RADARMAGELANG.ID - Becik ketitik ala ketara, begitulah filosofi yang dipegang teguh oleh masyarakat jawa hingga saat ini karena kalimat tersebut mengandung makna yang begitu mendalam.
Becik ketitik ala ketara mengandung arti bahwa sekecil-kecilnya kebaikan dan keburukan pasti akan kelihatan.
Segala tindakan dengan niat yang baik maupun buruk meskipun ditutupi pada akhirnya akan terlihat juga.
Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap individu harus berhati-hati dalam bertindak, apalagi pada masa sekarang seolah kebatilan dan kebaikan adalah sesuatu yang samar dan sulit untuk dibedakan.
Filosofi ini bahkan menjadi sebuah lagu yang pitutur (nasehat) yang diciptakan oleh sang maestro lagu jawa almarhum Didi Kempot.
Becik ketitik ala ketara tak, meskipun singkat dan dianggap kalimat kuno namun banyak terjadi pada era ini.
Contohnya adalah banyak orang pintar yang membodohi masyarakat kecil dengan ucapan-ucapan kebohongan yang diselimuti iming-iming.
Melalui filosofi kalimat Becik ketitik ala ketara, inilah beberapa pengajaran yang bisa dipetik!
- Lebih teliti untuk membedakan kebaikan dan keburukan
Ketimpangan antara si miskin berpendidikan rendah dan si kaya berpendidikan tinggi adalah realitas yang terjadi saat ini.
Si kaya berpendidikan memanfaatkan kepintaran untuk melakukan kebohongan yang terkesan kebenaran dan dibalut dengan sebuah rayuan.
Adapun riba sekarang ini yang seolah menjadi hal lumrah.
Cara menilai seseorang dengan sekilas juga jadi perhatian yang penting mengingat banyaknya seseorang yang mengaku habib tapi maksiat, pemimpin pondok yang mesum dan pejabat korup.
- Lakukanlah tindakan kebaikan dengan niat yang tulus
Kembali pada diri masing-masing, Becik ketitik ala ketara menjadi pedoman saat kita melakukan kebaikan.
Kebaikan tak hanya sesuatu yang tampak, tetapi ketulusan niat dan keikhlasan.
Terus melakukan kebaikan meskipun orang memandang sebelah mata.
Kita memiliki tujuan kebaikan dan tak semua orang dapat terbuka tentang kebaikan yang akan diterimanya.
- Serapat-rapatnya menutupi kebohongan pasti akan terlihat juga
Praktik kebohongan pada saat ini menjadi hal yang mudah untuk dilakukan.
Perkembangan media sosial menjadikan interaksi yang tak mengenal jarak.
Belum lagi pejabat yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk melakukan tindak kejahatan, sampai rela membayar uang tutup mulut agar kejahatannya tertutup.
Namun pada akhirnya kejahatan tersebut pasti tercium baunya.
- Stigma pembohong bagi seseorang yang sering bohong
Menjadi seorang pembohong maka akan terus dicap sebagai pembohong.
Contoh kasusnya adalah kepercayaan seseorang terhadap seorang tokoh yang mencalonkan diri sebagai pejabat dengan latar belakang kasus korupsi.
Kasus korupsi yang pernah dilakukan akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap tokoh tersebut.
Meskipun dirinya telah menyatakan sebagai pribadi yang suci dan telah bertaubat dari kasus sebelumnya.
Becik ketitik ala ketara merupakan kalimat singkat yang penuh makna.
Kalimat ini menjadi pedoman untuk berperilaku. (mg26/aro)
Editor : H. Arif Riyanto