RADAR MAGELANG.ID - Otak kita merupakan organ penting yang menjadi tempat utama dalam menyimpan berbagai ingatan.
Namun apa yang terjadi jika kita mengingat suatu hal yang sebenarnya tidak ada atau ingatan dalam otak kita salah menggambarkan suatu objek visual maupun sebuah peristiwa, hal inilah yang disebut sebagai mandela effect.
Mandela effect merupakan sebuah fenomena psikologis disaat sebagian mayoritas manusia memiliki ingatan yang serupa mengenai suatu objek atau peristiwa yang sebenarnya tidak pernah ada.
Istilah mandela effect pertama kali dicetuskan oleh Fiona Broome pada tahun 2009, di saat mayoritas orang mengingat jika Nelson Mandela meninggal di penjara pada sekitar tahun 1980 yang pada kenyataannya ia meninggal pada 2013.
Mandela effect menggambarkan betapa rumitnya suatu hal yang membuat ingatan kita terkadang tidak bisa diandalkan sehingga membuat kita terkadang mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Menurut hasil studi dari Deepasri Prasad dan Wilma A Bainbridge dalam jurnal yang mereka publikasi di Psychological Science, Mandela Effect berasal dari sebuah ingatan palsu yang tersimpan dalam otak kita, dan yang menarik adalah hal ini tidak hanya terjadi pada satu individu namun oleh sekelompok individu.
Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah jika kapasitas otak kita sangatlah besar, yakni sebesar 2,5 juta gigabyte.
Dengan ingatan sebesar itu, banyak informasi yang tersimpan terkadang belum tentu bisa dipercaya.
Penyebab mandela effect tentunya sangat beragam, di saat Fiona Broome yang merupakan penemu istilah mandela effect membahas mengenai ingatan tentang Nelson Mandela yang meninggal pada 1980, ternyata bukan hanya dirinya yang mengingat hal tersebut, melainkan sebagian orang lain ternyata memiliki ingatan yang sama padahal itu merupakan sebuah hal yang keliru.
Mandela effect dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah :
1. Sugesti Dari Orang Lain
Ternyata mandela effect bukan hanya dipengaruhi oleh ingatan diri sendiri yang keliru, melainkan dapat juga disebabkan dari orang lain yang mensugesti kita dengan ingatan palsu yang mereka miliki yang secara tidak langsung membuat otak kita merekam memori tersebut. Sama halnya dengan berita atau informasi hoax atau palsu yang menyebar di internet yang secara tidak sadar membuat kita menjadi semakin ingat dengan informasi palsu yang berasal dari orang lain tersebut dan ketika kita menyebarkannya maka orang lain juga akan terkena dampaknya.
2. Mengisi Kekosongan
Pengalaman dan juga pengetahuan yang kita miliki sangatlah penting dalam membangun memori, dan dua hal inilah yang menjadi bahan untuk mengisi celah kekosongan yang ada dalam pikiran kita. Otak berusaha mengingat detail suatu hal atau peristiwa, lalu bagian dari informasi yang tidak utuh tersebut akan diisi oleh ingatan yang terkadang palsu atau dianggap benar namun kenyataannya tidak.
3. Emosional dan Keyakinan Diri
Kita mungkin memiliki ingatan yang sangat meyakinkan pada diri kita, misalkan ketika kita mengingat saat kecil kita memiliki sepeda warna biru namun pada kenyataannya kita tidak memiliki sepeda berwarna biru, namun emosi dan keyakinan yang membentuk memori tersebut sehingga seolah olah pernah terjadi.
Beberapa contoh mandela effect dapat kita temui dalam keseharian kita. Diantaranya adalah pada lagu “Balonku” lirik yang biasanya kita nyanyikan adalah “merah kuning kelabu" padahal kenyataannya adalah “hijau kuning kelabu”. Lalu contoh berikut nya adalah pada animasi pikachu, dimana ekor pikachu kita ingat berwarna kuning dan memiliki garis hitam. Namun pada kenyataannya adalah warna ekor pikachu hanyalah kuning polos.
Itu dia penjelasan mengenai teori mandela effect, terkadang manusia memang menyimpan sisi kekeliruan dalam kehidupan. Beberapa ingatan yang kita miliki terkadang tidak sepenuhnya utuh sehingga potongan ingatan lain cenderung ikut masuk dan tercampur dengan budaya yang ada sehingga cerita ini menjadi kisah yangg inspiratif dan menjadi ciri khas pada Sani Poetry. (mg5/aro)
Editor : H. Arif Riyanto