RADARSEMARANG.ID–Tak terasa, hari ini merupakan hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Ya, Rabu, 28 Agustus 2024 ini, merupakan rabu terakhir di bulan Safar.
Tentu saja, di hari Rabu Wekasan ini kita harus memperbanyak amalan.
Rabu Wekasan sendiri ada beberapa yang berpendapat.
Sejarah Rabu Wekasan berawal dari masa penyebaran Islam di Indonesia.
Masyarakat Jawa meyakini hari Rabu terakhir pada Bulan Safar merupakan hari nahas dari kepercayaan lama kaum Yahudi.
Lalu, pada Bulan Safar tahun 1602, beredar kabar rencana penjajahan Belanda di Jawa.
Masyarakat kemudian melaksanakan serangkaian ritual menolak kedatangan penjajah tersebut.
Ritual tersebut berkembang menjadi tradisi Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan.
Selain itu, Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan berhubungan erat dengan penyebaran agama Islam di Indonesia.
Abdul Hamid Quds berpendapat bahwa terdapat 32.000 bala yang diturunkan Allah ke bumi pada hari Rabu terakhir setiap tahun di Bulan Safar.
Wali Songo berperan dalam mengembangkan tradisi ini.
Menurut kepercayaan masyarakat Desa Suci, Kabupaten Gresik.
Sunan Giri memberikan petunjuk sumber air ketika kekeringan dan berpesan untuk mengadakan upacara adat Rabu Wekasan.
Peristiwa sosial dan budaya dalam banyak fenomena yang kita saksikan di media sosial atau di sanding mata kita, dapat dikatakan merupakan pertautan antar tiga entitas sekaligus, yaitu entitas agama, entitas sosial dan entitas budaya.
Termasuk ketika kita melihat fenomena rebo wekasan (rebo= hari rabu; wekasan= lepas), dimana umat Islam Indonesia khususnya, melakukan ritual pada setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam hitungan Kalender Hijriyah.
Seperti mandi mengikuti warisan tradisi dari Wali Songo, sholat berjamaah 4 rakaat dengan doa khusus di masjid atau musholla, silaturrahmi, sedekah atau sering disebut tawurji dan membuat kue apem.
Apem (disebut juga cimplo yaitu makanan ringan terbuat dari adonan dari tepung beras, tepung singkong, ragi dan dicampur dengan air kelapa yang disajikan dengan kuah gula merah atau kinca).
Kemudian Apem dibagi-bagi kepada tetangga dan handai taulan.
Dari rangkaian kegiatan itu semua mengarah pada satu makna yang berfungsi sebagai lidaf’il bala’ atau tolak bala (menangkal marabahaya).
Bagi sebagian umat Islam Indonesia, ritual keagamaan “rebo wekasan” ini memiliki makna yang sakral.
Paling tidak, pemaknaan dari sisi teologis dijelaskan dalam sumber otoritatif (Al-Qur’an dan Al-Hadis) tentang pentingnya ucap syukur dan permohonan.
Dalam konteks “Rabu Wekasan” ini termasuk upaya permohonan selamat dari berbagai macam jenis bahaya yang diyakini akan datang.
Selaras dengan Prof. Habib Quraish Shihab (2006), yang menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an makna bencana memiliki pengertian dan konsep yang berbeda, seperti musibah, bala’, azab, iqob, dan fitnah.
Misalnya, terma musibah berarti mengenai atau menimpa, secara keseluruhan dari akar katanya disebutkan sebanyak 76 kali.
Al-Qur’an sendiri menggunakan kata musibah yang berarti sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia.
Selain itu, ada terma bala’ yang berarti tampak, tersebut enam kali dalam Al-Qur’an.
Makna yang terkandung adalah ujian yang dapat menampakkan kualitas iman seseorang.
Kemudian terma Fitnah atau cobaan dari Allah Subhanallahu Wa Ta’ala dapat berupa kebaikan dan keburukan.
Mengutip penjelasan dari K.H. Maimoen Zubair tentang ritual Rabu Wekasan, bahwa dalam kitab Tarikh Muhammadur Rasulullah dijelaskan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika awal sakit beliau di hari rabu terakhir di bulan Shafar, yang disebut juga Arba’ Mustamir.
Selama 12 hari berturut-turut Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sakit, kemudian beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul awal.
Pada awal sakitnya, yaitu hari Rabu terakhir bulan Shafar, beliau pernah berpesan kepada Sayidina Abu Bakar Siddiq, “Bersegeralah bersedekah, karena bala’ dan musibah tidak bisa mendahului amal sedekah.
Disadari, manusia dalam perspektif antropologis yaitu sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Dalam hal ini, umat Islam Indonesia, yang merupakan berpenduduk mayoritas muslim, memiliki ragam budaya dalam mengekspresikan ajaran mengenai relasi sosial, termasuk relasi dengan alam sebagai sumber kehidupan.
Antara lain tradisi Rabu Wekasan dengan mengirim Apem sebagai simbol atas kesiapan dan kekuatan mental sosial dengan berbagi rasa kepeduliaan bersama (resiliensi sosial).
Merujuk pada makna vokal dan fungsional tersebut, Makna ritual Ngapem pada Rabu Wekasan ini tidak lain adalah cara manusia yang memiliki keyakinan (Agama) dalam upaya menangkal keburukan apapun yang setiap saat akan terjadi.
Baik keburukan itu sebagai musibah yang menimpa ataupun peringatan dari Sang Pencipta.
Dari sisi makna vokalnya, Ngapem yang berarti menjaga segala macam keburukan yang bersumber dari mulut, seperti berita hoaks yang menimbulkan goncangan sosial.
Sedangkan dari sisi makna fungsionalnya, Rabu Wekasan yaitu momentum bersama untuk saling menjaga keharmonisan atau solidaritas sosial sebagai bentuk sikap respek terhadap bala’ dan musibah yang diderita umat manusia, baik dalam lingkungan yang berskala kecil maupun lingkungan spektrum yang lebih luas lagi, untuk masa kini dan nanti.
Contoh-contoh upacara adat pada hari ini di Tanah Jawa:
- Sedekah Ketupat, Sedekah Kupat di daerah Dayeuhluhur, Cilacap Jawa Tengah.
- Upacara Rebo Pungkasan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.
- Ngirab, di daerah Cirebonan Jawa Tengah.
- Safaran di beberapa daerah.
- Dan banyak orang muslim tertentu yang melakukan sembahyang tertentu.
Makanan yang dibuat untuk upacara biasanya di antaranya Ketupat, Apem, dan Nasi tumpeng.
Asal dari Amalan Rabu Wekasan dijelaskan bahwa terdapat beberapa sumber kitab yang menyebutkan tentang amalan di hari Rabu terakhir bulan Shafar atau dikenal Rebo Wekasan, diantaranya sebagai berikut:
- Kanz al-Najah wa al-Surur karya ‘Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917).
- Mujarrabat al-Dayrabi karya al-Dayrabi (w. 1801 M).
- Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi (w.1897 M).
- Na’t al-Bidayah karya Muhammad al-Fadhil bin Mamayn (w.1910 M).
- Al-Jawahir al-Khams karya Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M).
- Wasilah al-Tahlibin Ila Mahabbati rabb al-Alamin karya murid Hussamuddin (w. 1567 M) yang dikutip dalam kitab Majmu’ah Rasa’il al-Laknawi ketika menjelaskan hukum shalat-shalat tertentu, karya ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1886), dan kitab lainnya.
Rabu Wekasan merupakan wujud Akulturasi Budaya Jawa (Islam dan Jawa).
Daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini mayoritas adalah daerah pesisiran yang dikenal lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman Jawa.
Daerah tersebut merupakan bekas dari penyebaran yang dilakukan oleh Walisongo pada masanya.
Daerah tersebut terkenal dengan nama pantai utara (pantura) atau pesisir Jawa (fal/aro)
Editor : H. Arif Riyanto