Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Mengenal Daun Kratom yang Disalahgunakan sebagai Narkoba, Manfaat Bagi Kesehatan dan Efek Sampingnya

H. Arif Riyanto • Rabu, 26 Juni 2024 | 04:19 WIB
Kratom merupakan salah satu tanaman yang dikenal sebagai obat herbal.
Kratom merupakan salah satu tanaman yang dikenal sebagai obat herbal.

RADARMAGELANG.ID-Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil para menteri di Istana Kepresidenan, Jakarta untuk membahas wacana legalisasi kratom.

Menteri yang dipanggil, yakni Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.

Seusai dipanggil Jokowi, Moeldoko menyampaikan saat ini masih terjadi perbedaan pemahaman antara Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai kratom.

"Saya meminta BRIN untuk melakukan riset. Risetnya mengatakan bahwa mengandung (narkotika), tetapi dalam jumlah tertentu," kata Moeldoko di Istana Kepresidenan belum lama ini.

Moeldoko menjelaskan, BRIN bersama Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) akan melakukan riset lanjutan terkait kratom.

"Maka tadi arahan Presiden, pertama supaya Kemenkes, BRIN dan BPOM melanjutkan riset, sesungguhnya yang aman seberapa bagi masyarakat," ujar Moeldoko.

Sementara Kemendag, kata dia, akan mengatur tata niaga kratom.  "Dengan demikian tak ada lagi kratom produk Indonesia yang mengandung bakteri e.coli, salmonela, atau logam berat, karena sudah ada eksportir kita di-reject barangnya," lanjut dia.

Apa sebenarnya tanaman kratom itu?

Manfaat daun kratom dipercaya bisa meredakan nyeri dan gangguan kecemasan.

Meski demikian, daun kratom juga berpotensi membahayakan kesehatan apabila disalahgunakan.

Kratom atau daun purik memiliki nama ilmiah Mitragyna speciosa.

Ini  adalah tanaman tropis yang banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara, seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Sejak dulu, tanaman ini telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat setempat.

Daun kratom setidaknya mengandung sekitar 37 jenis senyawa alkaloid yang berbeda, dengan senyawa mitragynine dan 7-hydroxymitragynine yang paling berpotensi secara medis.

Akan tetapi, belakangan ini daun kratom mulai disalahgunakan sebagai narkoba, sebab efeknya yang mirip dengan morfin dan kokain.

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pun bahkan memasukkan kratom sebagai salah satu jenis zat psikoaktif baru (new psychoactive substances/NPS) sejak 2013 silam.

NPS bisa dikatakan sebagai narkoba jenis baru.

Zat ini dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan efek menyerupai narkoba yang telah ada sebelumnya.

Lalu, bagaimana legalitas daun kratom di Indonesia?

Badan Narkotika Nasional (BNN) telah memasukkan kratom ke dalam daftar NPS dan Narkotika Golongan I.

Hanya saja, kratom belum dicantumkan sebagai narkotika pada Permenkes No. 9 Tahun 2022 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) pun telah menerbitkan surat edaran yang melarang penggunaan kratom (Mitragyna speciosa) dalam obat tradisional dan suplemen kesehatan.

Meski telah tergolong sebagai narkotika, peredaran kratom belum diatur dalam undang-undang.

Hal ini membuat legalitasnya masih dipertanyakan.

Daun kratom dapat Anda temukan dengan mudah di toko online atau e-commerce.

Kebanyakan toko menjualnya sebagai obat herbal  untuk meredakan rasa sakit dan kecemasan.

Sejumlah studi klinis telah menguji potensi manfaat dari daun ini bagi kesehatan tubuh, di antaranya:

  1. Meningkatkan Gairah Seksual

Daun kratom berpotensi memiliki efek afrodisiak yang kuat.

Afrodisiak merupakan istilah untuk beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat meningkatkan gairah seksual.

Tak hanya gairahnya saja yang meningkat, penggunaan kratom juga diklaim memberikan lebih banyak energi saat berhubungan dan membantu mempertahankan ereksi lebih lama.

  1. Mengobati Kecanduan Opioid

Kratom juga memiliki khasiat bagi orang yang kecanduan opioid.

Daun ini bisa diberikan pada tahapan rehabilitasi medis untuk mengurangi gejala putus obat (withdrawal syndrome).

Withdrawal syndrome atau lebih dikenal sebagai sakau merupakan serangkaian respons tubuh setelah berhenti atau mengurangi asupan zat-zat yang memicu kecanduan.

Pemberian kratom sebagai opioid membantu pencandu berhenti untuk menggunakan narkoba secepat dan seaman mungkin.

  1. Meredakan Nyeri Otot

Bahan aktif utama kratom, yakni senyawa alkaloid mitragynine dan 7-hydroxymitragynine telah terbukti dapat memberikan efek anti-inflamasi (antiradang), analgesik (pereda nyeri), dan pelemas otot.

Hal inilah yang membuat daun kratom sering digunakan untuk meredakan gejala fibromyalgia

Fibromyalgia umumnya ditandai dengan nyeri otot dan pegal linu pada seluruh badan.

Gangguan ini juga sering kali disertai dengan rasa lelah, kantuk, dan perubahan suasana hati.

  1. Meredakan Depresi dan Kecemasan

Daun kratom memiliki efek yang sangat mirip dengan opioid.

Efek ini dihasilkan oleh senyawa alkaloid yang mampu menenangkan saraf dan meningkatkan mood penggunanya.

Jika dipakai dalam dosis tertentu, kratom mampu memberikan efek sedatif atau menenangkan.

Efek inilah yang membantu meredakan gejala depresi dan gangguan kecemasan.

  1. Menambah Stamina Tubuh

Dalam dosis rendah sekitar 1–5 gram, kratom dapat memberikan efek stimulan.

Kratom dapat membuat Anda merasa lebih berstamina dan lebih waspada.

Konsumsi daun ini juga bisa meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh.

Hal ini tentu akan mempercepat pengangkutan oksigen ke sel-sel tubuh yang membutuhkannya.

Hasilnya, sel-sel tubuh mampu memetabolisme makanan jauh lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak energi dari biasanya.

  1. Mencegah Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik merupakan serangkaian kondisi yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap penyakit kronis, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Heliyon (2022) menunjukkan bahwa pengguna daun kratom berisiko lebih rendah untuk mengidap sindrom metabolik.

Penggunaan kratom juga dikaitkan dengan ukuran lingkar pinggang yang lebih kecil, kadar trigliserida yang lebih rendah, dan kadar HDL (kolesterol baik) yang lebih tinggi.

  1. Manfaat Lainnya

Dalam metode pengobatan tradisional, daun kratom juga dipercaya ampuh mengatasi berbagai kondisi, mulai dari diare  hingga diabetes.

Akan tetapi, manfaat ini belum sepenuhnya diuji secara klinis.

Penggunaan kratom dalam dunia medis pun masih menimbulkan kontroversi akibat efek samping yang dapat ditimbulkannya.

Risiko dan Efek Samping Daun Kratom

Meski memiliki banyak manfaat dan berpotensi untuk dijadikan sebagai obat, daun kratom ternyata dapat membahayakan kesehatan dan menimbulkan efek samping jika digunakan secara tidak tepat.

Berikut adalah beberapa efek samping yang bisa ditimbulkan oleh daun kratom:

Manfaat daun kratom yang paling dikenal adalah sebagai pereda nyeri.

Daunnya bisa dimakan mentah, diseduh seperti teh, atau diolah jadi kapsul, tablet, bubuk, dan cairan.

Dalam dosis yang rendah, kratom memberikan efek stimulan.

Kratom bisa membuat penggunanya merasa lebih berenergi, waspada, dan bahagia.

Namun, dalam dosis tinggi, kratom dapat memicu efek sedatif atau penenang seperti narkotika.

Kratom juga memengaruhi pikiran dan sistem saraf, seperti menimbulkan pusing, meningkatkan rasa kantuk, serta menyebabkan halusinasi dan delusi.

Efek tumbuhan ini mulai dapat Anda rasakan dalam 5–10 menit dan akan bertahan selama dua hingga lima jam setelah digunakan. (*/aro)

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
#BRIN #kratom #presiden jokowi #morfin #kecanduan #stamina tubuh #kecemasan #bpom #narkoba #depresi #Meredakan nyeri otot #gairah seksual #sindrom metabolik