Pandemi Covid-19 membawa berkah tersendiri bagi Wigati Hati Nurani. Guru SMK Negeri 1 Magelang ini memanfaatkan waktu dengan menulis dan menulis. Sampai sekarang sudah 21 buku karyanya diterbitkan.
Wigati Hati Nurani mengatakan saat pandemi Covid tahun 2019 mengikuti pelatihan kepenulisan yang diadakan oleh MGI (Media Guru Indonesia). Karena ada tantangan untuk menulis setiap hari, akhirnya ia rajin menulis.
Selain itu, perempuan 53 tahun tersebut juga aktif mengikuti pelatihan secara online yang dimentori oleh Wijaya Kusuma atau yang akrab disapa Om Jay.
“Sejak saat itu setiap hari menulis di blog, baik blog pribadi maupun blog grup,” ceritanya.
Dengan menulis Wigati mengaku bisa menuangkan segala jenis perasaannya. Saat dirinya merasa senang, sedih, kecewa akan dilampiaskan dalam bentuk tulisan. Ia juga ingin memberikan manfaat bagi orang yang membacanya. Menurutnya, tulisan akan meninggalkan jejak sejarah.
“Menulis meninggalkan jejak sejarah yang abadi bahkan ketika penulis sudah tiada,” ucap guru mata pelajaran Teknik Dasar Ketenagalistrikan itu.
Baginya ide menulis mudah didapatkan. Ide muncul dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bahkan ketika melihat benda, pemandangan atau peristiwa ide menulis lansung muncul di pikiran Wigati.
Warga Mertoyudan, Kabupaten Magelang itu berpikir menulis tidak hanya asal menulis. Saat menulis dengan melibatkan hati, tulisan akan bermanfaat bagi orang lain. “Kuncinya, menulis dengan hati dan niatkan untuk dibagikan agar bermanfaat,”imbuhnya.
Wigati tidak menargetkan berapa buku yang harus diterbitkan. Ia hanya berupaya setiap hari menulis. Tulisan yang ditulis berupa fiksi dan nonfiksi. Jika sudah terkumpul, dipilah untuk diikutkan karya antalogi atau buku tunggal.
Salah satu karya yang paling berkesan berjudul Suatu Hari Bersama Bapak. Buku yang terbit September 2023 itu, merupakan kisah perjuangan ayah Wigati. Salah satu sosok yang menginspirasi Wigati. Lewat ayahnya ia belajar mendidik anak dengan penuh kasih sayang di tengah keterbatasan ekonomi.
“Memotivasi saya untuk menjadi guru dan perempuan mandiri,” tuturnya haru.
Menurut Wigati, jika muncul ide, langsung segera dituliskan. “Paling mudah lewat HP, tulis inti kalimat. Jangan pikirkan dulu benar atau salahnya, karena ada waktu untuk mengedit,” ujarnya memberikan tips menulis.
Jika sudah ada waktu, bisa dikembangkan dari outline atau kerangka kalimat.
Menulis sampai tidak mampu menulis lagi, menjadi harapan Wigati. Baginya literasi sangatlah penting. Sebagai pegiat literasi ia akan menerbarkan virus ini untuk generasi muda terutama siswa. (mg22/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo