RADARMAGELANG.ID, Ungaran- Angka kemiskinan di Kabupaten Semarang masih 7,17 persen atau sekitar 77 ribu orang.
Pemerintah menyiapkan anggaran untuk pengentasan kemiskinan mencapai Rp 28 miliar dan juga melalui dana desa (DD) sebanyak Rp 22 miliar.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Bapperida) Kabupaten Semarang Muhammad Muslih mengatakan, angka kemiskinan di Kabupaten Semarang sendiri masih terbilang rendah.
Pasalnya, Kabupaten Semarang peringkat kedua terendah di Jawa Tengah setelah Kabupaten Jepara.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Semarang saat ini tengah mengejar hingga mencapai 7,07 persen.
Diketahui penyumpang angka kemiskinan paling banyak yakni warga lanjut usia, warga yang malas bekerja, dan juga karena sakit serta difabilitas.
"Paling tinggi penyebab kemiskinan itu berasal dari warga yang bekerja sebagai buruh serabutan sehari-harinya. Sekitar 40 ribu dari 77 ribu warga miskin, sehingga ini diatasi dengan BLT atau bansos. Kemiskinan di wilayah kita termasuk rendah di Jawa Tengah untuk kabupaten. Tidak terlalu banyak. Kami masih berupaya terus mengentaskan kemiskinan melalui banyak sektor,"jelasnya.
Muslih menerangkan, upaya yang dilakukan melalui bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan sosial (bansos), pelatihan kerja hingga beasiswa bagi pelajar.
Selain itu, terdapat juga pemberdayaan UMKM yang bisa mengangkat perekonomian di Kabupaten Semarang.
Disnaker juga setiap tahunnya melatih 1.000 calon tenaga kerja, apalagi di Kabupaten Semarang banyak sekali industri dan investor.
Dalam hal penanganan memang harus dilakukan berdasarkan kategori dan penyebab kemiskinan, sehingga pemerintah bisa mengintervensi sesuai persoalan yang dialami warga.
"Kita lihat dan analisis kenapa bisa masuk kategori miskin. Misalnya miskin karena menganggur, ya diberi pelatihan kerja agar bisa bekerja di industri atau bekerja mandiri,"katanya. (ria/aro)
Editor : H. Arif Riyanto