Bila kita sadari, sedari kecil warna sudah menentukan banyak hal dalam hidup kita. Baju bayi cowok yang berwarna biru, sementarabayi cewek berwarna pink. Cowok dengan mainannya berupa mobil-mobilan berwarna gelap, cewek dengan mainan bonekanya dilengkapi dress pastel.
Tanpa disadari, warna memang sudah menjadi bahasa sosial yang membentuk cara kita dalam melihat laki-laki dan perempuan.
Tapi, siapa bilang biru itu cuma buat cowok, dan pink cuma buat cewek?
Dulu Justru Terbalik, Lho!
Anehnya, di zaman dahulu jika kita balik lagi pada awal abad ke-20, aturan warna ini justru berbeda. Didapati dalam beberapa arsip majalah lama di Amerika tahun 1910-an sampai 1940-an, ditunjukkan bahwa pink dulunya dianggap warna yang kuat dan mewakili maskulinitas, sedangkan biru dianggap warna lembut yang feminin.
Apa alasan dibaliknya?
Warna pink dianggap versi lebih lembut dari warna merah, yang dianggap warna penuh keberanian dan kekuatan. Sementara warna biru lebih identik dengan kelembutan dan kesucian, bahkan sering diasosiasikan dengan Bunda Maria dalam ikonografi Barat.
Namun, di sekitar tahun 1950-an, setelah terjadinya Perang Dunia II, dalam industri mode dan iklan mulai membentuk sebuah tren baru. Brand-brand pakaian anak mulai menargetkan warna berbeda untuk tiap gender, mulai dari biru untuk anak laki-laki, dan pink untuk anak perempuan.
Hal inilah yang lambat laun membuat masyarakat percaya bahwa itu sudah kodratnya, padahal itu semua hanyalah hasil dari konstruksi budaya.
Media yang Membentuk Persepsi
Dari film, iklan, dan budaya pop melahirkan persepsi yang memperkuatnya. Penggambaran tokoh permpuan dalam kartun atau film yang seringkali diberi unsur sentuhan warna pink, lembut, manis, sementara tokoh laki-laki dengan warna biru, hitam, atau abu-abu yang menandakan tegas dan kuat.
Label warna tersebut kemudian menempel sejak dari kita kecil di kepala, membentuk asumsi tanpa kita sadari yang kita yakini bahwa warna juga memiliki jenis kelamin.
Padahal, warna hanyalah sebuah warna. Ia tidak memiliki batasan moral, gender, bahkan sifat. Tapi kemudian warna ini dibingkai oleh budaya yang membuatnya terasa seolah memiliki makna.
Generasi Sekarang Mulai Melawan Label
Kabar baiknya, kini bisa kita sadari banyak orang mulai menganggap warna bukanlah identitas. Cowok bisa memakai pink tanpa harus melabelinya feminin, cewek bisa memakai biru tanpa melabelinya tomboy. Dunia mode, film, dan media sosial pun mulai melonggarkan batasan itu. Kita mulai melihat banyaknya keberagaman warna sebagai bentuk ekspresi, bkan simbol gender.
Dan mungkin dari situlah letak keindahannya, ketika kita akhirnya dapat kembali netral, menjadi cermin kebebasan diri.
Akhir Kata
Warna sebagai sebuah pantulan cahaya, hanya sebatas itu. Namun manusia memberinya banyak makna. Biru atau pink bukan pertanda siapa kamu, tapi tentang bagaimana kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri.
Jadi, apabila hari ini kamu ingin memakai warna pink meskipun kamu cowok, atau biru meskipun kamu itu cewek, kenapa tidak?
Karena warna layaknya kehidupan, dapat menjadi ruang untuk kita bebas mengekspresikan diri, bukan untuk membatasi. (mg8)
Editor : H. Arif Riyanto