Menyusuri Pasar Tukangan Kota Magelang, Pasar di Dalam Gang yang Terus Bertahan

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 12:16 WIB
Pasar Tukangan Jalan Pajajaran, Kemirirejo, Magelang Tengah, Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Pasar Tukangan Jalan Pajajaran, Kemirirejo, Magelang Tengah, Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang-Pasar Tukangan terselip di sebuah gang sempit di Jalan Pajajaran, Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.

Letaknya berdekatan dengan tempat pembuatan langsung jajanan jadul seperti kue moho dan tong topyah.

Dari luar nyaris tak terlihat, tetapi di dalam gang ini para pedagang menggelar dagangan setiap hari.

Para pedagang di Pasar Tukangan Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Para pedagang di Pasar Tukangan Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

Mungki, warga Tukangan Kulon mengisahkan pasar ini mulai ramai sekitar 1980-an.

Pedagang yang dulu berjualan di sepanjang Jalan Pajajaran digusur Satpol PP.

Warga awalnya keberatan, tetapi rembuk kampung akhirnya mempersilakan mereka berjualan dengan syarat libur bila ada pemilu, hajatan, atau warga yang meninggal.

Sebagian besar pedagang bukan warga sekitar, melainkan pendatang dari wilayah Kabupaten Magelang.

Soal biaya, pedagang tidak dibebani sewa.

"Kalau sewa nggak ada. Cuma bayar sapon buat petugas kebersihan," ujarnya.

Besarannya tentatif, sekitar Rp2.000 hingga Rp2.500 per hari.

Pasar buka tiap hari dan hanya libur tiga sampai empat hari saat Lebaran.

Moho, salah satu kue legend yang dijual di Pasar Tukangan Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Moho, salah satu kue legend yang dijual di Pasar Tukangan Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

Keramaian terjadi pagi hari, sekitar pukul enam hingga sepuluh.

Dagangannya beragam, mulai dari sayuran, daging sapi dan ayam, daging babi, katak, hingga jajanan pasar.

Penjual babi kini tinggal tiga tempat.

Pembelinya pun kebanyakan orang luar kampung.

"Ini terkenalnya kan pasar Chinese," tutur Mungki, karena pembelinya banyak dari komunitas Tionghoa.

Pasar ini memang tak seramai dulu.

"Dulu jam tujuh, jam delapan mau jalan aja susah, senggol-senggolan. Sekarang kosong," kenangnya.

Ia menyebut kondisi ekonomi dan belanja daring sebagai penyebab, ditambah minimnya regenerasi pedagang.

Meski begitu, pasar ini tetap bertahan berkat ciri khasnya.

Kualitas barang dinilai bagus meski harga lebih mahal dibanding pasar besar.

Daya tarik utamanya adalah jajan pasar yang dititipkan ke penjual tenongan.

"Jajan pasarnya itu yang nggak ada yang nyamain," kata Mungki.

Bentuknya sama dengan pasar lain, tetapi rasanya berbeda. 

Tong Topyah, kue tradisional lagend yang ada di Pasar Tukangan Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Tong Topyah, kue tradisional lagend yang ada di Pasar Tukangan Kota Magelang. (SILFIA AMANDA PUTRI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

Moho, tong topyah, mendut, dan jadah bakar masih bisa ditemukan, sedangkan buntil dan roti motor sudah berhenti dijual.

Bagi pengunjung, pasar ini lebih dari sekadar tempat belanja.

Handayani, 75, perantau asal Magelang yang kini tinggal di Jogjakarta sering datang untuk bernostalgia.

"Yang membuat istimewa dari pasar ini karena kenangannya, saya sering jajan di sini waktu kecil, yang mengingatkan saya dengan Magelang, karena sudah terpisahkan dari Magelang selama 60 tahun," ucapnya.

Di gang sempit ini, cita rasa dan kenangan masih terjaga. (mg2/mg6)

 

Editor : H. Arif Riyanto
Pasar Tukangan tong topyah gang sempit kue moho Kota Magelang