RADARMAGELANG.ID, Kendal--Suara di ujung telepon itu terdengar tenang. “Aku baik-baik aja, Mbak. Lagi KKN di Kendal.” Kalimat sederhana itu menjadi percakapan terakhir antara Berlian Sabila dan adiknya, Bima Pranawira.
Ia baru menyadari, jika suara yang didengar Sabtu (1/11/2025) malam itu adalah suara terakhir yang bisa didengar dari sang adik tercinta. Kini, ia hanya bisa melihat adiknya dingin terbujur kaku. Tak terdengar lagi suaranya. Hanya selimut doa dan tangis panjang yang dicurahkan saat melihat ambulans mengangkut jenazah adiknya.
“Setelah itu nggak ada kabar lagi. Eh, malah dapat kabar Bima hanyut. Kami sekeluarga panik dan langsung berangkat ke sini,” ucap Berlian dengan mata sembab, menatap kosong ke arah ambulans yang membawa jenazah sang adik pulang ke Gresik, Jatim.
Bima adalah satu dari enam mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang hanyut di Sungai Jolinggo, Desa Getas, Kecamatan Singorojo, saat menjalani program KKN. Dari enam korban, lima telah ditemukan dalam keadaan meninggal. Hanya satu mahasiswi, Nabila Yulian Desy Pramesti, yang hingga Rabu (5/11/2025) sore belum ditemukan.
Sejak pagi, Posko Induk Genting Jolinggo dipenuhi wajah-wajah letih dan mata yang bengkak. Keluarga korban berdatangan dari berbagai kota. Isak tangis pecah tiap kali satu ambulans bergerak meninggalkan lokasi.
“Tiga jenazah yang ditemukan Selasa malam sudah dibawa pulang, dua lagi siang ini,” ujar Kasi Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo.
Lima jenazah itu adalah Syifa Nadhilah dan Riska Amelia (Pemalang), M. Labib Rizqi (Pekalongan), Bima Pranawira (Gresik), dan M. Jibril Assyarofi (Jepara).
Berlian mengenang adiknya sebagai sosok pendiam, santun, dan penurut. “Di rumah dia jarang banyak bicara, tapi kalau sama teman-temannya rame. Orangnya baik, nggak neko-neko,” katanya pelan.
Ia mengaku tidak ada firasat apapun akan kecelakaan maut yang menimpa adiknya yang sudah menginjak semester 7 di UIN Walisongo. “Saya nggak nyangka telepon malam itu jadi yang terakhir.” (bud/aro)
Editor : H. Arif Riyanto