Mimpi terbang termasuk salah satu bentuk mimpi yang berkaitan dengan sensasi gravitasi. Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat merasakan tubuhnya melayang, terbang, naik, atau bergerak bebas tanpa mengikuti aturan gravitasi seperti di dunia nyata.
Salah satu penjelasan yang banyak dibahas dalam penelitian adalah keterlibatan sistem vestibular. Sistem ini berada di bagian telinga dalam dan berperan dalam menjaga keseimbangan serta membantu otak mengetahui posisi dan pergerakan tubuh.
Ketika tidur, terutama pada fase REM, otak tetap menghasilkan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan penglihatan, gerakan, dan sensasi tubuh. Aktivitas tersebut dapat ikut membentuk pengalaman dalam mimpi. Kondisi ini diduga berperan dalam munculnya sensasi seperti terbang atau melayang.
Penelitian yang melibatkan 131 peserta juga menemukan adanya hubungan antara pengalaman mimpi terbang dengan sistem vestibular dan kesadaran terhadap posisi tubuh. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hubungan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Menariknya, pengalaman saat terjaga juga dapat memengaruhi isi mimpi. Sebuah penelitian menggunakan simulasi virtual reality (VR) yang memberikan pengalaman terbang kepada peserta. Hasilnya, paparan tersebut meningkatkan kemungkinan peserta melaporkan mimpi terbang setelahnya.
Karena itu, mimpi terbang tidak harus dianggap sebagai pertanda tertentu. Pengalaman tersebut dapat muncul dari kombinasi aktivitas otak, ingatan, emosi, serta sensasi tubuh yang diproses ketika seseorang sedang tidur.
Jadi, jika suatu malam tiba-tiba merasa bisa terbang dalam mimpi, pengalaman tersebut bukan berarti tubuh benar-benar sedang “terbang”. Bisa jadi, otak sedang menciptakan sensasi bergerak dan melayang ketika tubuh berada dalam kondisi tidur. (mg3)
Editor : H. Arif Riyanto