RADARMAGELANG,ID, Magelang–Donor darah secara rutin dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Juga untuk mengetahui secara dini risiko penyakit serius, seperti Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), sifilis, hepatitis B, dan hepatitis C.
Pencari Pelestari Donor Darah Sukarela (P2D2S) Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Magelang Achadika Agus KP menjelaskan, pihaknya menggunakan alat pendeteksi penyakit berbahaya untuk pemeriksaan awal parameter empat penyakit menular yang sering ditemukan dalam darah pendonor. Pemeriksaan ini untuk mencegah terjadinya infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD). “Empat parameter itu wajib diperiksa di PMI sebelum darah ditransfusikan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Para pendonor memang tidak langsung mengetahui kualitas darah yang didonorkan. Kata Agus, darah pendonor akan dikarantina terlebih dulu dan diperiksa di laboratorium untuk uji saring. Jika lolos uji saring, lanjut dia, darah akan diproses lebih lanjut. “Dari itu (uji saring, Red), baru diketahui darah mana yang sehat dan mana yang tidak,” terangnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan beberapa tahap dan valid diketahui darah tidak sehat, pendonor akan dihubungi untuk mendapatkan informasi darah yang didonorkan tidak memenuhi syarat kesehatan. Pemberian informasi ini bersifat rahasia, hanya yang bersangkutan yang mengetahui.
“Inilah kelebihan melakukan donor darah di PMI. Secara tidak langsung, pendonor akan mengetahui berbagai penyakit menular,” ujarnya. (put/aro)