Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Tragedi Mahasiswa Unud Jadi Cermin Pentingnya Empati di Media Sosial

Magang Radar Magelang • Rabu, 22 Oktober 2025 | 21:31 WIB
Pentingnya Empati di Media Sosial
Pentingnya Empati di Media Sosial

RADARMAGELANG.ID – Kematian seorang mahasiswa Universitas Udayana berinisial TAS (22), di Bali yang diduga terjadi akibat tekanan perundungan, menjadi sorotan.

Pasalnya, setelah meninggal, TAS justru menjadi target ejekan dalam grup percakapan daring oleh sejumlah rekan kampusnya. Tangkapan layar cemoohan tersebut telah menyebar luas, memicu kemarahan dan kecaman publik terhadap tindakan para mahasiswa tersebut.

Kasus ini bukan hanya mengguncang dunia pendidikan, tetapi juga membuka mata publik terhadap kondisi moral di dunia maya. Banyak orang kini terbiasa berkomentar tanpa berpikir panjang, seolah lupa bahwa di balik setiap layar ada manusia dengan hati dan perasaan.

Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi dan saling mendukung, justru berubah menjadi tempat penghinaan dan kekerasan verbal.

Dilansir dari Kompas.com, psikolog Clement Eko Prasetio, M.Psi., dari Indopsycare, menegaskan bahwa empati tetap dibutuhkan dalam setiap bentuk interaksi, termasuk di dunia maya.

Ia juga mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam berkomentar atau mengirim simbol sederhana seperti stiker atau emoji karena bisa menimbulkan tafsir berbeda dan memicu luka bagi orang lain.

Sayangnya, pengguna internet sering kali merasa kebal dari konsekuensi sosial karena berlindung di balik layar. Dengan identitas anonim, mereka dengan mudah berani mengeluarkan kata-kata kasar, cemoohan, atau rumor tanpa merasa bertanggung jawab.

Padahal, dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar daripada yang disadari, mulai dari gangguan mental, rasa malu, hingga keputusan yang membahayakan seperti bunuh diri.

Dalam kasus TAS, candaan yang dianggap ringan justru memperparah suasana duka dan memperlihatkan betapa menipisnya empati di kalangan anak muda.

Fenomena ini menunjukkan adanya krisis moral dalam cara kita berinterkasi secara daring. Internet memang mempermudah kita dalam berbagai hal, tetapi juga menciptakan jarak emosional antara manusia.

Kita begitu cepat menghakimi, membandingkan, dan melempar komentar tanpa benar-benar memahami perasaan orang lain.

Membangun kembali empati di ruang digital bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan kesadaran bersama bahwa setiap unggahan, komentar, dan pesan memiliki dampak sosial.

Literasi digital dan pendidikan karakter harus berjalan beriringan, supaya generasi muda tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga bijak dalam berperilaku. Belajar menahan diri, berpikir sebelum bertindak, serta memahami sudut pandang orang lain adalah langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mencegah tragedi serupa terulang.

Tragedi mahasiswa Unud seharusnya menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwasannya dunia maya bukanlah tempat yang terpisah dari dunia nyata. Setiap kata yang kita tulis bisa membangun atau menghancurkan seseorang.

Emati bukan hanya soal sikap moral, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial yang harus terus dijaga di mana pun kita berada, termasuk di dunia maya.

Mari belajar untuk berhenti sejenak sebelum mengomentari, memahami sebelum menilai, dan menolong sebelum menyakiti. Karena di tengah derasnya arus informasi, yang paling dibutuhkan manusia bukanlah kecepatan bereaksi, tetapi ketulusan untuk berempati. (mg10)

Editor : H. Arif Riyanto
#mahasiswa unud bunuh diri #Empati dalam Komunikasi #mahasiswa unud #empati #media sosial #timothy anugerah saputera #empati di media sosial