Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Sebagian Besar Penyakit 90% Berawal dari Pikiran, Sementara 10% Berasal dari Makanan

Magang Radar Magelang • Rabu, 3 September 2025 | 01:36 WIB
Masalah pikiran bisa berdampak pada kesehatan fisik
Masalah pikiran bisa berdampak pada kesehatan fisik

RADARMAGELANG.ID - Sering kita jumpai pernyataan bahwa penyakit bermula dari pikiran. Sekitar 90% penyakit diyakini berasal dari pikiran. Meski sering dipandang sekadar mitos atau ungkapan motivasi, berbagai penelitian ilmiah justru membuktikan adanya keterkaitan yang kuat antara kondisi psikologis dan kesehatan fisik.

Pikiran yang dipenuhi hal negatif, tekanan stres, serta rasa cemas dapat memunculkan daya tahan tubuh dan memicu munculnya berbagai masalah kesehatan fisik.

Seorang peneliti dari Jepang bernama Dr. Masaru Emoto dalam karya The Healing and Discovering the Power of Water menunjukkan bahwa kemarahan hanya akan membuat kita lemah dan menularkan energi negatif kepada orang sekitar.

Emoto menemukan bahwa air ternyata mampu merespons pesan atau rangsangan dari luar, baik dalam bentuk suara maupun tulisan, dengan cara yang berbeda. Saat dibekukan, respon tersebut tampak dalam pola kristal yang terbentuk. Jika rangsangan yang diberikan bersifat positif, udara membentuk kristal yang indah dan teratur. Sebaliknya, bila rangsangan yang diterima bernada kasar atau negatif, kristalnya menjadi hancur dan tidak beraturan.

Dalam buku The Healing and Discovering the Power of Water dapat disimpulkan bahwa dampak kemarahan meliputi:

  1. Marah selama 5 menit dapat menyebabkan sistem imun tubuh kita menjadi lemah selama 6 jam.
  2. Menyimpan dendam dan kepahitan dapat mematikan sistem kekebalan, yang kemudian memicu berbagai penyakit seperti stres, kolesterol tinggi, hipertensi, serangan jantung, rematik, arthritis, hingga stroke.
  3. Stres yang dibiarkan berlarut-larut sering berakhir pada gangguan pencernaan.
  4. Kekhawatiran yang berlebihan dapat memicu nyeri bahu atau pinggang.
  5. Sikap mudah tersinggung membuat kita rentan mengalami insomnia.
  6. Kebingungan yang sering dialami dapat menimbulkan gangguan pada tulang belakang bagian bawah.
  7. Rasa takut berlebihan akan meningkatkan fungsi ginjal.
  8. Kebiasaan berpikir negatif dapat menyebabkan dispepsia atau sulit mencerna makanan.
  9. Emosi yang meledak-ledak dan mudah marah meningkatkan risiko hepatitis.
  10. Sikap sombong dan acuh terhadap sekitar dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.
  11. Meremehkan segala persoalan bisa berakhir pada diabetes.
  12. Rasa kesepian berlarut-larut dapat memicu demensia senilis, yakni menurunnya daya ingat dan fungsi tubuH.
  13. Kesedihan mendalam dan perasaan rendah diri berisiko menimbulkan leukemia atau kanker darah putih.

Hal serupa juga dijelaskan dalam buku The Miracle of Mindbody Medicine karya Adi W. Gunawan. Ia menyebutkan bahwa sejumlah gangguan kesehatan dapat berkurang secara signifikan, membaik, bahkan sembuh total sebagai efek samping dari terselesaikannya masalah emosi. Beberapa di antaranya meliputi:

Temuan ini juga diperkuat oleh laporan peserta workshop Quantum Life Transformation (QLT) yang diselenggarakan oleh Adi W. Gunawan. Dalam bukunya, ia menegaskan bahwa "Kunci kesembuhan penyakit psikosomatis terletak pada penanganan emosi."

Dengan kata lain, proses penyembuhan tidak cukup hanya mengandalkan obat atau tindakan medis, tetapi juga memerlukan pengelolaan pikiran dan perasaan. Saat emosi negatif dapat dilepaskan dan digantikan dengan sikap yang lebih tenang serta positif, tubuh memperoleh kesempatan untuk memulihkan diri secara alami.

Selain itu, kesehatan kita sejatinya juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk kondisi genetik, lingkungan, dan gaya hidup sehari-hari. Untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh, sebaiknya kita tidak hanya memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga mulai belajar mengelola emosi dengan bijak. Meluangkan waktu untuk relaksasi, berdiskusi dengan orang terpercaya, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu menjaga keseimbangan pikiran dan tubuh.

Ingatlah bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh yang kuat, melainkan juga pikiran yang tenang dan hati yang damai. Dengan menjaga emosi tetap positif, kita memberi kesempatan bagi tubuh untuk bekerja optimal dan tetap sehat dalam jangka panjang. (mg6/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#kondisi psikologis #emosi #overthingking #stress #pikiran #kesehatan mental #kesehatan fisik