RADARMAGELANG.ID, Purworejo – Burung Murai Batu dikenal mempunyai mental pejuang yang kuat, suara merdu, dan ekor menjuntai anggun yang menambah daya tariknya.
Tak sekadar memberikan kesenangan, bagi sebagian orang hobi ini mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Salah satu sosok inspiratif yang menekuninya adalah Ferdiansyah Nurmawan, pemilik NN Farm yang berlokasi di Desa Winong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang sukses membudidayakan burung murai batu ekor panjang.
Uniknya, selain jadi peternak, Ferdiansyah juga berprofesi sebagai seorang guru.
Kecintaan Ferdiansyah pada murai bermula dari hobi sederhana.
Ia awalnya hanya memelihara murai ori Singapura sebagai burung peliharaan di rumah.
Seiring berjalannya waktu, ketertarikannya semakin besar hingga mendorongnya untuk mencoba beternak sendiri.
Perjalanan ternaknya dimulai pada tahun 2014 dengan fokus pada murai ekor pendek.
Ferdiansyah juga sempat beternak murai Borneo dan murai Jawa sekitar tahun 2017.
Namun dorongan untuk menghasilkan burung dengan kualitas lebih unggul membuatnya beralih pada 2018 ke murai ekor panjang.
Bibit pertama yang ia gunakan berasal dari Pekalongan, berupa seekor indukan betina lokal dengan panjang ekor sekitar 14 cm.
Dari indukan tersebut, lahirlah anakan yang rata-rata memiliki ekor 15–18 cm, sebuah pencapaian awal yang memberi keyakinan bahwa usahanya berpotensi berkembang lebih besar.
Ferdiansyah dikenal telaten dalam memilih dan menyilangkan indukan.
Ia bahkan pernah menghasilkan murai dengan panjang ekor 31 cm dari indukan betina berukuran 27 cm dan jantan dengan ekor 25 cm.
"Indukane boten panjang, dados pinter pintere nyelang-nyelangi," ucap Ferdiansyah.
Ada cerita menarik soal cara menjodohkan murai di NN Farm.
Ferdiansyah menerapkan sistem unik, memasukkan jantan ketika betina sedang birahi, meski terkesan nekat. Menurutnya, cara ini efektif. Namun, ia juga mengakui adanya risiko, mengingat murai lokal Indonesia dikenal memiliki sifat petarung yang rentan terhadap stres dan cepat pucat.
Menariknya, Ferdiansyah masih mengandalkan cara alami dalam proses penetasan.
Ia mengaku tidak menggunakan mesin penetas karena belum menguasai tekniknya.
Ia lebih percaya pada cara alami dari indukan, dengan proses panen rata-rata setiap 7 hari sekali.
Kini, NN Farm milik Ferdiansyah menetaskan lebih dari 50 murai batu ekor panjang, hasil kerja keras dan ketelatenan selama bertahun-tahun.
Baginya, beternak murai bukan sekadar hobi yang berkembang jadi usaha, melainkan juga bagian dari kecintaannya pada burung kicau.
Di sela kesibukannya sebagai guru, ia tetap meluangkan waktu untuk merawat, menyilangkan, dan menjaga kualitas murai-murai ternaknya.
Menariknya, di sela aktivitasnya mengurus NN Farm, Ferdiansyah juga beternak jangkrik.
Bukan tanpa alasan, karena serangga ini menjadi makanan favorit murai.
Dengan begitu, ia tidak perlu khawatir soal ketersediaan pakan, karena bisa memenuhinya sendiri dengan kualitas yang lebih segar dan terjamin.
Kisah Ferdiansyah Nurmawan adalah bukti bahwa dengan ketelatenan, hobi bisa menjadi ladang usaha yang bernilai.
Dari awalnya memelihara murai ori Singapura, kini ia mampu menghasilkan murai ekor panjang dengan kualitas yang diakui para penghobi. (mg6/aro)
Editor : H. Arif Riyanto