Komunitas Literasi Universitas Balakarta Temanggung: Buka Panggung Belajar untuk Semua Kalangan

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:44 WIB
Anggota komunitas usai mengadakan kegiatan di sanggarnya. (Istimewa)
Anggota komunitas usai mengadakan kegiatan di sanggarnya. (Istimewa)  

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Resah dengan pendidikan yang terkesan memberikan jarak dengan masyarakat, sekelompok pemuda Temanggung mendirikan komunitas literasi bernama “Universitas Balakarta.”Artinya ruang belajar independen bebas biaya.

Komunitas ini berdiri 23 Mei 2023. Digagas oleh Khoirul Atfifudin, Daffit Nur Mutaqin, Fatih Mahmud Al Hakim. Tujuannya, menghadirkan pendidikan yang kontekstual dan inklusif.

”Karena kami ingin menghadirkan pendidikan yang kontekstual. Kami meyakini bahwa pendidikan yang selama ini terjadi di kampus dan sekolah yang basisnya formal cenderung memisahkan jarak dengan masyarakat, terlalu di menara gading, bahasa kami,”ungkap Khoirul Atfifudin ketika ditemui Sabtu (5/9/2026).

Bagi dia, komunitas Universitas Balakarta merupakan bentuk tanggung jawab moral kepada tanah kelahirannya.

Saat ini komunitas dikelola 8 pengurus. Sejak awal tahun 2026 berkomitmen untuk terus melibatkan perempuan di dalam setiap kegiatannya. 

“Selama ini kan perempuan selalu dipinggirkan, sering tidak mendapatkan tempat, tapi di Balakarta kita coba mendatangkan itu. Maka di setiap agenda Balakarta kita sudah berkomitmen bahwa harus ada perempuan. Baik itu menjadi moderator atau pemateri,”imbuhnya.

Kehadiran ruang belajar yang inklusif ini juga memberikan kesan tersendiri bagi anggota dan partisipan yang bergabung dalam komunitas tersebut.

Salah satunya adalah Azizzah Azmi Milani yang merupakan anggota perempuan di komunitas Universitas Balakarta. 

Ia senang dapat bergabung dalam komunitas, karena dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya.

“Seru, seru banget. Itu adalah pengalaman yang tidak bisa dilupakan karena sebelumnya saya belum pernah bergabung dalam komunitas seperti ini. Setelah saya pindah ke Temanggung, melihat ini merupakan kegiatan yang positif,” cerita Azizzah Azmi Milani. 

Meskipun didominasi oleh generasi Z dengan rentang usia 16-30 tahun, komunitas ini juga merangkul lintas generasi, seperti milenial dan boomer.  

Biasanya kegiatan kuliah tongkrongan dilakukan di berbagai tempat ngopi di Temanggung. 

Namun sejak tahun 2025 komunitas memiliki sanggar fisik yang berada di Desa Salamsari, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Tak hanya menjadi ruang diskusi anak muda tetapi juga dimanfaatkan oleh kelompok wanita tani hingga karang taruna setempat. 

Setelah memiliki sanggar banyak pemuda dari Magelang, Temanggung, Wonosobo, Jogja,  Pemalang, Jakarta, Bandung bahkan Lombok juga ikut bergabung dalam komunitas ini.

Sanggar belajar komunitas Universitas Balakarta di Desa Salamsari, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. (Silfia Amanda Putri/Jawa Pos Radar Magelang).
Sanggar belajar komunitas Universitas Balakarta di Desa Salamsari, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. (Silfia Amanda Putri/Jawa Pos Radar Magelang).

 

Komunitas Universitas Balakarta, memiliki kegiatan yang rutin. Yakni kuliah tongkrongan, kuliah pakar, workshop, Balakarta run, dan dies natalis. 

Kuliah tongkrongan merupakan kegiatan diskusi tentang topik tertentu secara santai dan siapapun dapat mengutarakan pendapat di dalamnya.

“Kuliah tongkrongan itu kita nongkrong tapi bahas topik tertentu jadi siapapun berhak untuk gabung,”imbuhnya. 

Kuliah pakar merupakan forum diskusi yang diisi oleh pembicara yang ahli di bidangnya.

Menurutnya, kuliah tongkrongan dapat diisi oleh siapa saja. Yang penting berani dan mau berbicara. Sedangkan kuliah pakar harus diisi narasumber yang memang pakar di bidangnya. 

Menariknya, di komunitas Universitas Balakarta ini tidak hanya orang yang memiliki gelar yang disebut pakar. Orang dengan  keahlian dan pengalaman di bidangnya juga dikatakan sebagai pakar.

Hingga saat ini komunitas “Universitas Balakarta” telah menggelar lebih dari 20 kuliah pakar dan 40 kali kuliah tongkrongan, dengan berbagai narasumber.

Mulai dari owner Pasar Papringan, bedah buku Reset Indonesia, hingga Fstvlst. (silfia amanda putri/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
universitas balakarta komunitas literasi tongkrongan pakar