RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Gunung Andong, dengan ketinggian 1.726 mdpl kerap dianggap sebelah mata. Dicap sebagai "gunung pemula".
Namun, simpan dulu anggapan tersebut sebelum mendaki Gunung Andong via Temu Kidul. Jalur yang berada di kawasan Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang ini menyajikan impresi yang berbeda dari rute Gunung Andong lainnya.
Pengelola basecamp Temu Kidul, Wahid, menegaskan jalur ini menawarkan tantangan tersendiri bagi para pendaki.
"Jangan remehkan Andong lewat Temu Kidul. Tidak semua Andong seperti jalur yang lain," ujar Wahid saat ditemui di lokasi.
Selama ini, jalur Pendem dan Sawit memang menjadi primadona bagi sebagian besar pendaki.
Karakter jalurnya cenderung ramai dan relatif landai dibanding jalur lainnya sehingga bersahabat bagi orang yang baru pertama kali naik gunung.
Sebaliknya, jalur Temu Kidul justru menyimpan daya tarik tersendiri melalui trek yang lebih terjal dan lebih panjang.
Jalur yang tergolong baru dibanding jalur-jalur lainnya. Sejak pertama kali dibuka pada Desember 2025, jumlah pengunjung tercatat mencapai lebih dari 5 ribu orang.
Jalur Temu Kidul sendiri menuntut ketahanan fisik serta kehati-hatian dari para pendaki.
"Kalau lewat sini untuk treknya lebih terjal dan lebih panjang dibandingkan yang lain, tetapi untuk view-nya lebih dapat," jelas Wahid.
Di balik terjalnya medan, ada panorama memukau yang tidak dimiliki oleh jalur lainnya. Momen indah tersebut mulai terasa begitu pendaki berhasil melewati pos 3.
Pada spot ini, medan yang tadinya dipayungi pepohonan rimbun mendadak berubah menjadi area terbuka.
Deretan bebatuan besar berdiri gagah menyerupai gerbang alami menuju puncak.
Dari area bebatuan tersebut, pemandangan Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran terpampang jelas di kejauhan. Lanskap inilah yang selalu berhasil membayar tuntas rasa lelah selama perjalanan.
Pengalaman melintasi rute unik ini turut dirasakan oleh salah seorang pendaki, Alfarel. Ia merasa kombinasi rute Temu Kidul memberikan sensasi pendakian yang sangat berkesan.
"Jalur Temu Kidul ini punya beberapa titik yang cukup curam seperti geger boyo jadi perlu tenaga ekstra dan kehati-hatian. View-nya juga bahkan mengingatkan saya pada Gunung Merbabu karena jalur punggungannya yang memanjakan mata. Buat saya, jalur Temu Kidul menawarkan kombinasi trek yang sangat bervariasi," tuturnya.
Lantaran karakternya yang cukup curam di area punggungan, persiapan matang sangat dibutuhkan sebelum menjajal rute ini. Penggunaan alas kaki pun tidak boleh sembarangan.
Untuk mendukung keamanan para pendaki, pengelola basecamp menyediakan pinjaman perlengkapan khusus di pos pendaftaran.
Selain peralatan standar, kondisi fisik prima serta jas hujan merupakan keharusan sebelum mendaki.
Satu imbauan penting yang selalu ditekankan pengelola adalah larangan mendaki dalam keadaan perut kosong.
Menurut pengelola, insiden yang paling sering terjadi bukanlah kecelakaan berat, melainkan pendaki yang lemas atau drop akibat belum sarapan sebelum naik.
Sejauh ini, rute Temu Kidul tergolong aman dan belum pernah mencatatkan kasus pendaki hilang maupun kecelakaan fatal.
Meski demikian, tim evakuasi basecamp selalu bersiaga penuh untuk menjemput pendaki yang mengalami kendala fisik di tengah rute.
Bagi wisatawan yang membawa keluarga, jalur Temu Kidul tetap terbuka untuk anak-anak, dengan syarat wajib didampingi orang tua.
Namun, pengelola menyarankan agar pendaki anak-anak cukup melangkah hingga area bebatuan di pos 3.
Anjuran tersebut diberikan mengingat medan dari pos 3 menuju puncak dirasa sebagai bagian paling berat dari keseluruhan trek Temu Kidul.
Batas pos 3 dinilai sudah cukup memberikan pengalaman mendaki yang mengesankan tanpa memicu risiko berlebih bagi anak-anak.
Sisi menarik lain dari Temu Kidul adalah ketegasan dalam menjaga kebersihan lingkungan gunung.
Berbeda dengan rute lain, jalur pendakian Temu Kidul melarang warung di sepanjang rute menuju puncak.
Pedagang hanya diizinkan beroperasi di kawasan perbatasan dan di area puncak. Kebijakan ini diterapkan demi menekan potensi timbulnya sampah sekaligus menjaga keasrian alam sekitar.
Selain menerapkan aturan kebersihan yang ketat, pengelolaan basecamp Temu Kidul dilakukan secara penuh oleh warga dan pemuda setempat tanpa campur tangan pemerintah.
Hal ini membuktikan kemandirian masyarakat lokal dalam mengelola potensi wisata di daerahnya.
Bagi pendaki dari luar kota yang ingin beristirahat, rumah-rumah warga disulap menjadi tempat singgah bagi para pendaki.
Fasilitas pendukung seperti warung, musala, dan akses internet pun disediakan untuk menunjang kenyamanan para pengunjung.
Terkait biaya masuk, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp15.000 saja.
Meskipun pengelolaannya sudah berjalan baik, pengelola Temu Kidul menyadari masih ada pekerjaan rumah yang perlu dibenahi.
Contohnya penataan lokasi loket pendaftaran serta perluasan area parkir yang saat ini masih terpisah-pisah dan masih berupa tanah.
Dengan estimasi waktu tempuh normal sekitar dua hingga empat jam, jalur indah dengan tiga pos ini menawarkan kepuasan tersendiri.
Bagi para pendaki, tantangan trek Temu Kidul serta panorama dari balik bebatuan jelas menjadi imbalan yang sangat sepadan. (lazuardi rafi alif adani/muhammad bintang pamungkas/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo