RADARMAGELANG.ID—Nama Oei Tiong Ham tak bisa dilepaskan dengan Kota Semarang.
Bangsawan China ini dulu dikenal sebagai Raja Gula Semarang.
Mengutip catatan penulis sejarah Kota Semarang yakni Amen Budiman, dia menyebut jika puncak kejayaan Oei Tiong Ham sekitar medio 1920-an.
Oei Tiong Ham adalah pengusaha pertama yang kekayaannya menembus angka 200 juta gulden atau setara dengan Rp 44 triliun.
Kata Amen, Oei Tiong Ham meneruskan kendali bisnis warisan ayahnya, Oei Tjie Sen, di tahun 1890 ketika berusia 24 tahun.
Pada tahun 1893, perusahaan diubah menjadi N.V. Handel Maatschappij Kian Gwan.
Awal kebangkitan perusahaan ini adalah perdagangan opium yang kala itu legal di wilayah Hindia Belanda.
Namun, perusahaan ini kemudian meluaskan bidang usaha ke perdagangan berbagai jenis komoditas lain seraya membuka kantor-kantor cabang berikut gudang di sejumlah negara.
Kunci kebesaran kerajaan bisnis Oei Tiong Ham dipertegas dengan pembelian pabrik-pabrik gula di Jawa pada akhir abad ke-19.
Diawali dengan pembelian Pabrik Gula Pakis tahun 1894, kemudian dibeli pula Pabrik Gula Rejoagung, Tanggulangin, Ponen, Krebet.
Total luas lahan lima pabrik gula tersebut mencapai 7.082 hektar.
"Itulah kenapa Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula," tulisnya.
Di Semarang, Oei Tiong Ham tinggal di Istana Gergaji atau kerap dijuluki Istana Balekambang.
Kini bangunan tersebut menjadi kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lokasinya di Jalan Kyai Saleh Nomor 12-14, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan.
Rumah Oei Tiong Ham di Gergaji cukup besar.
Istana itu memiliki taman.
Arsitekturnya dengan gaya langgam bangunan Belanda.
"Bahkan Oei Tiong Ham punya kebun binatang sendiri yang berisi beruang, ular, dan burung merak. Lalu juga ada kasuari, kera, dan menjangan," paparnya.
Kebun binatang itu tidak hanya dia nikmati sendiri namun dibuka untuk umum setiap akhir pekan dengan biaya terjangkau dan kala itu dinamai dengan "Kebon Rojo".
Punya banyak pelayan bahkan di pintu gerbangnya dijaga oleh seorang budak Afrika.
Oei Tiong Ham punya banyak istri.
Tidak tanggung-tanggung istrinya ada delapan.
Dari delapan istrinya itu, dia mempunyai 28 orang anak yang terdiri atas 13 laki-laki dan 13 perempuan.
Nah, salah satu putrinya itu bernama Oei Hui Lan yang lahir di Semarang pada 21 Desember 1889.
Terlahir dengan paras yang cantik dan makan dengan sendok emas, Oei Hui Lan tinggal di di Istana Gergaji atau Istana Balekambang tersebut.
Pada saat ulang tahunnya, sang ayah akan mengadakan sebuah pesta besar yang mengundang bangsawan lainnya.
"Ayah menginginkan pesta ulang tahun saya menjadi sangat istimewa. Berapa pun biayanya, tidak masalah baginya," kenang Oei Hui Lan dalam memoarnya.
Dengan kekayaan sang ayah, Oei Hui Lan juga bisa dengan leluasa bepergian ke luar negeri.
Tak heran Oei Hui Lan kemudian memiliki kenalan dari keluarga Kerajaan Inggris dan Politisi China bernama Wellington Koo.
Ia dan pria itu bertemu di London sekitar tahun 1920.
Dari pertemuan itu, tumbuh benih-benih cinta antara Oei Hui Lan dan Wellingtong Koo.
Meskipun kala itu keduanya sudah sama-sama berstatus janda dan duda, Oei Hui Lan dan Wellington Koo menikah pada 1921.
Wellington Koo saat itu berstatus sebagai orang terpenting kedua di China.
Setahun setelah menikah, pria itu naik jabatan menjadi Menteri Luar Negeri dan Menteri Keuangan China.
Pada 1926, Qui Hui Lan menjadi Ibu Negara setelah Wellington Koo menjadi pelaksana tugas Presiden Republik China, setelah wafatnya Presiden China Sun Yat Sen.
Ia menjadi Ibu Negara selama satu tahun sebelum Wellington Koo berhenti menjabat pada 1927.
Setelah itu, Qui Hui Lan bersama sang suami tinggal berpindah-pindah mulai dari Shanghai, Paris, hingga London.
Pernikahan itu sayangnya berakhir apda 1958, dan Oei Hui Lan memilih menetap di New York sampai akhir hayatnya pada 1992.
Sementara itu, Raja Gula Oei Tiong Ham meninggal pada 1924 karena serangan jantung, dan jasadnya sempat dimakamkan di Simongan.
Selepas dia meninggal, usahanya diteruskan oleh anak-anaknya dan lambat laun tidak bertahan.
Berbagai sebab lesunya perusahaan datang dari berbagai sisi baik itu dari sistem organisasi yang sudah tidak terkontrol, konsentrasi bisnis sampai keadaan politik.
Semua aset Oei Tiong Ham Concern diserahkan ke PTRajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang masih bertahan sampai sekarang.
Untuk mengenang kiprahnya, nama Oei Tiong Ham sempat diabadikan sebagai nama jalan dengan "Oei Tiong Ham Weg".
Jalan itu kini menjadi Jalan Pahlawan. (*/aro)
Editor : H. Arif Riyanto