Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Hujan Deras, Mujahadah Bersama Gus Nurul Watucongol Ramai Ribuan Jamaah Gada Dewa

Lis Retno Wibowo • Kamis, 11 Januari 2024 | 20:04 WIB
RM KH Nurul Hidayat Ahmad Abdul Haq atau Gus Nurul menyalami para jamaah Gada Dewa yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti mujahadah dalam rangka memeringati meninggalnya Mbah Mad, Watucongol
RM KH Nurul Hidayat Ahmad Abdul Haq atau Gus Nurul menyalami para jamaah Gada Dewa yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti mujahadah dalam rangka memeringati meninggalnya Mbah Mad, Watucongol

RADARMAGELANG.ID, Magelang - Sekitar 7.000 jamaah Gada Dewa (Gabungan Pemuda Penderek Watucongol) memadati Ponpes Darussalam Watucongol Dalem Tengah, Rabu (10/1/2024) malam.

Meski sekitar ponpes di guyur hujan, mereka tetap antusias mengikuti mujahadah yang dihadiri RM KH Nurul Hidayat Ahmad Abdul Haq atau Gus Nurul.

Uniknya dari acara ini, Gus Nurul berdiri berjam-jam menyalami seluruh jamaah yang datang. Hal itu juga dilakukan istrinya, Nyai Hj Siti Fariqoh.

Puluhan santri juga sibuk menyiapkan hidangan makanan dan minuman untuk seluruh jamaah. Terlihat pula santri yang membawa hidangan sambil wara-wiri, menyisir jamaah di luar ponpes karena tak kebagian tempat.

Sekjen Gada Dewa Bambang menjelaskan, mujahadah ini dalam rangka memeringati meninggalnya KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau Mbah Mad yang merupakan ayah dari Gus Nurul.

Acara serupa juga dilaksanakan jamaah Gada Dewa di beberapa daerah lainnya.

“Kalau ditotal, kegiatan mujahadah malam Kamis Pahing ini diikuti sekitar 40.000 jamaah dari berbagai daerah, namun yang terpusat di Watucongol diikuti sekitar 7.000 jamaah dari Magelang dan sekitarnya,” tutur Bambang.

Mujahadah ini bentuk kecintaan jamaah kepada almarhum Mbah Mad. Di mata jamaah, Mbah Mad adalah sosok ulama kharismatik. Juga figur pluralis. Mbah Mad tokoh lintas agama.

“Mbah Mad tidak pernah memandang seseorang dari latar belakang. Tidak memandang agamanya, kastanya, pekerjaannya, dan kesehariannya. Semua diterima dengan baik,” kenangnya.

Acara mujahadah ini juga bukti warisan ilmu dan adab pada pendahulu di ponpes Watucongol benar-benar dilestarikan oleh generasi berikutnya.

Dulu, Mbah Mad juga rutin menggelar mujahadah setiap selapan untuk memeringati meninggalnya KH Dalhar—ayah Mbah Mad.

“Ini merupakan pelestarian ajaran Watucongol,” terangnya didampingi Humas Gada Dewa Hartono.

Menurut Bambang, mujahadah ini menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri pada Allah SWT. Juga merekatkan antarjamaah Gada Dewa. Ia harap jamaah Gada Dewa selalu rukun dan kompak.

Tidak mudah terpengaruh oleh gejolak yang terjadi baik di tingkat lokal, maupun nasional. Ini menjadi karakter Gada Dewa yang ingin nyawiji dengan siapapun.

“Kegiatan ini bisa menjadi penyegaran, agar kita tetap sefrekuensi. Karena bagi kita, punya satu lawan sudah terlalu banyak, punya seribu kawan masih kurang,” imbuhnya.

Di momen Pemilu 2024, Gada Dewa berkomitmen menjaga kondusivitas daerah.

Bahkan melarang jamaah menjadi golongan putih (golput) alias tidak menggunakan hak pilih untuk memilih pemimpin.

“Gada Dewa tidak boleh golput, harus memilih. Dengan memilih itu kita bisa melahirkan pemimpin-pemimpin terbaik,” bebernya.

Jamaah Gada Dewa, Nugroho, mengaku tidak pernah absen dengan acara ini. Jauhnya jarak Purworejo dengan Magelang tidak menyurutkan niatnya untuk mengikuti mujahadah di Watucongol.

“Bahkan kalau kebetulan ada acara yang bersamaan, saya tetap menyempatkan ke sini,” ungkapnya.  (put/web

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#ponpes watucongol #gada dewa #Mujahadah #gus nurul #KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau Mbah Mad