Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Teori Butterfly Effect, Kepakan Sayap Kecil Yang Menciptakan Fenomena Besar

Magang Radar Magelang • Selasa, 2 September 2025 | 20:14 WIB

Edward Norton Lorenz seorang meteorolog dan matematikawan yang menemukan konsep butterfly effect pada tahun 1960-an
Edward Norton Lorenz seorang meteorolog dan matematikawan yang menemukan konsep butterfly effect pada tahun 1960-an

RADARMAGELANG.ID -  Apakah kepakan sayap kupu kupu di Brazil dapat menciptakan tornado di Texas. Metafora ini mungkin sudah pernah terdengar di telinga kita.

Pada dasarnya teori ini menjelaskan sebuah fenomena besar dapat terjadi karena sesuatu yang kecil seperti kepakan sayap kupu kupu.

Bagaimana penjelasan sederhananya? Simak pembahasan berikut

Butterfly effect merupakan sebutan dalam sebuah teori bernama chaos atau teori kekacauan yang menjelaskan bahwa perubahan sekecil apapun yang terjadi di wilayah tertentu dalam lingkup sistem nonlinier bisa menyebabkan perubahan besar di wilayah lain.

Teori kekacauan merupakan sistem yang tidak teratur seperti awan, pohon, garis Pantai, ombak, dan hal lain yang bersifat acak dan anarkis.

Pada awalnya teori ini dimulai dari Yunani yang memaknai kekacauan sebagai kekosongan yang dipercaya bangsa Yunani sebagai awal mula alam semesta (Void) yang kemudian memunculkan kepercayaan kepada dewa dewa yang menjadi penentu dari jalannya alam semesta.

Pada era Helenistik, mitos mitos tentang dewa mulai hilang dan para filsuf mencari penjelasan yang lebih masuk akal.

Para filsuf merasa bahwa alam semesta tidak semisterius yang dibayangkan dan dunia bergerak pada pola pola tertentu yang disebut Cosmos atau disebut possible world berdasarkan sequel dari Carl Sagan yang menjadi oposisi dari teori Chaos yang kemudian memunculkan ilmuwan seperti Galileo yang merumuskan bagaimana dunia ini bergerak dan Newton yang menciptakan teori gravitasi.

Hingga pada suatu waktu sains mencapai masa kejayaannya, yang membuat Newton yakin bahwa semua pergerakan di alam semesta ini sudah terpola dan bisa diprediksi.

Pierre Simon Laplace mengatakan jika kita bisa mengukur secara tepat posisi dan gerak setiap partikel di alam semesta, maka kitab isa mengetahui masa depan sama halnya dengan kita mengetahui masa lalu.

Bahkan saat Laplace ditanya oleh Napoleon Bonaparte tentang tuhan, Laplace menjawab “Peran tuhan tidak diperlukan dalam keteraturan alam raya ini”.

Keyakinan ini terpatahkan seabad kemudian oleh matematikawan asal Prancis bernama Henri Poincaré yang mengatakan bahwa memprediksi alam semesta secara akurat itu tidak mungkin karena Henri menemukan ”Chaos” yang berkaitan dengan sebuah istilah bernama 3 Body Problem.

Penjelasan singkat mengenai teori ini adalah berkaitan dengan Newton saat merumuskan teori gravitasi, Newton hanya merumuskan gravitasi untuk 2 benda langit, namun Ketika ia memasukan benda ketiga dalam hitungannya ternyata hasilnya acak.

Newton kemudian berpikir bagaimana langit dengan berbagai komponen di dalamnya bisa stabil dan teratur?

Ia pun menyerah dan mengatakan alam semesta ini stabil bukan karena hitungan matematika tapi karena ada peran tuhan yang menyebabkan planet dan bintang bintang tetap pada orbitnya.

Keresahan ini kemudian membawa para ilmuwan pada temuan baru yang menyatakan jika alam semesta ini memiliki pola unik yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya, namanya Chaos namun bukan kacau, akan tetapi malah sesuatu yang memiliki keteraturan yang tinggi sampai sampai kita sebagai manusia tidak bisa memprediksinya.

Hal ini disebut sebagai “Sensitive Dependence of Initial Condition” yang ditemukan oleh Henri Poincaré bahwa alam semesta tidak sesimpel yang dibayangkan oleh Newton.

Alam semesta sebenarnya memiliki karakteristik chaos yang salah satu contoh mudahnya adalah dalam lingkup cuaca.

Pada tahun 1961, ahli meteorologi bernama Edward Norton Lorenz berusaha meramalkan cuaca melalui computer yang tujuannya untuk mensimulasikannya. Dengan bermodalkan 12 parameter cuaca yang diantaranya adalah temperature, tekanan udara, kelembaban, dan lain lain.

Dirinya berpikir dengan 12 parameter ini dirinya bisa meramal cuaca untuk 2 bulan kedepan. Hingga pada suatu hari dirinya memulai simulasinya, pada simulasi pertama dirinya bisa menyelesaikan dengan baik, lalu ia melakukan simulasi kedua untuk lebih meyakinkan dirinya, namun pada simulasi kedua ini input angka yang ia masukan tidak dari awal melainkan dari tengah tengah angka pada simulasi yang pertama.

Ia pun pergi sebentar untuk meminum secangkir kopi, lalu saat kembali dirinya terkejut dengan grafik yang dihasilkan, pada awalnya dirinya berpikir ini hanyalah error dari sistem, namun ternyata ia melakukan kesalahan yakni menginput angka dengan ketelitian 3 angka di belakang koma padahal komputer itu menghitung dengan ketelitian 6 angka dibelakang koma. Jika dilihat dari sisi matematika, 3 angka di belakang koma memiliki perbedaan yang kecil dan yang Edward lakukan bukan memasukan 6 angka di belakang koma namun malah ia bulatkan menjadi 3 angka, dan bahkan bisa dibilang seharusnya 3 angka dibelakang koma dapat diabaikan, namun karena kesalahan dan perbedaan yang kecil saja grafik bisa menyimpang jauh. Sehingga dapat disimpulkan jika hal sekecil itu saja dapat memengaruhi grafik cuaca, maka cuaca tidak dapat diprediksi.

Edward lalu menulis artikel yang bernama “Butterfly Effect” yang poin utamanya adalah ramalan cuaca dapat terganggu oleh sesuatu yang kecil sekecil kepakan sayap kupu kupu.

Edward tidak menyerah begitu saja, dua orang peneliti MIT (Institut Teknologi Massachusetts) mencoba untuk mematahkan teori pada rumus Edward Norton Lorenz. Mereka mencoba menggambar grafik dengan rangkaian analog yang disebut Lorenz attractors dan gambar yang muncul adalah gambar seperti sayap kupu kupu.

Catherine McKenzie mengatakan jika seekor kupu-kupu mengepakkan sayapnya di hutan hujan Amazon, ia dapat mengubah cuaca di belahan dunia lain.
Catherine McKenzie mengatakan jika seekor kupu-kupu mengepakkan sayapnya di hutan hujan Amazon, ia dapat mengubah cuaca di belahan dunia lain.

Makna dari gambar ini adalah garis dari setiap titik menggambarkan cuaca yang diramalkan dan yang mengejutkan adalah titik tersebut terus mengambil jalur yang berbeda dan tidak pernah bersinggungan sama sekali dengan lintasan sebelumnya. Dari gambar ini disimpulkan jika sekeras apapun kita meramalkan sesuatu, alam selalu menghindar dan mengambil jalur yang berbeda sehingga kita tidak bisa tepat memprediksinya.

Dari semua fenomena yang telah ditemukan oleh Edward Norton Lorenz dan Henri Poincaré  melahirkan teori bernama Chaos Theory yang menyatakan jika segala sesuatu di dunia ini chaos. Namun bukan berarti tidak teratur, tapi karena terlalu teratur hingga gangguan sedikit saja bisa mengubah seluruhnya.

Di era saat ini, butterfly effect dikenal sebagai penjelasan fenomena fenomena yang pernah terjadi di muka bumi, misalnya pada perang dunia 1 yang disebabkan oleh Franz Ferdinand mengubah rute mobilnya secara mendadak yang kemudian melintas di depan Princip yang sedang berada di café yang kemudian memicu pembunuhan oleh Gavrilo Princip kepada putra mahkota Austria-Hongaria.

Lalu contoh kedua yaitu peristiwa Ketika Isaac Newton melihat apel yang terjatuh mengenai kepalanya dan menjadi titik awal terciptanya teori gravitasi  dan masih banyak lagi kejadian kejadian kecil di dunia ini yang mengakibatkan fenomena besar. (mg5)

Editor : H. Arif Riyanto
#teori #yunani #planet #Void #Butterfly effect #fenomena #cuaca #stabil #galileo #chaos #gravitasi #alam semesta #Helenistik #perang dunia 1 #newton #Kupu kupu #dewa #COSMOS #ilmuwan