RADARMAGELANG.ID— Di pedesaan koro benguk cukup dikenal.
Di wilayah Sukoharjo Jateng, tepatnya di Kecamatan Weru dan Tawangsari, koro benguk diolah menjadi menu kuliner yang nikmat di lidah.
Namanya tempe alakatak.
Bahan baku utamanya koro benguk dipadu dengan rempah dan parutan kelapa.
Cara makannya dipadu dengan mi tepung kanji.
Biasanya tempe alakatak dibungkus dengan daun jati dan dijual di pasar tradisional.
Ada juga koro benguk yang disebut juga kacang babi ini dibuat tempe benguk.
Kacang koro dengan nama latin Mucuna pruriens ini termasuk tumbuhan perdu merambat dengan tinggi 6 - 15 meter.
Ketika tumbuhan ini masih muda, bulu halus menutup seluruh bagian tumbuhan, yang kemudian hilang seiring pertumbuhan.
Daunnya menyirip ganda tiga, berbentuk telur.
Pada tumbuhan muda, daun-daun ini tertutup bulu halus.
Bunganya membentuk rangkaian, dengan mahkota berwarna keunguan atau putih.
Buahnya adalah buah polong, yang menggerombol pada batang.
Polong koro benguk lonjong, mengutip dari faperta.uho.ac.id, dengan panjang 4 – 15 cm, yang mengandung 3 – 6 biji.
Polong yang masih muda dapat dimakan setelah direbus terlebih dahulu. Bijinya berukuran sebesar ujung kelingking, berbentuk hampir persegi dengan tebal 5 mm.
Biji yang sudah tua, bisa untuk pengganti kacang kedelai untuk membuat tempe.
Publikasi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan koro benguk mengandung energi sebesar 332 kilokalori, protein 24 gram, karbohidrat 55 gram, lemak 3 gram, kalsium 130 miligram, fosfor 200 miligram, dan zat besi 2 miligram.
Selain itu di dalam koro benguk juga terkandung vitamin A sebanyak 70 IU, vitamin B1 0,3 miligram dan vitamin C 0 miligram.
Hasil tersebut didapat dari penelitian terhadap 100 gram koro benguk, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 95 persen.
Berdasarkan tradisi pengobatan Ayurveda, koro benguk memiliki khasiat sebagai zat perangsang.
Peneliti India mendapati koro benguk memiliki khasiat mengobati artritis.
Koro benguk mengandung empat jenis isoflavon.
Kandungan isoflavon yang dimiliki kacang koro benguk dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe yang bergizi.
Chikoye dan Ekeleme (2001) melaporkan senyawa alelopati dari koro benguk dapat dimanfaatkan sebagai herbisida untuk mengatasi alang-alang (Imperata cylindrica).
Jika di Indonesia kara benguk lebih sering diolah menjadi tempe benguk, beberapa tradisi di luar negeri punya cara sendiri untuk mengolahnya.
Tak hanya cara pengolahannya yang unik, tujuan pengolahannya juga cukup menarik yakni untuk mendongkrak gairah seks pria.
Misalnya di Brazil, biji koro benguk disangrai, digerus hingga halus lalu diseduh dengan air panas seperti kopi.
Masyarakat setempat meyakini kopi dari biji koro benguk mampu mengurangi gejala tremor atau gemetar pada parkinson serta bisa mengatasi impotensi.
Bukan hanya bijinya yang bisa dimanfaatkan, daun koro benguk yang sudah dikeringkan juga bermanfaat untuk meningkatkan gairah seks pria.
Caranya dengan merajangnya seperti tembakau, lalu dibakar dan dihisap dengan pipa atau dibungkus kertas rokok.
Khasiat biji koro benguk untuk kejantanan pria pernah dibuktikan dalam sebuah penelitian di India.
Penelitian tersebut menyimpulkan, konsumsi 5 gram koro benguk rebus tiap hari bisa meningkatkan jumlah sel sperma sehingga makin paten untuk membuahi sel telur.
Sementara itu di Thailand, praktik pengobatan tradisional dengan koro benguk sudah berlangsung berabad-abad lamanya.
Supaporn Pitiporn, ahli farmasi dari Rumah Sakit Chao Phya Abhaibhubejhr di Prachinburi Thailand mengatakan, koro benguk cukup potensial untuk dikembangkan sebagai pengganti viagra.
Di Indonesia sendiri, kara benguk lebih sering diolah sebagai tempe benguk yang mudah dikenali dari warnanya yang kehitaman, bijinya yang besar-besar dan lebih keras dibandingkan tempe kedelai.
Sama seperti tempe kedelai, tempe benguk juga sangat diminati karena kandungan proteinnya yang tinggi.
Tidak seberuntung kacang-kacangan yang lain, koro benguk tidak populer di negeri ini.
Namanya bercitra “ndeso”, mengesankan kacang-kacangan jenis ini hanya dikonsumsi di daerah pedalaman atau perdesaan.
Bukan hanya itu, selain gatal daunnya jika tersentuh tangan, penyebab lain kurang populernya koro benguk adalah karena tumbuhan ini mengandung asam sianida (HCN).
Namun, koro benguk pada kenyataannya menyimpan khasiat obat yang demikian dahsyat.
Peneliti-peneliti, dari India terutama, hingga kini terus menggali dan mengembangkan potensinya untuk obat modern berdasarkan pemanfaatannya sejak lama sebagai obat tradisional. Salah satu di antaranya untuk obat kesuburan pria.
Tak jauh berbeda dengan mengkudu, atau kulit manggis, di era modern ini koro benguk juga diperdagangkan dalam bentuk aneka bentuk olahan dan kemasan, sebagai suplemen kesehatan. (*/aro)
Editor : H. Arif Riyanto