RADARMAGELANG.ID – Semut Jepang, meski namanya mengandung kata “semut,” sebenarnya adalah sejenis kumbang dari genus Ulomoides, yang memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan ulat hongkong (larva Tenebrio molitor) dan kutu beras (Sitophilus oryzae). Hewan ini tidak berasal dari Jepang, melainkan habitat aslinya berada di Indonesia. Hal ini sering menimbulkan kebingungan, karena masyarakat awam mengira semut Jepang adalah semut asli Jepang, padahal serangga ini secara alami hidup di wilayah tropis Indonesia.
Secara fisik, Semut Jepang memiliki bentuk mirip kecoa, namun lebih kecil dan warnanya lebih gelap atau pekat. Sebagai kumbang, tubuh Semut Jepang lebih keras dibandingkan semut asli yang berjenis Hymenoptera bersama dengan lebah dan tawon.
Semut Jepang termasuk dalam ordo Coleoptera. Bentuk tubuhnya yang keras, dengan tiga pasang kaki, sepasang antena, dan kemampuan memiliki sayap meskipun tidak bisa terbang menjadi ciri khasnya.
Serangga ini mengalami metamorfosis lengkap melalui empat tahap: telur, larva, pupa, dan imago (kumbang dewasa). Semut Jepang hidup dalam koloni yang cenderung bereproduksi dengan sangat cepat dan tidak agresif, kecuali bila terkena sinar matahari secara langsung. Berbeda dengan beberapa serangga lain, Semut Jepang tidak bersifat kanibal.
Di pasar online, Semut Jepang banyak dijajakan sebagai komoditas unggulan, bahkan beberapa penjual menegaskan bahwa yang mereka tawarkan adalah “semut jepang asli.” Namun, untuk menentukan keaslian ini diperlukan pengetahuan terkait spesies dan taksonomi yang tepat, karena sebagian masyarakat masih salah kaprah dalam menyebutnya.
Peneliti serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pramesa Narakusumo, menegaskan bahwa kesalahan umum adalah menyebut kumbang ini sebagai semut, padahal berbeda jauh secara taksonomi dan biologis.
Kandungan kimiawi Semut Jepang sangat menarik, karena banyak mengandung senyawa dengan manfaat potensial. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Vitae pada tahun 2013 mencatat keberadaan senyawa seperti asam oleat, asam linoleat, limonen, asam palmitat, asam stearat, 1-pentadecanol, alpha-pinene, beta-phellandrene, alpha-terpinene, dan beberapa jenis quinone seperti 2-methyl-p-benzoquinone, 2,4-dihydroxy-1-ethylbenzene, serta 2,5-dimethyl quinone. Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, terutama pada peran antioksidan dan antiradang.
Dari segi manfaat kesehatan, Semut Jepang konon dipercaya membantu pengelolaan beberapa penyakit metabolik dan inflamasi. Penelitian di Brazilian Journal of Medical and Biological Research (2018) menemukan bahwa lemak pada Semut Jepang yang kaya akan asam linoleat dan asam oleat memiliki efek potensial menurunkan kadar gula darah dengan cara meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin.
Dengan kata lain, insulin dapat bekerja lebih efektif dalam mengatur gula darah, yang bermanfaat bagi pasien diabetes. Namun, penting ditegaskan bahwa penelitian ini masih dilakukan pada tikus laboratorium dan belum ada uji klinis yang konklusif pada manusia.
Semut Jepang juga berpotensi mengurangi risiko penyakit jantung. Kandungan asam lemak oleat dan linoleat dikenal membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan mencegah penggumpalan darah di pembuluh, faktor utama penyebab serangan jantung, stroke, dan penyakit jantung koroner.
Limonen dan asam oleat juga memiliki sifat antiradang, yang membantu mengurangi inflamasi pembuluh darah dan menghindarkan penyumbatan arteri. Meski demikian, klaim ini masih berdasarkan analisis kandungan kimia, bukan konsumsi langsung oleh manusia.
Selanjutnya, Semut Jepang berpotensi menurunkan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi. Dengan mengurangi penggumpalan serta kadar kolesterol, pembuluh darah menjadi lebih lentur dan tidak tersumbat sehingga jantung tidak terlalu bekerja keras memompa darah. Ini membantu menstabilkan tekanan darah. Namun hingga saat ini, bukti langsung dari penggunaan Semut Jepang pada pasien hipertensi masih sangat terbatas.
Meski potensi manfaatnya menarik, dr. R. Bowo Pramono, Sp.PD. KEMD(K), dosen di Fakultas Kedokteran UGM, menekankan bahwa belum ada bukti ilmiah kuat yang membuktikan keamanan dan efektivitas Semut Jepang sebagai obat untuk diabetes atau penyakit lainnya. Oleh sebab itu, konsumsi Semut Jepang untuk pengobatan mandiri tidak dianjurkan dan sebaiknya tetap mengutamakan terapi medis dan konsultasi dokter.
Dari sisi budidaya, Semut Jepang merupakan komoditas yang menjanjikan. Hewan ini dapat dibudidayakan secara sederhana di rumah dengan memanfaatkan wadah tertutup seperti toples yang telah diberi lubang sebagai saluran udara.
Proses reproduksi Semut Jepang berlangsung dalam kapas sarang yang diberi pakan berupa ragi tapai. Telur yang diletakkan oleh kumbang dewasa selanjutnya menetas menjadi larva seperti ulat hongkong yang bisa dipelihara dengan pakan ampas tahu, selada setengah kering, dan dedak campur pur.
Wadah budidaya harus dijaga agar tidak terkena sinar matahari langsung karena Semut Jepang sangat sensitif terhadap panas berlebih. Metamorfosis berlangsung dari telur menjadi larva, pupa, hingga kumbang dewasa, dan siklus ini bisa diulang terus menerus untuk menghasilkan panen berkelanjutan.
Larva dan kumbang dewasa memiliki pasar yang berbeda, larva biasanya dibeli oleh peternak burung sebagai pakan, sementara kumbang dewasa dikonsumsi untuk keperluan lain atau dijual sebagai bahan penelitian.
Secara keseluruhan, Semut Jepang adalah serangga unik asli Indonesia yang selain memiliki nilai ekologi dan ekonomi juga menawarkan peluang dalam bidang riset kesehatan dan budidaya serangga.
Meski manfaatnya sudah mulai dikenali, masih dibutuhkan banyak penelitian lanjutan agar potensi ini dapat dioptimalkan dengan aman dan efektif bagi masyarakat. (mg7)
Editor : H. Arif Riyanto