RADARMAGELANG.ID, Sragen - Dalam upaya mengatasi tantangan lingkungan akibat limbah peternakan dan pertanian, inovasi terbaru berbasis eco-friendly kini dikembangkan dengan memanfaatkan limbah secara terpadu.
Konsep ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga mengoptimalkan nilai tambah dari limbah yang dihasilkan.
Terkait itu mahasiswa Tim II KKN Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk kompos dan ecoenzyme dari limbah peternakan dan pertanian di Desa Pagak, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen pada Selasa, 30 Juli 2024.
Pelatihan diikuti oleh warga setempat. Terutama para petani dan ibu-ibu PKK. Program ini melibatkan penerapan teknologi ramah lingkungan dalam pengolahan limbah hasil peternakan dan pertanian.
Limbah organik seperti kotoran ternak diolah menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan kembali untuk meningkatkan kesuburan tanah.
Sementara itu, limbah pertanian dan limbah rumah tangga diolah dengan metode ecoenzyme larutan alami multifungsi.
Proses pembuatan pupuk kompos ini terbilang sangat mudah. Pertama, bahan baku seperti kotoran kambing, molases dan EM4 dicampurkan secara merata. Kotoran kambing tersebut kemudian ditutup dan didiamkan selama kurang lebih 3 minggu.
Apabila bentuk kotoran kambing sudah berubah dan tidak berbau maka pupuk kompos pun sudah jadi.
Pembuatan ecoenzyme pun tidak kalah mudah hanya dengan mencampurkan air, sisa sayuran atau buah-buahan, dan gula merah atau molase dengan perbandingan 10:3:1. Larutan ini disimpan pada wadah tertutup selama 3 bukan untuk siap digunakan.
Program ini juga mendukung penerapan sistem pertanian terpadu, di mana limbah dari sektor peternakan dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya untuk sektor pertanian, dan sebaliknya.
Dengan pendekatan ini, siklus produksi menjadi lebih efisien dan berkelanjutan, menciptakan sinergi antara sektor peternakan dan pertanian yang sebelumnya dipandang sebagai sumber masalah lingkungan.
Ulya, 21, mahasiswa KKN Undip menyampaikan bahwa inisiatif ini tidak hanya memberikan solusi untuk pengelolaan limbah, tetapi juga mendukung peningkatan produktivitas petani wanita dan ibu-ibu PKK.
"Kami berharap program ini dapat menjadi contoh kegiatan yang bermanfaat dalam mengimplementasikan pengelolaan limbah berbasis eco-friendly yang efektif," ujarnya.
Dengan dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak terkait, diharapkan pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian berbasis eco-friendly ini dapat menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan lestari.
Pelatihan tersebut disambut positif oleh warga setempat. Pengetahuan mereka bertambah mengenai pengelolaan limbah.
“Inovasi ini sangat membantu untuk mengurangi limbah peternakan dan pertanian yang biasanya hanya dibuang sembarangan dan tidak termanfaatkan,” ujar Muji, Ketua TP PKK Desa Pagak. (web/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo