RADARMAGELANG.ID, Magelang – Kota Magelang menjadi salah satu kota di Jawa Tengah yang akan memasuki musim kemarau panjang mulai Mei 2026. Masyarakat harus bersiap diri untuk menyesuaikan aktivitas, seperti jadwal bercocok tanam.
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Magelang Siska Sri Yoga meminta masyarakat tidak resah dengan istilah El Nino “Godzilla” yang kini ramai menjadi buah bibir di media sosial. Namun kewaspadaan perlu ditingkatkan, karena dampak kemarau panjang bisa menyebabkan kekeringan.
“Jadi, El Nino Godzilla itu (sebuah) sebutan, karena memang kurun waktu kemaraunya cukup lama, tapi masih dalam skala normal. Tidak ekstrem tanpa hujan,” tuturnya, Jumat (24/4).
Para petani di Kota Magelang harus mulai mengatur strategi, agar mereka tidak menghadapi gagal panen. Yoga menyarankan para petani untuk memilih jenis tanaman dengan pola tanam minim air.
Meski intensitas hujan semakin rendah, bencana alam seperti kekeringan dan penurunan debit air tetap mengintai. Yoga mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air walaupun pasokan air bersih di Kota Magelang dalam beberapa tahun terakhir ini masih aman dengan sumber mata air yang ada. “Tapi kami tetap menganjurkan masyarakat untuk memanen air hujan, menyiapkan biopori dan tandon air komunal untuk jaga-jaga,” terangnya.
Yoga juga mengamati penggunaan air di Kota Magelang untuk kebutuhan mencuci meningkat signifikan. Hal ini ditandai dengan makin menjamurnya bisnis laundry.
“Yang sebenarnya perlu menjadi atensi adalah maraknya cuci atau laundry dengan meningkatnya aktivitas mahasiswa, dan lain-lain. Perlu ada mitigasi dan inovasi teknologi pengolahan air,” tambahnya.
Selain lebih bijaksana dalam penggunaan air, masyarakat harus merawat sumber-sumber air di Kota Magelang. Salah satunya melakukan pengangkatan sedimentasi sungai memperlancar aliran air.
Yoga menambahkan, masyarakat juga tidak diperkenankan untuk membakar sampah demi mencegah terjadinya kebakaran lahan. “Yang selalu menjadi perhatian kami adalah Gunung Tidar, pada area parkir. Di saat kemarau, sering terjadi rekahan yang bisa menjadi irisan air saat hujan,” katanya. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto