah ini, baru 71 yang terakreditasi. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#literasi #inklusi #IPLM #disperpusip kota magelang #Kota Magelang