RADARMAGELANG.ID - Di era sosial media, gencarnya tren fashion silih berganti secepat jentikan jari.
Dengan melihat apa yang dipakai idol atau influencer di hari ini, esok harinya sudah membanjiri timeline, toko online, bahkan rak-rak pusat perbelanjaan.
Dunia fast fashion memang menawarkan segalanya yang instan.
Yaitu pakaian trendI dengan harganya yang murah, juga update koleksinya yang terasa tak ada habisnya.
Di balik kilaunya, nyatanya didapati sisi lain yang sering luput dari perhatian.
Menumpuknya limbah tekstil, tenaga kerja yang diberi upah murah, sampai besarnya jejak karbon yang membebani bumi ini.
Inilah yang memberi dilema akan dunia fast fashion, rasanya seperti memberikan gaya yang mudah untuk diakses, namun meninggalkan beratnya konskuensi yang ditanggung lingkungan dan manusia.
Fast Fashion: Tren Instan, Dampak Panjang
Terlahir dari keinginan untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen yang selalu haus akan tren baru, fast fashion ini hadir.
Brand besar biasanya dapat merilis puluhan koleksi dalam setahunnya, pakaian diproduksi dengan begitu cepat.
Kemudian diperjualbelikan dengan harga yang sangat mudah dijangkau.
Hal ini terdangar menggiurkan bagi konsumen. Tanpa harus merogoh kocek lebih dalam, kita bisa tetap tampil up to date.
Namun, di balik semua Itu, fakta berikut ini sangatlah mengkhawatirkan dan perlu kita ketahui:
1. Produksi masal berdampak pada terciptanya limbah tekstil dengan jumlah besar.
2. Tenaga kerja murah sering kali dipekerjakan dalam kondisi yang tak layak pada negara-negara bekembang.
3. Sulit terurainya bahan sintesis seperti polyester sangat berkontribusi pada polusi mikroplastik.
4. Kualitasnya yang kurang baik membuatnya mudah rusak sehingga harus dengan cepat membuangnya.
Dengan begitu, fast fashion memberi pengaruh pada diri kita untuk selalu ingin membeli, kemudian membuangnya dengan cepat.
Menjadikan ini sebuah siklus yang tanpa mementingkan akan unsur berkelanjutan.
Slow Fashion: Gaya dengan Makna
Berbanding terbalik dengan fast fashion, slow fashion ini muncul sebagai bentuk gerakan perlawanan.
Fokus slow fashion buka kepada seberapa cepat pergantian tren, akan tetapi terhadap nilai inti dari pakaian Itu sendiri. Berikut ini aspek yang ditekankan pada slow fashion:
1. Kualitas dan ketahanan, dengan menawarkan pilihan bahan yang awet dan nyaman.
2. Produksi etis, menghargai pekerja dan proses produksi yang berkeadilan.
3. Kesadaran lingkungan, dengan meminimalisir limbah, kemudian memilih bahan yang ramah akan lingkungan, bahkan mementingkan untuk mendaur ulang.
Slow fashion mengajak kita untuk tak sekadar mengikuti tren, namun untuk bisa berpikir lebih mendalam, "Apakah pakaian ini benar-benar yang kita butuhkan? Apakah kita dapat memakainya berulang kali?"
Dengan demikian pakaian bukan lagi menjadi benda yang hanya untuk sekali pakai, tapi merupakan bagian dari gaya hidup yang lebih kita sadari.
Anak Muda dan Pilihan Fashion Hari Ini
Kini banyak anak muda yang mulai sadar akan isu ini. Yang menjadi menarik akan hal ini yaitu tren thrifting, preloved, hingga upcycle fashion semakin populer.
Tidak sekadar karena unik, hal ini juga dianggap lebih ramah lingkungan.
Bahkan di media sosial juga turut mendorong kesadaran akan hal ini.
Mulai banyak influencer hingga content creator yang mengedukasi akan renting sustainable fashion.
Seperti pada akun TikTok Dino Augusto, yang memberi inspirasi bahwa tampil keren tidak melulu harus boros atau merusak lingkungan.
Jalan Tangah: Fashion yang Lebih Bertanggung Jawab
Meninggalkan fast fashion dengan sepenuhnya mungkin akan terasa sulit, ditambah lagi dengan akses dan biaya yang selalu jadi bahan pertimbangan.
Namun banyak cara kecil yang bisa kita lakukan, seperti hal-hal berikut ini:
1. Belanja seperlunya saja, bukan untuk sekadar mengikuti tren semata.
2. Rawatlah pakaian dengan sebaik mungkin, untuk membuatnya lebih awet.
3. Mulai mendukung brand lokal yang memproduksi fashion dengan etis.
4. Mencoba untuk thrifting atau preloved, menjadikannya sebagai pilihan untuk bisa lebih ramah terhadap lingkungan.
Dengan langkah-langkah kecil itulah yang kemudian dapet mengantarkan kita pada kontribusi perubahan yang lebih besar ke depannya.
Fast fashion memang kita ketahui memberikan tawaran sesuatu yang cepat dan instan, sementara itu slow fashion menawarkan kepada kita akan makna darinya lebih mendalam.
Keduanya kini berjalan saling beriringan, tinggal menjadi pilihan kita bagaimana memilahnya.
Pada akhirnya, fashion bukanlah tren sesaat, namun juga mengenai siapa kita, apa nilai yang kita pegang, hingga bagaimana cara kita untuk mengedepankan perasaan bumi yang kita tinggali ini. (mg8/lis).
Editor : Lis Retno Wibowo